<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958</id><updated>2012-02-16T17:32:41.453+07:00</updated><category term='Info'/><category term='Artikel'/><category term='Profil'/><category term='Informasi'/><category term='Feature'/><category term='/Esai/'/><category term='News'/><category term='Berita'/><category term='Ucapan/adv'/><category term='/Liputan/'/><title type='text'>Tradisi Lisan</title><subtitle type='html'>dari suara-suara masa lalu 
mengungkap misteri kearifan lokal</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-7424452880588401603</id><published>2011-10-06T22:16:00.000+07:00</published><updated>2011-10-06T22:16:07.760+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Ratifikasi Konvensi UNESCO 2005</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;JAKARTA, KOMPAS.com &lt;/a&gt;- &lt;/strong&gt;Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengadakan seminar bertema Perlindungan Warisan Budaya Takbenda dan Keanekaragaman Ekspresi Budaya.&amp;nbsp;Seminar selama dua hari, yaitu 5-6 Oktober, selain membahas upaya perlindungan warisan budaya takbenda, juga membahas rencana Indonesia untuk meratifikasi konvensi UNESCO tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Konvensi itu berisi   tentang Proteksi dan Promosi Keanekaragaman Ekspresi Budaya&amp;nbsp;(Convention on the Protection and promotion of the Diversity of Cultural Expressions).&lt;br /&gt;Tujuan seminar ini adalah agar pemerintah mendapatkan masukan akan manfaat dan kewajiban yang harus dijalani, seandainya Indonesia meratifikasi  konvensi UNESCO 2005.&lt;br /&gt;Pertemuan tersebut diikuti 30 peserta dari para&amp;nbsp;pemangku kepentingan&amp;nbsp; yang terkait dengan pelestarian budaya.&lt;br /&gt;Narasumber seminar dari berbagai negara, yaitu antara lain (dari Indonesia) Gaura Mancacaritadipura, Prof Sri Hastanto, Prof Dr Agus Sardjono, Prof Dr Aman Wirakartakusumah; (dari Cina) Mr Yang Zhi;&amp;nbsp;&amp;nbsp;(dari Korea) Dr Seong-Yong Park; (dari Vietnam) Dr Le Thi Minh Ly; (dari Australia) Prof Dr Amaneswar Galla; dan dari Jepang Michi Tomioka, MA.&lt;br /&gt;Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni dan Film, Drs Ukus Kuswara, mengatakan, strategi pemerintah pusat dalam pelestarian dan perlindungan kebudayaan dilakukan dengan dua strategi, yaitu dengan daya budi dan budidaya.&lt;br /&gt;Daya budi yang dimaksud adalah  mendayabudikan jati diri, budi pekerti, dan karakter bangsa. Sedangkan budidaya adalah membudidayakan ruang ekspresi budaya yang ada, memberikan manfaat budaya bagi masyarakat dan meningkatkan ekonomi kreatif berbasis budaya.&lt;br /&gt;"Strategi ini difokuskan ke daerah-daerah perbatasan di Indonesia, daerah rawan konflik, dan daerah yang kehidupan perekonomiannya lemah," kata Ukus.&lt;br /&gt;Salah satu hal yang menarik dalam seminar ini adalah akan dibahasnya, persoalan Hak Kekayaan Intelektual dalam pengelolaan aset budaya.&lt;span style="font-size: xx-small;"&gt;/sumber:www.kompas.com/ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-7424452880588401603?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/7424452880588401603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=7424452880588401603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/7424452880588401603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/7424452880588401603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2011/10/ratifikasi-konvensi-unesco-2005.html' title='Ratifikasi Konvensi UNESCO 2005'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-1698698996851636822</id><published>2011-09-10T22:36:00.000+07:00</published><updated>2011-09-10T22:36:09.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Gubernur Sultra: Tembak Ditempat Pelaku Anarkisme</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-S9ql9biPa_Q/TmuDmx36eiI/AAAAAAAAAK0/gNJ2qhmcwiE/s1600/Gubernur+Sultra.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://3.bp.blogspot.com/-S9ql9biPa_Q/TmuDmx36eiI/AAAAAAAAAK0/gNJ2qhmcwiE/s200/Gubernur+Sultra.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alammenegaskan, sebagai kepala daerah ia bisa mengeluarkan instruksi tembakdi tempat bagi pelaku anarkisme. Soalnya ulah mereka bisa merusak citradan nama daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Saya dan seluruh unsur Muspida telah bertekad untuk bertindak tegaskepada pelaku anarkisme, bahkan melalui instruksi bisa dilakukan tembakditempat bagi pelaku," kata Nur Alam saat menutup "WorkshopInternasional Celebrating Diversity, Living Harmony" di Kendari, Sabtu(10/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur kesal terjadi pertikaian pada Kamis (8/9) malam yang menewaskan duamahasiswa Universitas Haluoleo. Apalagi peristiwa itu terjadi tak lamasetelah Deklarasi Kendari dibacakan. Nur memastikan, keributan itumurni kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur menegaskan, operasi-operasi terus dilakukan sehingga tidak terulanglagi kejadian yang mencoreng citra lembaga akademik tersebut. Dia jugamenyatakan perang kepada siapapun yang mencoba-coba bertindakanarkhisme dan menjadikan peristiwa itu seolah-olah sebagai konflikSARA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa yang menimbulkan korban jiwa itu terjadi bersamaan denganpenyelenggaraan Workshop internasional Celebrating Diversity yangdigelar Asosiasi Tradisi Lisan bekerja sama dengan Unhalu, Unesco danPemerintah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya, even internasional itu merupakan momentum historikal bagiUnhalu dan Pemprov Sulawesi Tenggara karena berupa even internasionaldan masih dalam suasana dies natalies ke 30 Unhalu serta Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seminar sudah berjalan lancar meskipun sedikit ada gangguan," tambahnya.(Ant/ICH)&lt;br /&gt;					&lt;br /&gt;					Sumber: &lt;a href="http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/09/10/64303/Gubernur-Sultra-Tembak-Ditempat-Pelaku-Anarkisme"&gt;Metrotvnews.com &lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-1698698996851636822?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/1698698996851636822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=1698698996851636822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1698698996851636822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1698698996851636822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2011/09/gubernur-sultra-tembak-ditempat-pelaku.html' title='Gubernur Sultra: Tembak Ditempat Pelaku Anarkisme'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-S9ql9biPa_Q/TmuDmx36eiI/AAAAAAAAAK0/gNJ2qhmcwiE/s72-c/Gubernur+Sultra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5078729547698626945</id><published>2011-09-10T06:30:00.005+07:00</published><updated>2011-09-18T14:27:43.577+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Dr. Pudentia MPSS: Ratusan Bahasa Daerah Terancam Punah</title><content type='html'>&lt;b&gt;KENDARI, KOMPAS.com&lt;/b&gt; - Ratusan bahasa daerah di nusantara terancam punah karena sudah semakin jarang digunakan. Perlu ada upaya penyelamatan jika kekayaan budaya bangsa itu ingin dipertahan&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-SAxFwB0ZA4I/TmqjZNb0sMI/AAAAAAAAAKw/r7pp_S5Eby4/s1600/IMG_2374.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650508335988125890" src="http://1.bp.blogspot.com/-SAxFwB0ZA4I/TmqjZNb0sMI/AAAAAAAAAKw/r7pp_S5Eby4/s320/IMG_2374.JPG" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;kan.&lt;br /&gt;Hal itu dikemukakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pudentia MPSS di sela-sela lokakarya internasional "Celebrating Diversity" yang digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (8/9/2011).&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Banyak bahasa daerah yang terancam punah jika tidak segera dilakukan upaya penyelamatan dengan berbagai cara, salah satunya pendokumentasian," katanya.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, Indonesia memiliki lebih kurang 700 bahasa daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Namun, dari jumlah itu, hanya sembilan yang memiliki sistem aksara, yakni Aceh, Batak, Lampung, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Sunda, dan Sasak.&lt;br /&gt;"Sisanya hanya diturunkan melalui tradisi lisan. Inilah yang perlu dikaji lebih jauh dan didokumentasikan agar tidak hilang," katanya.&lt;br /&gt;Saat ini, Asosiasi Tradisi Lisan sedang melakukan program kajian langka untuk mencetak ahli-ahli dalam rangka penelitian dan penyelamatan bahasa-bahasa daerah itu. Mereka terdiri dari berbagai disiplin ilmu, di antaranya antropologi, linguis, sastra, dan arkeologi.&lt;br /&gt;"Kami targetkan dalam waktu lima tahun kita sudah bisa mencetak lebih dari 200 ahli," kata Pudentia.          &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-5078729547698626945?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='enclosure' type='' href='http://oase.kompas.com/read/2011/09/08/13075548/Ratusan.Bahasa.Daerah.Terancam.Punah' length='0'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/5078729547698626945/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=5078729547698626945' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5078729547698626945'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5078729547698626945'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2011/09/dr-pudentia-mpss-ratusan-bahasa-daerah.html' title='Dr. Pudentia MPSS: Ratusan Bahasa Daerah Terancam Punah'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-SAxFwB0ZA4I/TmqjZNb0sMI/AAAAAAAAAKw/r7pp_S5Eby4/s72-c/IMG_2374.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-1945246508674120215</id><published>2011-09-09T16:53:00.007+07:00</published><updated>2011-09-18T14:14:47.133+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Prof. Dr. Arief Rahman Hakim: Indonesia Laboratorium Budaya</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-gcbtH-GqnnU/TmnyNL_-5gI/AAAAAAAAAKo/jLo4ebDAp3s/s1600/IMG_2331.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5650313515886372354" src="http://2.bp.blogspot.com/-gcbtH-GqnnU/TmnyNL_-5gI/AAAAAAAAAKo/jLo4ebDAp3s/s320/IMG_2331.JPG" style="cursor: pointer; float: left; height: 240px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CWELCOM%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CWELCOM%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx" rel="themeData"&gt;&lt;/link&gt;&lt;link href="file:///C:%5CUsers%5CWELCOM%7E1%5CAppData%5CLocal%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml" rel="colorSchemeMapping"&gt;&lt;/link&gt;&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;w:browserlevel&gt;&lt;/w:browserlevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val=""&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defpriority="99" defqformat="false" defsemihidden="true" defunhidewhenused="true" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Normal" priority="0" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 1" priority="9" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 2" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 3" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 4" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 5" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 6" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 7" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 8" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 9" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 1" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 2" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 3" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 4" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 5" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 6" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 7" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 8" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 9" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="caption" priority="35" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Title" priority="10" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Default Paragraph Font" priority="1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Subtitle" priority="11" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Strong" priority="22" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Emphasis" priority="20" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Table Grid" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Placeholder Text" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="No Spacing" priority="1" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 1" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 1" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 1" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 1" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 1" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 1" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Revision" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="List Paragraph" priority="34" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Quote" priority="29" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Intense Quote" priority="30" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 1" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 1" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 1" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 1" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 1" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 1" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 1" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 1" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 2" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 2" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 2" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 2" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 2" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 2" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 2" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 2" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 2" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 2" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 2" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 2" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 2" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 2" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 3" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 3" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 3" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 3" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 3" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 3" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 3" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 3" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 3" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 3" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 3" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 3" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 3" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 3" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 4" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 4" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 4" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 4" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 4" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 4" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 4" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 4" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 4" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 4" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 4" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 4" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 4" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 4" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 5" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 5" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 5" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 5" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 5" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 5" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 5" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 5" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 5" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 5" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 5" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 5" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 5" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 5" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 6" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 6" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 6" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 6" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 6" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 6" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 6" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 6" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 6" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 6" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 6" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 6" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 6" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 6" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Subtle Emphasis" priority="19" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Intense Emphasis" priority="21" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Subtle Reference" priority="31" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Intense Reference" priority="32" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Book Title" priority="33" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Bibliography" priority="37"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="TOC Heading" priority="39" qformat="true"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face  {font-family:"Cambria Math";  panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4;  mso-font-charset:1;  mso-generic-font-family:roman;  mso-font-format:other;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face  {font-family:Calibri;  panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4;  mso-font-charset:0;  mso-generic-font-family:swiss;  mso-font-pitch:variable;  mso-font-signature:-520092929 1073786111 9 0 415 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal  {mso-style-unhide:no;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  margin-top:0cm;  margin-right:0cm;  margin-bottom:10.0pt;  margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-language:EN-US;} .MsoChpDefault  {mso-style-type:export-only;  mso-default-props:yes;  font-size:10.0pt;  mso-ansi-font-size:10.0pt;  mso-bidi-font-size:10.0pt;  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-fareast-font-family:Calibri;  mso-hansi-font-family:Calibri;} @page Section1  {size:595.3pt 841.9pt;  margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt;  mso-header-margin:35.4pt;  mso-footer-margin:35.4pt;  mso-paper-source:0;} div.Section1  {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin:0cm;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:"Times New Roman";  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt;   &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebuah acara bernama workshop internasional “Celebrating Diversity” telah digelar di Auditorium Moodompit, Universitas Haluoleo, Kendari  (Sulawesi Tenggara) sejak 8 sd 10 September  2011. Acara yang dibuka oleh Rektor Universitas Haluoleo ini merupakan kerja sama Universitas Haluoleo, Aosiasi Tradisi Lisan (ATL), Unesco, dan Lembaga Sensor Film (LSF).&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;  &lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam acara pembukaan itu, Prof. Dr. Ir. H. Usman Rianse, MS selaku Rektor Universitas Haluoleo menyatakan permohonan maafnya karena Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Fasli Jalal berhalangan hadir untuk membuka secara langsung kegiatan workshop yang dihadiri tidak kurang 200 peserta yang terdiri dari dosen, mahasiswa, dan pemerhati budaya itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada kesempatan tersebut, rektor mengutarakan bahwa workshop yang memakan waktu tiga hari itu akan membahas serta mengkaji pelbagai tradisi lisan dari berbagai etnis untuk mengungkap persoalan utama yang berelasi dengan adanya potensi konflik antaretnis yang dialami di Sulawesi Tenggara. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Disadari, kata H. Usman Rianse, bahwa tardisi yang ada di Indonesia, terutama di Sulawesi Tenggara memiliki keberagaman etnis, budaya, maupun bahasa. Dengan keberagaman itu,  sebagai sebuah kekayaan budaya yang telah diwariskan nenek moyang bangsa Indonesia diharapkan menjadi perekat antaretnis tanpa memandang perbedaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Senada dengan Rektor Haluoleo, Prof. Dr. Arief Rachman Hakim, selaku Ketua Harian perwakilan UNESCO Indonesia mengutarakan bahwa, dengan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia menjadikan Indonesia sebagai laboratorium budaya dunia. Tidak heran, kata Arief Rachman Hakim pada gilirannya kemudian menjadikan Indonesia tempat belajar bagi negara-negara lain. (apb)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-1945246508674120215?