13 November 2009

Cerita Antu Banyu


/Linny Oktovianny/
ADA suatu mitos yang sangat populer di tengah masyarakat Sumatera Selatan, yaitu cerita mengenai Antu Banyu. Cerita Antu Banyu ini begitu terkenal di tengah masyarakat pendukungnya karena cerita ini begitu melekat sejak lama dan diwarisi oleh pewaris aktifnya secara turun-temurun intergenerasi bahkan antargenerasi.
Jika ada seorang anak kecil sering atau suka bermain di sungai dalam jangka waktu yang lama, biasanya akan ditegur oleh orang tua, kerabat, dan sebagainya dengan mengatakan “Jangan galak main di sungi Musi (nama sungai di Sumatera Selatan), gek ado antu banyu!” (bahasa Melayu Palembang dan Musi), Dang galak mido di way Selabung (nama sungai di Muara Dua) tulik dikanik hantu lawok!” (bahasa Daya) atau “Jangan galak mandi di ayik Lintang (nama sungai di daerah Empat Lawang), kelo dipaju antu ayik!“ (bahasa Lintang)
Nama hantu yang biasa hidup di air ini, di Sumatera Selatan dikenal dengan nama yang bermacam-macam. Masyarakat Komering mengenalnya dengan nama Antu Anyar, masyarakat Lintang mengenalnya dengan nama Antu Ayek atau dengan nama lain Selingkup, dan masyarakat Muara Dua mengenal jenis hantu ini dengan sebutan Hantu Lawok, dan masyarakat Melayu Palembang atau Musi mengenalnya dengan nama Antu Banyu. Apa pun namanya, jenis hantu ini habitat hidupnya di air dengan karakter tersendiri di tengah masyarakat pendukungnya.
Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa hantu jenis ini memiliki versi dan varian. Masyarakat Sumatera Selatan secara geografis memiliki banyak sungai memungkinkan cerita ini berkembang dengan pesat melampaui batas ruang dan waktu. Wajar saja, seolah-olah di tengah masyarakat Sumatera Selatan kemasyuran hantu yang hidup di air ini begitu melekat dan “membumi”. Kehadiran cerita Antu Banyu ini menimbulkan nuansa tersendiri bagi masyarakat, terutama masyarakat yang hidupnya di sungai-sungai atau di daerah laut yang ada di Sumatera Selatan. Percaya atau tidak, hampir semua daerah di Sumatera Selatan mengenal mitos mengenai hantu yang hidupnya di air ini.
Menurut Bascom dalam Danandjaja (2002:50) mitos atau mite merupakan cerita rakyat dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Biasanya mitos ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa solah-olah terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. Folk atau kolektif masyarakat menentukan bahwa cerita hantu yang hidup di air ini termasuk dalam kategori mitos sebab folk pemilik atau pendukung cerita ini begitu melekat dan “membumi” di tengah masyarakat yang “hidupnya” dilingkupi sungai atau laut. Selain itu, menurut Bascom bahwa karakteristik mite atau mitos dapat diketahui dari bentuk topografi, bentuk khas, berikut petualangannya.
Antu Banyu memiliki karakteristik berambut panjang dan keras, rambutnya seperti satang (buluh yang panjang) karena itu apabila rambut ini sudah berada diatas kapal, perahu, sampan atau ketek biasanya perahu atau kapal atau ketek tersebut akan karam. Selain rambut tersebut berat juga tajam karena itu kalau antu banyu telah meletakkan rambutnya yang panjang tersebut ke atas kapal atau sampan maupun ketek biasanya penghuninya akan menjadi “santapannya”. Kemudian mangsanya akan ditemukan oleh penduduk setempat dalam keadaan terapung dengan ubun-ubuh atau punggung sum-sum tulang belakang dalam keadaan bolong. Konon, antu banyu sangat menggemari wilayah ubun-ubun kepala dan bagian sum-sum tulang belakang manusia.
