10 Oktober 2008

SEMINAR INTERNASIONAL DAN FESTIVAL TRADISI LISAN NUSANTARA VI

LISAN VI

1.Latar Belakang
Salah satu kekayaan kultural masyarakat Indonesia sebagaimana sering diungkapkan orang, adalah apa yang biasa disebut intangible cultural heritage (ICH). Salah satu perwujudan ICH yang penting untuk diperhatikan adalah tradisi lisan. Sebagai produk kultural, tradisi lisan mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, yang disampaikan melalui tuturan dan sebagiannya ada yang kemudian diabadikan dalam naskah.
Sebagai produk kultural pula, tradisi bukanlah sesuatu yang statis tanpa perubahan dan perkembangan. Tradisi selalu mengalami transformasi seiring dengan dinamika sosial masyarakat itu sendiri, baik transformasi isi, bentuk, maupun keduanya dan berganti dengan tradisi yang baru yang dirasakan oleh masyarakatnya lebih cocok dengan situasi, kondisi , dan minat yang berlaku.

08 Oktober 2008

CERITA I DARAMATASIA SEBAGAI MEDIA AJARAN MORAL BAGI MASYARAKAT BUGIS DI SULAWESI SELATAN

Oleh
DRA. DAFIRAH, M.HUM
Cerita I Daramatasia adalah salah satu cerita rakyat lisan yang ada di tengah-tengah masyarakat Sulawesi-Selatan. Cerita ini masih hidup hingga sekarang apalagi di daerah pelosok. Karya ini merupakan tergolong dalam cerita rakyata yang berbentuk Legenda keagamaan yaitu legenda mengenai orang-orang beriman.
Cerita Daramatasia di sosialisasikan ke dalam masyarakat Bugis melalui tuturan. Penuturan dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan dihadiri atau didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka. Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.

14 Agustus 2008

Festival: Nara and Kunama Oral Traditions Hosted for the First Time


Simon Mesfun , Aug 9, 2008


Nara and Kunama ethnic groups’ oral tradition was hosted at Expo Hall at the National Festival 2008 today Saturday 9, 2008. Oral tradition of the two ethnic groups was presented for the first time since the start of the oral traditions presentation in the National Festival in 2004.

Two senior oral tradition professionals from each ethnic group along with others presented their respective oral traditions to a large number of participants.

Pepaosan

Tradisi Lisan Masyarakat Lombok
Tembang merdu lantunan Purnifah memecah gumpalan kabut dan menghangatkan tubuh dari cengkraman dinginnya malam yang menyelimuti Sembalun Bumbung, desa hijau di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Larik demi larik, dadanggula, sinom, dan pangkur terus berlanjut syahdu. Alunannya semakin malam kian memukau penonton; mereka terlena, hanyut dalam cengkukan-cengkukan guru lagu cerita “Jatiswara”.

05 Juli 2008

ASOSIASI TRADISI LISAN (ATL) or ORAL TRADITIONS ASSOCIATION




Background
ATL actually started from a project named Proyek Tradisi Lisan Nusantara (PLTN) or Indonesian Oral Traditions Project (OTP) in 1992. It was a collaborative work between the Dutch and the Indonesian governments with the support of The Ford Foundation, whose goal was to publicize and publish texts which were the outcome of oral traditions transcription. The project advanced, and three approaches were developed, i.e. science, documentation, and publication or performance.

01 Juli 2008

Mencermati Tradisi Lisan Dayak

Oleh Yohanes Supriyadi

Tradisi lisan adalah cerita dan non cerita yang dituturkan secara langsung oleh nenek moyang suku Dayak secara turun temurun. Tradisi lisan ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat Dayak, sebab dari tradisi lisan inilah dapat diketahui pemikiran, sikap, dan perilaku masyarakat Dayak. Selain itu dalam tradisi lisan ini mengandung filsafat, etika, moral, estetika, sejarah, seperangkat aturan adat, ajaran-ajaran agama asli Dayak, ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, serta hiburan rakyat. Bagi suku Dayak tradisi lisan menghubungkan generasi masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.

29 Juni 2008

Sistem Multimedia dan Keberaksaraan

Oleh Riri Satria
Mana yang lebih disenangi? Membaca berita atau ulasan politik melalui surat kabar atau menonton talk show politik di televisi? Membaca novel atau menonton film? Jika ingin mengemukakan pendapat atau opini, jalan manakah yang akan pilih, menuliskan opini di media atau berkampanye bicara di sana sini? Jika Anda memilih membaca surat kabar atau novel, serta menulis opini, maka beruntunglah Anda karena sudah termasuk golongan masyarakat yang memiliki tradisi tulis atau beraksara.