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/1945246508674120215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=1945246508674120215' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1945246508674120215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1945246508674120215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2011/09/prof-dr-arief-rahman-hakim-indonesia.html' title='Prof. Dr. Arief Rahman Hakim: Indonesia Laboratorium Budaya'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-gcbtH-GqnnU/TmnyNL_-5gI/AAAAAAAAAKo/jLo4ebDAp3s/s72-c/IMG_2331.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-9016030733555514052</id><published>2011-07-29T09:54:00.003+07:00</published><updated>2011-09-18T14:12:40.163+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Info'/><title type='text'>ATL : WORKSHOP INTERNATIONAL “CELEBRATING DIVERSITY”</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-12ufSiPE6pU/TjIkjqccobI/AAAAAAAAAKQ/-SxbDwufzFk/s1600/ATL.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5634606278901539250" src="http://3.bp.blogspot.com/-12ufSiPE6pU/TjIkjqccobI/AAAAAAAAAKQ/-SxbDwufzFk/s200/ATL.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 200px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 112px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defpriority="99" defqformat="false" defsemihidden="true" defunhidewhenused="true" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Normal" priority="0" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 1" priority="9" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 2" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 3" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 4" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 5" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 6" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 7" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 8" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="heading 9" priority="9" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 1" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 2" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 3" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 4" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 5" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 6" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 7" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 8" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="toc 9" priority="39"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="caption" priority="35" qformat="true"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Title" priority="10" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Default Paragraph Font" priority="1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Subtitle" priority="11" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Strong" priority="22" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Emphasis" priority="20" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Table Grid" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Placeholder Text" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="No Spacing" priority="1" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 1" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 1" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 1" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 1" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 1" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 1" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Revision" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="List Paragraph" priority="34" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Quote" priority="29" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Intense Quote" priority="30" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 1" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 1" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 1" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 1" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 1" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 1" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 1" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 1" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 2" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 2" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 2" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 2" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 2" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 2" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 2" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 2" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 2" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 2" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 2" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 2" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 2" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 2" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 3" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 3" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 3" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 3" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 3" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 3" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 3" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 3" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 3" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 3" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 3" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 3" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 3" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 3" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 4" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 4" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 4" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 4" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 4" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 4" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 4" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 4" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 4" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 4" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 4" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 4" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 4" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 4" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 5" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 5" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 5" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 5" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 5" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 5" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 5" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 5" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 5" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 5" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 5" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 5" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 5" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 5" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Shading Accent 6" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light List Accent 6" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Light Grid Accent 6" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 1 Accent 6" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Shading 2 Accent 6" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 1 Accent 6" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium List 2 Accent 6" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 1 Accent 6" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 2 Accent 6" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Medium Grid 3 Accent 6" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Dark List Accent 6" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Shading Accent 6" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful List Accent 6" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Colorful Grid Accent 6" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Subtle Emphasis" priority="19" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Intense Emphasis" priority="21" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Subtle Reference" priority="31" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Intense Reference" priority="32" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Book Title" priority="33" qformat="true" semihidden="false" unhidewhenused="false"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="Bibliography" priority="37"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" name="TOC Heading" priority="39" qformat="true"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;    &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pengantar                                                                                                      &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Kedudukan tradisi lisan sebagai bagian dari warisan budaya bangsa ditetapkan dalam Konvensi UNESCO tertanggal 17 September 2003. Sebagai bagian dari &lt;i&gt;intangible cultural heritage&lt;/i&gt;, dikatakan bahwa  &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;ral traditions is important t&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;o be&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt; transmitted value things: oral traditions is going to be the source of identity for humanity in this millenium&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;”&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; (Konggres IFLA, Agustus 1999). Tradisi lisan terbukti juga, selain merupakan identitas komunitas dan salah satu sumbe&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;r penting dala&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;m pembentukan karakter bangsa, tradisi lisan  adalah  pintu masuk untuk memahami permasalahan masyarakat pemilik tradisi yang bersangkutan. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;             Kedudukan dan peran tradisi lisan yang sedemikian strategis tersebut mendorong Universitas Haluoleo  (UNHALU) untuk bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan menyelenggarakan sebuah pertemuan ilmiah berbentuk  yang akan membahas berbagai tradisi lisan dan tradisi lainnya dalam mengungkap  permasalahan utama di Sulawesi Tenggara yang berkaitan dengan potensi konflik antaretnis . Berbagai konflik yang muncul pada masa terakhir ini, khususnya yang terjadi di kampus UNHALU, Kendari dipicu oleh kekuatan hegemoni tertentu dan faktor sosial politik. Situasi tersebut telah menjadi isu nasional yang mengkhawatirkan karena sampai saat ini  belum ditemukan pemecahan masalah yang bersifat strategis dan  melegakan berbagai pihak yang berkenaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;             Didorong oleh peran dan fungsi sebagai gerbang utama pembentuk peradaban, UNHALU berinisiatif menyelenggarakan Workshop Internasional disertai dengan Temu Tokoh Adat dan Pementasan Tradisinya.  Tema yang akan diajukan adalah “Perayaan Keragaman” (&lt;i&gt;Celebration Diversity&lt;/i&gt;) mengingat berbagai etnis yang berpotensi menciptakan konflik cenderung tidak melihat keragaman etnis yang ada sebagai sebuah kekayaan budaya bersama.   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;               &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Merayakan keberagaman (&lt;i&gt;C&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;lebrating Deversiti&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;) merupakan serangkaian program yang puncak kegiatannya dilakukan selama dua hari, tanggal 9-10 September 2011&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; di Universitas Haluoleo, Kendari&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; Sebelum acara ini, kegiatan akan diawali dengan workshop sehari, tanggal 8 September 2011 untuk membicarakan bagaimana menominasikan Dokumen dan Arsip untuk diusulkan ke Program UNESCO Memory of the World (MOW).  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;              Kegiatan ini direncanakan sebagai salah satu bukti kepedulian dan  keterlibatan pihak sivitas akademika Universitas Haluoleo (UNHALU) pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Seperti yang dapat diikuti dari media cetak, radio, dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;televisi berbagai kerusuhan dan ketegangan antaretnis terjadi di Kendari dan juga di dalam kampus UNHALU. Sampai kini belum ada penyelesaian menyeluruh  yang bersumber pada kenyataan apakah ketegangan atau kerusuhan tersebut memang alami sifatnya ataukah direkayasa oleh pihak tertentu. Yang dapat dilihat adalah kerusuhan tersebut telah mengakibatkan ternodanya bingkai keragaman dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Belum adanya ratifikasi dari pihak pemerintah akan konvensi internasional yang telah diresmikan oleh UNESCO &lt;i&gt;(Convention of Cultural Diversity&lt;/i&gt;) juga menjadi penyebab peleraian ketegangan tidak berjalan dengan rambu-rambu konvensi internasional yang sudah berlaku saat ini.   Keragaman bukan dipandang sebagai sebuah kekayaan budaya, tetapi hanya sebagai wacana saja. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;             &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Rangkaian program &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;ini&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; akan dimulai d&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;engan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; mengumpulkan data &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;terbaru &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;kondisi masyarakat Sulawesi Tenggara. Kunjungan untuk surve&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; akan dilakukan oleh tim ATL untuk mendapatkan informasi awal mengenai kondisi nyata &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;terbaru dari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;masyarakat Sultra. Surve&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; ini dilakukan pada bulan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Maret-April&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; 2011. Pertemuan dengan beberapa tokoh adat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;yang diusahakan dalam survei &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;akan memberikan masukan bagi berlangsungnya program perayaan keberagaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Data &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;yang diperoleh tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; akan diolah untuk melihat peluang mengembangkan sikap &lt;i&gt;inklusif&lt;/i&gt;, menerima perbedaan budaya sebagai &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;sesuatu yang sudah semula jadi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; dan menjadikan perbedaan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; tersebut&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; sebagai milik bersama untuk berkembang bersama pula. Kegiatan selanjutnya dilakukan dalam bentuk seminar dan &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt; internasional yang akan dihadiri oleh para ahli internasional, nasional, dan lo&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;al&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; dan yang terpenting adalah dihadiri oleh para pemuka adat atau tokoh informal dari masing-masing komunitas di SULTRA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Bersamaan dengan program utama&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; (seminar dan diskusi interaktif)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;, juga diadakan program yang berkelanjutan sebelum puncak acara dilaksanakan, yaitu merancang konsep ratifikasi konvensi tentang keberagaman yang sudah disahkan oleh UNESCO pada tahun 2003, yaitu &lt;i&gt;Convention of &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 115%;"&gt;C&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;ultural Diversity&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; Mengingat situasinya, Indonesia amat berkepentingan dengan konvensi ini karena itu perlu segera melakukan &lt;i&gt;ratifikasi convention &lt;/i&gt;tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Dalam konsep pengembangan sikap inklusif, media dapat berperan besar. Media itu sendiri dapat mengembangkan sikap yang multikultural, bukan malah sebaliknya menjadi pemicu tumbuh kembangnya sikap saling mencurigai dan permusuhan antara budaya yang berbeda. Media lokal (elektronik dan cetak) akan dilibatkan untuk menyukseskan program merayakan keberagaman ini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Seminar dan Workshop&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Seminar akan dilakukan dalam &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; hari, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;8, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;9&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; dan 10 September 2011. Seminar akan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;diawali dengan Workshop UNESCO yang berlangsung pada hari Rabu, tanggal 8 September 2011 dan malamnya diikuti dengan Pentas Tradisi. Selanjutnya kegiatan seminar yang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;berlangsung &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;pada hari Kamis, tanggal 9 September sejak &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;dari pagi sampai sore hari dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;malam harinya &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;akan disiapkan pentas seni tradisi komunitas di SULTRA. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; Seminar akan dibagi menjadi dua sesi setiap harinya, sesi pagi dan sesi siang. Seminar akan dilaksanakan secara pleno &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;dengan menampilkan 2 orang pembicara utama (Mantan Wakil Presiden RI, Jend. Purn Try Sutrisno, Rektor UNHALU, dan dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata RI) dan sesi-sesi Panel untuk pemaparan tiga &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; orang pemakalah undangan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; setiap sesinya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Pembicara berasal dari dalam dan luar negeri. S&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;etiap&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; sesi pleno akan dipimpin oleh seorang moderator. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Acara ini rencananya akan dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Fasli Djalal.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Sesi seminar selama dua hari&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 42.05pt; text-align: justify; text-indent: -42.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;I.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Jam 08.00-10.00 WITA (seminar)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 42.05pt; text-align: justify; text-indent: -42.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;          &lt;/span&gt;II.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Jam 10.30-12.30 WITA (dialog budaya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 42.05pt; text-align: justify; text-indent: -42.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;III.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Jam 13.30-15.30 WITA (seminar)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 42.05pt; text-align: justify; text-indent: -42.05pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;IV.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Jam 16.00-17.30 WITA (dialog budaya)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Setiap &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;hari akan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;dilaksanakan dua sesi dialog budaya yang merupakan &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt; untuk pengembangan pemahaman multikulturalisme. Dialog budaya akan dipimpin oleh satu orang fasilitator da&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;ri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; beberapa unsur pimpinan daerah dan ketua-ketua adat. Peserta dialog budaya sebagian besar akan berasal dari Sultra, sebagian fasilitatornya dari luar Sultra.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Seminar dan dialog budaya akan dilaksanakan di lingkungan kampus Unhalu. Tempat seminar dan dialog budaya pada ruang yang sama dengan mempertimbangkan kapasitas peserta yang mencapai 200 orang.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; Peserta terdiri atas:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Para Undangan dari Pemda dan Universitas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Ketua ATL Daerah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Peneliti, Dosen, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Guru-guru &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Pemilik Sanggar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Budayawan, &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Tokoh-tokoh Komunitas Adat &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;; font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Wartawan nasional dan daerah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Setiap peserta seminar akan diberikan sertifikat, seminar kit, dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;cendera mata.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Festival kesenian akan dilaksanakan selama dua hari bersamaan dengan pelaksanaan seminar dan &lt;i&gt;workshop&lt;/i&gt;. Pagi sampai sore untuk seminar dan malam hari akan dilaksanakan festival. Festival bersumber pada dua bentuk karya seni. Pertama karya seni tradisi yang mewakili 13 masyarakat yang telah ‘dianggap’ menjadi bagian dari Sulawesi Tenggara. Setiap suku bangsa akan menampilkan kesenian tradisi yang mereka miliki. Pertunjukan dari masing-masing suku bangsa ini akan diatur pajang dan bentuk pertunjukannya. Peserta pertujukan ini adalah wakil dari wilayah-wilayah yang ada di Sultra. Pelaku pertunjukan adalah masyarakat yang masih aktif dan tokoh-tokoh tradisi di wilayahnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Kedua, adalah karya pertunjukan baru merupakan representasi dari 13 masyarakat yang ada di Sultra. Karya ini akan dilakukan oleh mahasiswa Unhalu dengan bantuan pembuat karya Sultra dan didampingi oleh seniman nasional. Karya baru ini bertujuan untuk memberikan gagasan bahwa karya tradisi dapat menjadi sumber penciptaan yang tak ada habisnya&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; s&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;ekaligus memperlihatkan bahwa perbedaan tradisi dapat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;dialog&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; dan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; dikolaborasi untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;menciptakan karya yang menarik.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Festival akan dilaksanakan pada kawasan kampus Unhalu yang dilengkapi dengan peralatan untuk pertunjukan yang berkualitas. Pertunjuka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; akan berlangsung selama dua malam, dan setiap malamnya dilaksanakan jam. 19.30-22.00 WITA. Pertunjukan akan terbuka untuk umum&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; Hal ini akan berdampak secara lebih luas bahwa sikap multikulturalisme dapat tumbuh dari tradisi-tradisi masyarakat yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18.9pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;C.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pameran&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18.9pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Pameran adalah memperlihatkan tradisi yang berbeda dari setiap masyarakat yang ada di Sultra. Bahan pameran berupa benda-benda tradisi, ciri tradisi (pakaian adat dslbnya), kuliner tradisional. Bahan-bahan pameran ini akan disiapkan oleh kabupaten/kota di Sultra untuk mewakili keberagaman masyarakatnya. Bahan pameran akan ditata dengan teknik presentasi pamaeran yang profesional di tempat-tempat yang telah disipakan berdekatan degan tempat pelaksanaan seminar dan festival.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;           &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Pameran ini dapat juga diarahkan untuk membuat replika dari bentuk tradisi, sehingga dapat dijadikan barang yang dijual kepada pengunjung. Kuliner yang dipamerkan untuk dapat dinikmati oleh pengunjung pameran. Aspek ini akan membuka kesempatan untuk mengenal ciri dari masyarakat tertentu dan meningkatkan apresiasi masyarakat pengunjung pada perbedaan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt 18.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;D.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Kunjungan Masyarakat dan Lingkungan Sultra&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Perserta seminar dan workshop akan mendapat kesempatan untuk melakukan kunjungan ke tempat-tempat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;komunitas adat&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; yang ada di sekitar Kendari. Kunju&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;n&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;gan juga dapat dilakukan untuk memperkenalkan kekayaan alam dan budaya Sultra.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;Lokasi &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;dan jadwal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt;kunjungan akan ditentukan kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacingCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;E.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;Kontak Sekretariat:                                                                                           &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt; Jabatin Bangun (General Secretary of the ATL) or  Andi Sulkarna&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="line-height: 150%;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="line-height: 150%;"&gt;n (staf)                                                                        &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Jalan Menteng Wadas Timur no.8 (Jalan Bogor Lama no 8)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Jakarta Selatan 12970 , Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Telp. &amp;amp; Faks: +62218312603&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacingCxSpMiddle" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;HP: + 62 85216043444 (Jabatin) ; +622195513730 (Andi Sulkarna&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;n)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNoSpacingCxSpLast" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Email: &lt;/span&gt;&lt;a href="mailto:atl_lisan@yahoo.com"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;atl_lisan@yahoo.com&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-9016030733555514052?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/9016030733555514052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=9016030733555514052' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/9016030733555514052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/9016030733555514052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2011/07/atl-workshop-international-celebrating.html' title='ATL : WORKSHOP INTERNATIONAL “CELEBRATING DIVERSITY”'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-12ufSiPE6pU/TjIkjqccobI/AAAAAAAAAKQ/-SxbDwufzFk/s72-c/ATL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-297725342491623583</id><published>2010-11-18T09:30:00.003+07:00</published><updated>2011-09-18T14:15:29.610+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>ATL Gelar Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara VII</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/TOSRZ8NUWiI/AAAAAAAAAJc/IGdlKyKeGjQ/s1600/Pudentia.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5540713316417296930" src="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/TOSRZ8NUWiI/AAAAAAAAAJc/IGdlKyKeGjQ/s320/Pudentia.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 252px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 300px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asosiasi Tradisi Lisan (ATL)&lt;/span&gt; menggelar seminar internasional  Tradisi Lisan Nusantara VII pada 19-22 Nopember 2010 di Pangkalpinang,  Bangka Belitung. Semakin terpinggirkannya tradisi lisan, menjadi alasan  seminar internasional ini rutin diadakan dua tahun sekali.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  produk kultural, tradisi bukanlah sesuatu yang statis tanpa perubahan  dan perkembangan. Tradisi selalu mengalami transformasi isi dan bentuk,  yang lebih cocok dengan situasi, kondisi dan minat yang berlaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian  dikemukakan Pudentia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, yang juga  penanggung jawab seminar internasional Tradisi Lisan Nusantara VII yang  akan di gelar pada tanggal 19-22 Nopember 2010 di Pangkalpinang, Bangka  Belitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyelamatkan tradisi lisan ini, ATL hingga tahun  2014 sudah menjalin kerjasama dengan sejumlah perguruan tinggi di  Indonesia, membuka Program Kajian Tradisi Lisan (KTL), bekerjasama  dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Kemendiknas, yakni di Universitas  Pendidikan Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Sumatera Utara,  Universitas Gajah Mada, dan Universitas Andalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut  Pudentia, kajian ini menjadi penting karena sudah saatnya dunia ilmu  pengetahuan mulai memanfaatkan sumber dari tradisi lisan, tidak hanya  menggunakan sumber yang berasal dari tulisan dan tercetak seperti yang  selama ini dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam seminar lisan itu nanti juga  diadakan Festival Tradisi Lisan 2010, bekerjasama dengan Dinas  Kebudayaan dan Pariwisata Prov. Bangka Belitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kepala  Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Belitung, Yan Megawandi, dengan  adanya seminar ini masyarakat semakin menyadari pentingnya tradisi lisan  ini mengingat tradisi lisan juga sebagai diplomasi budaya yang kelak  akan menjadi kebangaan milik bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminar bertema "Potensi  Keragaman Tradisi Lisan dalam Menciptakan Keharmonisan Kehidupan Masa  Depan" itu diantaranya menghadirkan Wamendiknas Fasli Djalal, serta  puluhan makalah dari pakar tradisi luar negeri yang akan dibahas yakni  dari Belanda, Swiss, Malaysia. Disamping juga ada lebih 550 etnis dan  780-an bahasa daerah yang tersebar di wilayah Indonesia yang juga  melengkapi keragaman tradisi lisan. (Besty Simatupang/DS) &lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pro3rri.com/"&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;Sumber:http://www.pro3rri.com/&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-297725342491623583?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.pro3rri.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=14196:atl-gelar-seminar-internasional-tradisi-lisan-nusantara-vii&amp;catid=42:nasional&amp;Itemid=109' title='ATL Gelar Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara VII'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/297725342491623583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=297725342491623583' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/297725342491623583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/297725342491623583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2010/11/atl-gelar-seminar-internasional-tradisi.html' title='ATL Gelar Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara VII'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/TOSRZ8NUWiI/AAAAAAAAAJc/IGdlKyKeGjQ/s72-c/Pudentia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-4909913552814022290</id><published>2010-04-28T17:39:00.005+07:00</published><updated>2011-09-18T14:16:05.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>BEASISWA DAN PROGRAM KAJIAN TRADISI LISAN</title><content type='html'>&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;PEDOMAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;b&gt;KAJIAN TRADISI LISAN &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;b&gt;SEBAGAI KEKUATAN KULTURAL&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;b&gt;PROGRAM PENGADAAN DAN PENELITIAN AHLI TRADISI LISAN&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;Progam khusus DIKTI di UI, UPI, UNUD, USU, dan UGM bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan , NESO, dan KITLV&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;____________________________________________________________________&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #006600;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bab I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A.     LATAR BELAKANG&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;Di tengah kemajuan peradaban umat manusia, yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan komunikasi modern, tradisi lisan sebagai kekuatan kultural merupakan sumber pembentukan peradaban dalam berbagai aspek kehidupan. Hal ini penting karena tradisi lisan, dalam berbagai bentuknya sangat kompleks yang mengandung, tidak hanya cerita, mitos, legenda, dan dongeng , tetapi juga mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, misalnya kearifan lokal (local wisdom), sistem nilai, pengetahuan tradisional (local knowledge), sejarah, hukum, adat, pengobatan, sistem kepercayaan dan religi, astrologi, dan berbagai hasil seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran akan pentingnya tradisi lisan sebagai sumber ilmu pengetahuan mulai terasa ketika sumber-sumber pengetahuan modern yang diperoleh dari sumber-sumber tertulis kerap tidak memberi jawaban terhadap keunikan-keunikan lokal yang dihadapi. Hal itu terjadi karena selama ini perguruan tinggi hanya bertumpu lebih banyak pada literatur yang mengagungkan kajian ilmu pengetahuan dalam bentuk-bentuk baku yang tertulis, sementara referensi yang bersumber dari tradisi lisan cenderung diabaikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, para penutur dan komunitas tradisi lisan semakin berkurang . Hal  ini akibat proses pewarisan secara alamiah tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, sementara perubahan kebudayaan berjalan dengan cepat. Dihadapkan pada kenyataan tersebut, satu-satunya yang penting dalam upaya menjaga tradisi lisan sebagai sumber ilmu pengetahuan pada masa sekarang dan akan datang adalah perubahan dalam sistem pewarisannya. Perguruan Tinggi mempunyai peran penting menyiapkan program konkret mengubah media pewarisan tradisi lisan tanpa meninggalkan hakikat tradisi lisan itu sendiri, yang tidak dapat dipisahkan dari komunitasnya. Dalam kaitan ini penting juga memperhatikan upaya pengembangan potensi, penyusunan langkah-langkah perlindungan termasuk perlindungan atas Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), pengembangan, dan pemanfaatan tradisi lisan sebagai kekuatan kultural yang kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi  bukanlah dilihat sebagai barang antik yang harus diawetkan, yang beku, yang berasal dari masa lalu dan tidak pernah akan dan boleh berubah yang kemudian diagungkan dan diabadikan. Justru sudut pandang seperti ini  akan mengangkat tradisi, khususnya tradisi lisan seperti yang telah diungkapkan dalam berbagai penelitian,  dalam sejarah kegemilangan masa lalunya saja tanpa dapat mengaktualkannya dalam situasi masa kini. Perlu sekali untuk membangun sebuah paradigma yang melihat tradisi lisan sebagai sebuah kekuatan yang dengan itu sebagian masyarakat kita mampu berdialog secara baik dengan kekuatan-kekuatan lain termasuk kekuatan hegemoni dan kekuatan di luar dirinya. Paradigma ini terbangun dari suatu pandangan bahwa tradisi lisan merupakan perwujudan kegiatan sosial budaya sebuah komunitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argumen di atas memungkinkan bahwa saat ini diperlukan penelitian dan kajian tradisi lisan yang dapat digunakan untuk membuka wawasan masyarakat yang pluralistik. Dengan demikian, penelitian ini berdiri dalam suatu konteks yang sifatnya pragmatis. Untuk itu, objek penelitian yang berupa tradisi lisan harus dapat diletakkan dalam suatu konteks sosial budaya (misalnya, kesadaran identitas, dan pendidikan). serta politik. dan ekonomi. Selain itu, perlu pula diingat bahwa sebagai titik tolak penelitian, tradisi lisan itu sendiri dapat dilihat sebagai suatu peristiwa budaya atau sebagai suatu bentuk kebudayaan yang diciptakan kembali (invented culture) untuk dimanfaatkan, dikembangkan, dan direvitalisasi,  atau sebagai suatu bentuk kebudayaan yang karena suatu alasan tertentu perlu dijaga dari kepunahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.    TUJUAN DAN SASARAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Tujuan Program Kajian Tradisi Lisan (KTL) ini adalah:&lt;br /&gt;a.      Meningkatkan kualifikasi dosen pengampu keilmuan bidang Tradisi Lisan melalui pendidikan lanjutan pada Program Pascasarjana (S2 dan S3).&lt;br /&gt;b.      Menggali dan mengembangkan potensi tradisi lisan, termasuk perlindungan kekayaan intelektual budaya Indonesia, melalui penelitian yang terstruktur dan berkelanjutan. &lt;br /&gt;2.    Sasaran Program Kajian Tradisi Lisan ini adalah:&lt;br /&gt;a.      Para dosen Perguruan Tinggi Negri dan Swasta dari berbagai bidang&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7706174696366218958#_ftn1" name="_ftnref1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt;  yang mempunyai minat, kepedulian, dan komitmen pada  tradisi lisan;&lt;br /&gt;b.      Para calon dosen Perguruan Tinggi Negri dan Swasta yang belum menjadi dosen tetap tetapi sudah dicalonkan/diusulkan menjadi staf dosen tetap di Perguruan Tinggi bersangkutan (dengan melampirkan surat keterangan Rektor terkait);&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=7706174696366218958#_ftnref1" name="_ftn1" title=""&gt;[1]&lt;/a&gt; Bidang  ilmu yang langsung terkait dengan kajian tradisi lisan, adalah susastra, bahasa, seni pertunjukan, sejarah, antropologi, religi, hukum, filsafat, komunikasi,pengetahuan dan teknologi tradisional .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bab II&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PROGRAM KAJIAN TRADISI LISAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Program Kajian Tradisi Lisan ini diselenggarakan dalam kluster kajian langka oleh Direktorat Jendral Pendidikan Tingi (DIKTI) Departemen Pendidikan Nasional bekerja sama dengan Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), NESO , dan KITLV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.     PENYELENGGARAAN PROGRAM KAJIAN TRADISI LISAN &lt;br /&gt;1.  Universitas/Perguruan Tinggi Penyelenggara&lt;br /&gt;Perguruan tinggi yang menyelenggarakan Program Studi yang dapat mengampu Kajian Tradisi Lisan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1.1   Universitas Indonesia (UI)&lt;br /&gt;Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya: Program Studi Ilmu Susastra Peminatan Budaya Pertunjukan&lt;br /&gt;Alamat: Kampus UI Depok Jawa Barat 16424 Telp : 021-7270009 (Humas) /7863528 /7863529 Fax : 021-7270038&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2  Universitas Pendidikan Indonesia (UPI),&lt;br /&gt;Sekolah Pascasarjana, Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Alamat: Jl. Dr. Setiabudhi No.229 Bandung  40154&lt;br /&gt;Telp : 022-2005090 / 2013163 / 2001197&lt;br /&gt;Fax  : 022-2005090&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3  Universitas Sumatra Utara (USU)&lt;br /&gt;Sekolah  Pascasarjana, Program Studi Linguistik dan   Program Studi Linguistik Konsentrasi Wacana Susastra&lt;br /&gt;Alamat: Jl. Sivitas Akademika Kampus USU, Medan.&lt;br /&gt;Telp : 061-8212453&lt;br /&gt;Fax  : 061-8212453&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4  Universitas Udayana (UNUD),&lt;br /&gt;Program Pascasarjana, Program Studi Linguistik Konsentrasi Wacana Naratif  dan Progam Kajian Budaya&lt;br /&gt;Alamat: Jl. Nias13, Denpasar Bali&lt;br /&gt;Telp/Fax : 0361-246653&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.5  Universitas Gajah Mada (UGM),&lt;br /&gt;Fakultas Ilmu Budaya, Program Studi&lt;br /&gt;Alamat: Jl. Teknika Utara, Pogung, Sleman Yogyakarta 55281&lt;br /&gt;Telp : 0274-544979 / 555881 / 564239&lt;br /&gt;Email: ppsugm@idola-net.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kurikulum&lt;br /&gt;Kuliah yang disepakati untuk S2 dan S3 Program Kajian Tradisi Lisan:&lt;br /&gt;1.      Teori dan Metode Kajian Tradisi Lisan : 4 SKS (minimal 3 SKS, tergantung beban tugasnya)&lt;br /&gt;2.      Tradisi Lisan Nusantara : 4 SKS (minimal 3 SKS, tergantung beban tugasnya)&lt;br /&gt;3.      Studi Lapangan              : 3 SKS&lt;br /&gt;4.      Bacaan Terbimbing        : 6 SKS (Khusus hanya untuk S3)&lt;br /&gt;3.   Tenaga Pengajar&lt;br /&gt;Nama-nama Dosen, Pembimbing, Promotor, dan Kopromotor KTL:&lt;br /&gt;A.     USU:&lt;br /&gt;1.      Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.&lt;br /&gt;2.      Prof. Dr. Robert Sibarani, M.S.&lt;br /&gt;3.      Prof. Ahmad Samin Siregar&lt;br /&gt;4.      Dr. Syahron Lubis, M.A.&lt;br /&gt;5.      Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si.&lt;br /&gt;6.      Dr. Matius C.A. Sembiring, M.A.&lt;br /&gt;7.      Dr. Asmyta Surbakti, M.Si.&lt;br /&gt;8.      Dr. M. Takari, M.Hum.&lt;br /&gt;9.      Dr. Dwi Widawati, M.Hum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.       UI:&lt;br /&gt;1.      Prof. (Emeritus)  Dr. Achadiati&lt;br /&gt;2.      Prof. (Emeritus) Dr. Taufik Abdulah&lt;br /&gt;3.      Prof. (Emeritus)  Dr. Benny H. Hoed&lt;br /&gt;4.      Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono&lt;br /&gt;5.      Prof. Dr. Edi Sedyawati&lt;br /&gt;6.      Prof. Dr. Parwatri Wahyono&lt;br /&gt;7.      Prof. Dr. Melani Budianta&lt;br /&gt;8.      Prof. Dr. Rahayu Supanggah&lt;br /&gt;9.      Prof. Dr. I Wayan Dibia&lt;br /&gt;10.  Dr. Pudentia MPSS, M.Hum&lt;br /&gt;11.  Dr. Talha Bachmid&lt;br /&gt;12.  Dr. Mukhlis PaEni&lt;br /&gt;13.  Dr. Ninuk Kleden&lt;br /&gt;14.  Dr. Nyak Ubiet Raseuki&lt;br /&gt;15.  Dr. Sutamat Arybowo&lt;br /&gt;C.     UPI:&lt;br /&gt;1.      Prof. Dr. Yus Rusyana&lt;br /&gt;2.      Prof. Dr. Iskandarwassid, M.Pd.&lt;br /&gt;3.      Dr. Ruhaliah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.     UGM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.       Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra MA. M.Phil.&lt;br /&gt;2.      Prof. Dr. Stephanus Djawanai M.A.&lt;br /&gt;3.      Prof. Timbul Haryono M.Sc&lt;br /&gt;4.      Prof. Dr. Imran T Abdullah&lt;br /&gt;5.      Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U.&lt;br /&gt;6.      Prof. Dr. Marsono. S.U.&lt;br /&gt;7.      Prof. Dr. Suhartono&lt;br /&gt;8.      Prof Dr. Soepomo Poedjosoedarmo&lt;br /&gt;9.      Dr. Ida Rochani Adi, S.U&lt;br /&gt;10.  Dr. Pujo Semedi, M.A.&lt;br /&gt;11.  Dr. Aris Mundayat M.A.&lt;br /&gt;12.  Dr. Daud Aris Tanudirjo M.A.&lt;br /&gt;13.  Dr. Lono Lastoro Simatupang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.     UNUD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.      Prof. Dr. I Made Suastika, S.U.&lt;br /&gt;2.      Prof. Dr. Emiliana Mariyah, M.S.&lt;br /&gt;3.      Prof. Dr. I Nyoman Kutha Ratna, S.U.&lt;br /&gt;4.      Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.S.&lt;br /&gt;5.      Prof. Dr. I Wayan Cika, M.S.&lt;br /&gt;6.      Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Si.&lt;br /&gt;7.      Dr.I Nyoman Suarka, M.Hum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2        Dosen Tamu:&lt;br /&gt;1.      Prof. Dr. H.M.J. Maier (UC Riverside)&lt;br /&gt;2.      Prof. Dr. Charles Jeurgens (Universitas Leiden)&lt;br /&gt;3.      Dr. Roger Tol (KITLV)&lt;br /&gt;3.   Praktisi Seni :&lt;br /&gt;1.   Kenedi Nurhan&lt;br /&gt;2.   Ratna Riantiarno&lt;br /&gt;3.   Jabatin Bangun&lt;br /&gt;4.   Endo Suanda    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.  KEGIATAN KAJIAN TRADISI LISAN (KTL):&lt;br /&gt;Kajian ini meliputi 2 (dua) kegiatan utama, yaitu: &lt;br /&gt;1.         Pendidikan Program Pascasarjana (Program Magister dan Doktor) yang berbasis pada keilmuan Tradisi Lisan dengan dukungan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS), dukungan dana penelitian dari DP2M, dana dukungan dari lembaga lain.&lt;br /&gt;Kegiatan lain yang berkaitan dengan pendidikan adalah:&lt;br /&gt;1)     Pelatihan atau pembekalan bagi mahasiswa yang mengikuti program ini.&lt;br /&gt;2)     Rapat Kerja (Workshop) Penyusunan Kurikulum, silabus, dan materi  bersama untuk mata kuliah Kajian Tradisi Lisan di 5 (lima) perguruan tinggi.&lt;br /&gt;3)     Penyamaan persepsi Pembimbing , Promotor, dan Ko-Promotor dalam penentuan topik riset, pembimbingan, dan pengujian.&lt;br /&gt;2.         Penelitian payung dengan topik kajian tradisi lisan sebagai kekuatan kultural dan kegiatan Pendampingan Masyarakat Tradisi. &lt;br /&gt;Topik-topik penting dan menarik yang dicadangkan dalam lima tahun mendatang meliputi kajian mengenai 3 ranah utama, yaitu:&lt;br /&gt;1)     perlindungan dan pemeliharaan tradisi;&lt;br /&gt;2)     pengembangan dan revitalisasi, dan&lt;br /&gt;3)     kebijakan dan strategi kebudayaan.&lt;br /&gt;Dengan memperhatikan cakupan materi yang meliputi berbagai hal di atas, maka kajian tradisi lisan merupakan kajian multidisiplin, seperti bahasa, seni (termasuk di dalamnya sastra dan seni pertunjukan), sejarah, antropologi, religi,filasafat,hukum, pengetahuan dan teknologi tradisional. &lt;br /&gt;Sumber primer kajian adalah penutur, pembawa, atau nara sumber pemilik tradisi lisan yang diteliti yang meliputi pula masyarakat pemilik atau pendukung yang berkaitan. Pementasan, pertunjukan, ritual, atau peragaan menjadi kata kunci dalam hal ini. Di samping tradisi dan nara sumber utamanya yang masih hidup atau merupakan living traditions, ingatan kolektif yang tersimpan dalam masyarakat dan tradisi tersebut (memory traditions) juga dimasukkan dalam kategori ini. Informasi dan data dari sumber utama kajian ini ditranskripsi, direkam, didokumentasi, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang kemudian menjadi teks kajian dan publikasi.&lt;br /&gt;Sumber sekunder/ kedua kajian tradisi lisan meliputi data arsip, dokumen, rekaman dan dokumentasi terdahulu, dan sumber-sumber/referensi dari perpustakaan dan yang terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.    PESERTA PROGRAM&lt;br /&gt;1.        Peserta Program KTL adalah dosen tetap perguruan tinggi negeri dan swasta di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional yang memiliki jenjang jabatan akademik (JJA) sekurang-kurangnya Asisten Ahli.&lt;br /&gt;2.        Dosen yang belum mempunyai NIP dan JJA Asisten Ahli dapat pengikuti Program ini apabila ada pernyataan yang ditandatangani Rektor di atas materai Rp. 6.000.- yang menerangkan bahwa yang bersangkutan akan dimasukkan menjadi tenaga pendidik (dosen) pada perguruan tinggi tersebut.&lt;br /&gt;3.        Calon Peserta harus menyerahkan surat keterangan dari Ketua/Pimpinan ATL di wilayah calon peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.    JUMLAH ALOKASI BEASISWA&lt;br /&gt;Program Kajian Tradisi Lisan ini dirancang akan dilaksanakan selama 5 (lima) tahun berturut-turut dengan alokasi BPPS per tahun sebanyak 25 orang untuk Program Magister dan 20 orang untuk Program Doktor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    BIAYA PENYELENGGARAAN PROGRAM&lt;br /&gt;Biaya pelaksanaan kedua kegiatan tersebut pada butir C.1. akan diakomodasi oleh Direktorat Ketenagaan dengan menggunakan dana Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bab III  TOPIK PENELITIAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.     Pengantar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa Indonesia sekarang ini menghadapi permasalahan yang  kompleks mengenai globalisasi dan perubahan sosial budaya yang sangat cepat. Sesungguhnya globalisasi merupakan gerak kebudayaan, tidak mengenal batas negara maupun ideologi, sehingga dapat menyebar hingga ke pelosok Nusantara melalui industri budaya. Akibat perubahan sosial budaya yang cepat dan kurangnya kesiapan masyarakat Indonesia dikawatirkan dapat melemahkan peradaban seperti etika sosial, budi pekerti, dan sebagainya. Keadaan seperti inilah yang membuat bangsa Indonesia perlu secara integratif melakukan reorientasi kebijakan supaya dapat memperlambat keterpurukan di bidang kebudayaan. Dalam kaitan dengan masalah ini pula penting bagi bangsa Indonesia untuk melakukan transformasi sosial budaya terhadap kenyataan hidup sehari-hari melalui berbagai kebijakan yang mengarah kembali ke situasi masyarakat yang berkeadaban. Tanpa melalui transformasi semacam itu, berbagai tantangan sulit untuk dapat diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kajian strategis yang telah diagendakan dalam Kajian Tradisi Lisan pada hakikatnya merupakan upaya serius dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya berbagai  masalah sekaligus upaya untuk mengatasinya. Dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Depdiknas dapat memberikan kontribusi yang penting dalam membantu penyiapan tenaga pengajar bidang langka tradisi lisan di seluruh Indonesia secara signifikan dengan melakukan transformasi sosial budaya berupa penelitian-penelitian kebudayaan melalui berbagai kajian yang hasilnya untuk menjawab persoalan runtuhnya etika sosial maupun budi pekerti yang dialami masyarakat Indonesia dewasa ini dan berupa kegiatan pendampingan masyarakat tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyususunan rancangan penelitian dalam Kajian Tradisi Lisan pada dasarnya merujuk pada: RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) 2005-2025 yang diturunkan pada RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah) 2010-2014. Semua itu diharapkan agar dapat menghasilkan kajian yang dapat digunakan untuk menjawab masalah persiapan menghadapi berbagai perubahan di Indonesia. Pada RPJMN 2010-2014, mencakup kegiatan memantapkan kembali NKRI, membangun kemampuan IPTEK, memperkuat daya saing nasional. RPJMN tersebut secara tidak langsung mengandung arti pentingnya transformasi sekaligus inovasi bidang sosial budaya menjadi fokus dalam kajian-kajian yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B.    Sumber Kajian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber utama kajian adalah penutur, pembawa, termasuk di sini nara sumber pemilik tradisi lisan yang diteliti. Pementasan, pertunjukan, ritual, atau peragaan menjadi kata kunci dalam hal ini. Di samping dan tradisi dan nara sumber utamanya yang masih hidup atau merupakan living traditions, ingatan kolektif yang tersimpan dalam masyarakat dan tradisi tersebut (memory traditions) juga termasuk dalam kategori ini. Informasi dan data dari sumber utama kajian ini ditranskripsi, direkam, didokumentasi, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang kemudian menjadi teks kajian dan publikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber kedua kajian tradisi lisan meliputi data arsip, dokumen, rekaman dan&lt;br /&gt;dokumentasi terdahulu, dan sumber-sumber/referensi dari perpustakaan dan&lt;br /&gt;yang terkait.            &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C.     Wilayah Penelitian&lt;br /&gt;Banyaknya kelompoik etnis yang identik dengan bahasa memperlihatkan&lt;br /&gt;keberagaman kebudayaan di Indonesia dan untuk memudahkan kajian ini,&lt;br /&gt;sebagai langkah awal saja, keberagaman etnis itu dapat dikelompokkan ke dalam&lt;br /&gt;19 wilayah hukum adat sesuai dengan batasan yang digunakan oleh C. Van Volenhoven (1913), yakni&lt;br /&gt;1.                  Aceh&lt;br /&gt;2.                  Gayo, Alas, dan Batak termasuk Nias dan Batu&lt;br /&gt;3.                  Minangkabau termasuk Mentawai&lt;br /&gt;4.                  Sumatera Selatan termasuk Enggano&lt;br /&gt;5.                  Melayu&lt;br /&gt;6.                  Bangka dan Biliton (Belitung)&lt;br /&gt;7.                  Kalimantan&lt;br /&gt;8.                  Sangir Talaud/Minahasa, termasuk Sulut, Sultra, dan Sulteng&lt;br /&gt;9.                  Gorontalo&lt;br /&gt;10.             Toraja&lt;br /&gt;11.             Sulawesi Selatan (Bugis dan Makasar)&lt;br /&gt;12.             Ternate&lt;br /&gt;13.             Ambon dan Maluku termasuk Kepulauan Barat Daya&lt;br /&gt;14.             Irian (=Papua)&lt;br /&gt;15.             Timor (=NTT)&lt;br /&gt;16.             Bali dan Lombok&lt;br /&gt;17.             Jawa Tengah dan Jawa Timur&lt;br /&gt;18.             Surakarta dan Jogyakarta (Jawa Mataraman)&lt;br /&gt;19.             Jawa Barat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D.    Sasaran&lt;br /&gt;Dengan tujuan yang diuraikan di atas, sasaran penelitian dengan tema utama&lt;br /&gt;“Tradisi Lisan Sebagai Kekuatan Kultural Membangun Peradaban” adalah:&lt;br /&gt;a.  Memahami permasalahan dan kondisi tradisi lisan di seluruh wilayah Indonesia;&lt;br /&gt;b.  Menemukan pemecahan masalah (teoritis untuk kepentingan akademik dan praktis untuk kepentingan tradisi)  dan mampu melakukan pemberdayaan masyarakat tradisi lisan;&lt;br /&gt;c.  Menciptakan model untuk menghadirkan tradisi lisan dalam kehidupan nyata masyarakat.;&lt;br /&gt;d.  