Hantu banyu yang memiliki habitat hidup di air biasanya menghuni gua-gua yang ada di sepanjang sungai dan lorong-lorong atau pusaran yang ada di dalam sungai dan di waktu-waktu tertentu akan memangsa korbannya. Caranya memangsa korban pun dengan cara menaikkan rambutnya ke perahu atau ketek, saat penghuni ketek kewalahan perahu atau keteknya akan karam, saat itu juga sang antu banyu akan memangsa korbannya. Karena berambut panjang, disinyalir hantu banyu ini berjenis kelamin laki-laki(?). Biasanya antu banyu sangat selektif memangsa korbanya, antara lain pendatang baru di daerah tersebut, anak-anak, atau juga remaja berusia akil baliq.
Mitos mengenai antu banyu ini berdasarkan tempat asalnya (hidup di air atau sungai Sumatera Selatan), sepertinya merupakan mitos asli Sumatera Selatan (Indonesia) bukan berasal dari luar negeri, terutama dari India, Arab, dan sekitar Laut Tengah yang umumnya telah mengalami pengolahan lebih lanjut. Hal ini disebabkan mereka telah mengalami yang oleh Robert Redf√≠ et. Al. disebut sebagai proses adaptasi (adaptation). Walaupun tidak dipungkiri bahwa di negara lain juga punya kepercayaan atau mitos mengenai hantu yang hidup di air ini, seperti Inggris, Jepang, Thailand, dan Cina. Namun, cerita antu banyu yang hidup di Sumatera Selatan (Indonesia) punya versi dan karakteristik yang berbeda. Cerita antu banyu yang terkenal di Sumatera Selatan tidak terlepas dari struktur dan historis Sumatera Selatan yang memiliki banyak wilayah perairan. Tidak berlebihan jika dikenal dengan sebutan “Negeri Batanghari Sembilan” (Negeri sembilan Sungai, yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan. Untuk mengetahui keterkaitan suatu mitos dari satu negara perlu melakukan studi komparatif dengan cara membandingkan versi atau varian cerita tersebut. Namun, sangatlah sulit karena memakan waktu yang tidak singkat. Menurut Danandjaja, pada dasarnya jika ada kesamaan antara cerita dengan cerita yang lain biasanya ada dua kemungkinan yang melatarbelakanginya, yaitu (1) monogenesis: suatu penemuan yang diikuti proses difusi (diffusion) atau penyebaran, (2) sebagai akibat poligenesis, yang disebabkan oleh penemuan-penemuan yang sendiri (independent invention) atau sejajar (parallel invention) dari motif-motif cerita yang sama, di tempat-tempat yang berlainan serta dalam masa yang berlainan atau bersamaan.
Teori-teori yang tergolong monogenesis, antara lain teori Grimm bersaudara, teori mitologi matahari Max Muller, dan teori Indianist Theodore Benfley. Ahli-ahli dongeng Jerman, seperti Yacob dan Wilhelm Grimm yang hidup dalam abab ke-19 M, walaupun mengakui adanya kemungkinan itu, namun lebih menekankan pada difusi (monogenesis) sebagai penyebab adanya kesejajaran itu. Pendapat kedua bersaudara itu dianut kebanyakan ahli foklor di dunia.
Cerita mengenai antu banyu ini demikian menarik untuk dibahas maupun diperbincangkan. Cerita mengenai hantu yang hidupnya di air ini bukan hanya dianggap sekedar meneguhkan kebenaran tahayul atau kepercayaan masyarakat kolektifnya. Niscaya, cerita mengenai hantu ini berguna bagi kolektifnya, setidak-tidaknya dapat mengajarkan kepada kita agar disiplin dalam menggunakan waktu dan mengharmoniskan kita dalam mengasihi anak-anak. Bagaimana bisa? Orang yang berlama-lama di air tanpa ada pekerjaan biasanya tidak efisien dalam menggunakan waktu dan orang tua harus memperhatikan anak-anaknya agar tidak lama berada di sungai. Jika tidak, hantu yang kerap kali berada di air ini siap memangsa Anda!

Tidak ada komentar: