18 November 2010

ATL Gelar Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara VII


Jakarta, Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) menggelar seminar internasional Tradisi Lisan Nusantara VII pada 19-22 Nopember 2010 di Pangkalpinang, Bangka Belitung. Semakin terpinggirkannya tradisi lisan, menjadi alasan seminar internasional ini rutin diadakan dua tahun sekali.


Sebagai produk kultural, tradisi bukanlah sesuatu yang statis tanpa perubahan dan perkembangan. Tradisi selalu mengalami transformasi isi dan bentuk, yang lebih cocok dengan situasi, kondisi dan minat yang berlaku.

Demikian dikemukakan Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, yang juga penanggung jawab seminar internasional Tradisi Lisan Nusantara VII yang akan di gelar pada tanggal 19-22 Nopember 2010 di Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Untuk menyelamatkan tradisi lisan ini, ATL hingga tahun 2014 sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia, membuka Program Kajian Tradisi Lisan (KTL), bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas, yakni di Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara, Universitas Gajah Mada, dan Universitas Andalas.

Menurut Pudentia, kajian ini menjadi penting karena sudah saatnya dunia ilmu pengetahuan mulai memanfaatkan sumber dari tradisi lisan, tidak hanya menggunakan sumber yang berasal dari tulisan dan tercetak seperti yang selama ini dilakukan.

Dalam seminar lisan itu nanti juga diadakan Festival Tradisi Lisan 2010, bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Bangka Belitung.

Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Belitung, Yan Megawandi, dengan adanya seminar ini masyarakat semakin menyadari pentingnya tradisi lisan ini mengingat tradisi lisan juga sebagai diplomasi budaya yang kelak akan menjadi kebangaan milik bangsa.

Seminar bertema "Potensi Keragaman Tradisi Lisan dalam Menciptakan Keharmonisan Kehidupan Masa Depan" itu diantaranya menghadirkan Wamendiknas Fasli Djalal, serta puluhan makalah dari pakar tradisi luar negeri yang akan dibahas yakni dari Belanda, Swiss, Malaysia. Disamping juga ada lebih 550 etnis dan 780-an bahasa daerah yang tersebar di wilayah Indonesia yang juga melengkapi keragaman tradisi lisan. (Besty Simatupang/DS)
Sumber:http://www.pro3rri.com/

1 komentar:

Anonim mengatakan...

I seldom leave comments on blog, but I have been to this post which was recommend by my friend, lots of valuable details, thanks again.