Menghasilkan inovasi dan revitalisasi yang bertumpu pada tradisi lisan;&lt;br /&gt;e.  Memberikan masukan pada pihak-pihak  berkenaan untuk menyusun kebijakan yang menggunakan pendekatan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh mana sasaran yang telah ditetapkan untuk lima tahun mendatang tersebut tercapai dapat dilihat dari keahlian tradisi lisan yang dihasilkan oleh program khusus pengembangan kajian langka Kajian Tradisi Lisan (KTL) seperti yang telah disebutkan pada sub bab 2 di atas. Indikator keahlian dapat dikelompokkan menjadi keahlian dalam hal&lt;br /&gt;1.      Melahirkan berbagai konsep dan teori;&lt;br /&gt;2.      Menghasilkan berbagai model (model pembelajaran, revitalisasi, pendekatan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat);&lt;br /&gt;3.      Mengelola warisan budaya tradisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E.       Tema Payung Penelitian&lt;br /&gt;Untuk mencapai tujuan dengan sasaran seperti yang disebutkan di atas, tema payung penelitian dapat dirumuskan ke dalam  lima  topik besar, yaitu&lt;br /&gt;1.      Sastra dan Seni Pertunjukan;&lt;br /&gt;2.      Religi termasuk  Ritual dan Upacara Tradisional;&lt;br /&gt;3.      Sejarah dan Hukum Adat;&lt;br /&gt;4.      Kearifan Tradisional, Pengetahuan Tradisional, dan Sistem Kognitif lainnya;&lt;br /&gt;5.      Manusia dan Lingkungannya (maritim/bahari, pertanian, hutan)&lt;br /&gt;Rencana penelitian dalam Kajian Tradisi Lisan pada periode lima tahun mendatang akan mengangkat 5 (lima) tema payung penelitian yang dianggap penting seperti yang telah disebutkan di atas dengan rincian sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Sastra dan Seni Pertunjukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memiliki potensi kekayaan budaya yang besar dan menyebar ke penjuru Nusantara, tetapi kekayaan budaya yang besar itu akan mengalami masa pasang surut, bila tidak diinteraksikan kepada generasi penerus. Pada kenyataannya dewasa ini tidak sedikit kekayaan budaya yang mengalami dan mengarah pada kepunahan. Generasi muda tidak lagi memahami kebudayaannya sehingga dapat mengarah pada lunturnya identitas mereka. Di antaranya, tradisi sastra dan seni pertunjukan tradisional yang hampir tidak dipedulikan lagi padahal sastra dan seni pertunjukan berisi ekspresi masyarakat pemiliknya dan manifestasi kehidupan yang ditampilkan dengan estetis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra dan seni pertunjukan memiliki fungsi sama sebagai wahana stabilitas masyarakat, sehingga masyarakat akan memiliki keteraturan tanpa menggunakan otoriterisme. Melalui seni pertunjukan seseorang mampu menyampaikan pesan kultural tanpa ada perasaan ”menggurui” dan melatih kepekaan masyarakat untuk melakukan sesuatu tanpa merasa ”diperintah” atau terhegemonisasi. Sesungguhnya baik melalui sastra maupun seni pertunjukan, masyarakat Indonesia sudah memiliki norma-norma dalam penyampaian pesan kepada khalayak sehingga dalam proses demokratisasi akan mengurangi rasa ketidak santunan atau etika sosial. Menurut cerita-cerita rakyat dari berbagai daerah di Nusantara telah digambarkan bagaimana kehidupan masyarakat tingkat bawah telah mampu mewujudkan komunikasi dengan raja, menegur raja dengan cara sedemikian rupa tanpa tanpa rajanya marah. Melalui sastra dan seni pertunjukan maka masyarakat dapat bertindak sendiri sebagai ”penerjemah” modernisasi yang masih dianggap asing. Dalam kaitan ini tradisi diinteraksikan pada perubahan-perubahan yang terjadi di tengah masyarakat tanpa ada gejolak yang berarti. Masyarakat tradisi dapat mereformulasi dan menginterpretasikan sendiri atau mensiasati proses pembangunan tanpa saling berhadapan dengan kekuasaan untuk kepentingan sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kajian-kajian yang berkaitan dengan tradisi sastra dan seni pertunjukan perlu berkesinambungan dilakukan secara akademik agar dapat memberikan sumbangan dalam mencari solusi mangatasi berbagai masalah kehidupan yang terekspresikan dalam sastra dan seni pertunjukan tersebut. Selain itu, kepekaan estetis yang didapatkan dalam mengkaji sastra dan seni pertunjukan akan dapat memperlihatkan berbagai masukan mengenai inovasi penciptaan dan keunggulan estetik dalam kaitan dengan berbagai simbol yang diekspresikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Religi termasuk Ritual  dan Upacara Tradisional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah yang dihadapi masyarakat pemilik tradisi dewasa ini adalah makin memudarnya kekuatan religi termasuk di dalamnya ritual dan upacara tradisional yang sesungguhnya merupakan kekuatan masyarakat di daerah-daerah untuk perekat kebersamaan. Oleh karena itu, program penelitian religi, ritual, dan upacara tradisional diarahkan untuk transformasi kultural terkait dengan kegiatan pembangunan jangka panjang. Program penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna pada pengalaman masyarakat dan hubungan antara religi dan kondisi masyarakat. Tema penelitian yang diangkat antara lain adalah respon lembaga pendidikan agama dalam menghadapi modernisasi dan globalisasi,  interaksi agama dengan budaya lokal, isu-isu terkait intelektualisasi agama,  dan aspirasi agama dan non agama di kalangan komunitas lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu,  perlu dilakukankajian ritual dan pandangan hidup suatu komunitas. Program ini akan difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan ajaran kebijakan sebagai bentuk pemikiran filsafat hidup, antara lain beberapa isu penelitian etnofilosofi dan agama lokal yang merupakan pandangan hidup masyarakat pendukungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian globalisasi dan ketahanan budaya yang bertumpu pada upacara adat yang masih dipakai acuan kehidupan suatu komunitas dapat dilakukan.. Program penelitian ini lebih difokuskan pada hal-hal yang terkait dengan geo-budaya, nilai-nilai kebudayaan lokal dan eksistensinya dalam konteks global. Nilai-nilai kebudayaan lokal seperti “pidato adat” mulai berkurang bahkan tokohnya di masing-masing daerah tinggal 1 atau 2 orang, bahkan sudah ada yang punah. Upacara adat biasanya merupakan kegiatan keteraturan sesuai dengan siklus kehidupan mulai dari upacara kelahiran sampai upacara kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Sejarah dan Hukum Adat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat menyaksikan bersama bahwa pengetahuan sejarah “Indonesia” pada umumnya masih berorientasi dari “pusat” kekuasaan dalam segala zaman. Bagaimana berbagai daerah memberi sumbangan yang amat berarti dalam pembentukan NKRI dan dalam penataan daerah yang bersangkutan dalam konteks menjadi “Indonesia”, misalnya tidak banyak terungkap. Bagaimana pergolakan sosial  di berbagai wilayah di Indonesia telah mencatatatkan peristiwa yang penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara amat penting untuk dikaji. Pengetahuan mengenai sejarah lokal penting dalam  kerangka membangun peradaban yang sedang terus berlangsung ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah hukum adat merupakan hal sangat penting di Indonesia dewasa ini, terutama yang berkaitan dengan perubahan sosial dan politik seperti korupsi, kekerasan, dan sebagainya. Sebagaimana diketahui bahwa perubahan sosial politik memberi warna lain pada perkembangan dan penerapan hukum di Indonesia. Kajian seperti ini ditanggapi melalui perspektif hukum dan masyarakat yang mengangkat tidak hanya masalah hukum saja tetapi bagaimana interaksinya dengan konteks masyarakat Indonesia. Interaksi seperti ini sangat penting dan menjadi kajian masyarakat dan budaya tentang problematik hukum di Indonesia. Selain itu dalam kaitan dengan proses demokratisasi yang tengah berjalan dewasa ini juga ke depan, negara demokrasi sudah tentu perlu disertai penegakan hukum. Sebaliknya, negara yang mengedepankan  hukum perlu dikawal dengan pemahaman demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini pemahaman tentang hukum di Indonesia masih berangkat dari pemahaman hukum kontemporer, sehingga mengalami a-historis dan implementasinya di lapangan sangat ironis. Hal ini dikarenakan pada akhir-akhir ini penegakan hukum di Indonesia kurang peduli terhadap peran hukum adat yang pada masa lalu pernah menjadi acuan dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;Selain terjadi pemahaman a-historis, masyarakat langsung meloncat diperkenalkan penegakan HAM dan HAKI  yang sosialisasinya sangat kurang, sehingga masyarakat di tingkat bawah menjadi gamang. Sebagai akibatnya telah terjadi aktivitas masyarakat tidak mau dikontrol karena mereka berasumsi telah melakukan  sesuatu sebagai bagian dari hak azasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program penelitian yang berhubungan dengan HAM , HAKI dan implementasinya mendorong ditaatinya aturan-aturan hukum tentang HAM dan HAKI, dengan melakukan kajian-kajian tentang substansi, termasuk penafsiran terhadapnya, dan memahami bentuk-bentuk resistensi yang ada dalam masyarakat sehingga dapat dicari pola dan mekanisme terbaik penegakan HAM dan HAKI di Indonesia secara tradisional yang dahulu pernah diikuti leluhur bangsa Indonesia.  Penelitian yang terkait dengan permasalahan perlindungan warganegara dan perlindungan  hak-hak asasi masyarakat, baik kelompok khusus (minoritas, perempuan dan anak, penyandang cacat, dan lain-lain) maupun hak asasi manusia secara umum. Dalam beberapa tahun. Sehingga program ini akan difokuskan pada  studi tentang perlindungan hukum pada masyarakat adat, terutama yang menyangkut hak ulayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pemahaman hukum di Indonesia dewasa ini tidak terjadi loncatan yang datang secara tiba-tiba, tampaknya penelitian tentang pemahaman hukum adat masih sangat perlu dilakukan, karena diharapkan dapat memahami proses hukum secara baik. Dengan demikian masyarakat Indonesia yang sangat plural ini diharapkan dapat memahami hukum adat sesuai latar belakang komunitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memahami hukum adat secara baik diperlukan data otentik dari lapangan, karena itu dibutuhkan pemahaman sejarah lisan. Pada mulanya sejarah lisan justru mengandung kearifan karena selalu aktual dapat dikemukakan kapan saja, dan dapat memberi inspirasi generasi penerus untuk mengemukakan sesuatu data secara jujur. Data yang dikemukakan secara lisan dan berkesinambungan turun-temurun kepada generasi penerus, akan memberi arti dan pemaknaan yang tidak mungkin di dapatkan dari budaya tulisan. Oleh karena itu, hal ini penting untuk diadakan penelitian tersendiri mengenai sejarah lisan di Indonesia. Biasanya hasil temuan dalam sejarah lisan mengandung hal-hal baru yang tidak pernah dikemukakan secara tertulis. Kebenaran secara tertulis seolah merupakan kebenaran absolut, padahal masih terdapat kebenaran lain, yaitu yang tidak tertulis tetapi malah lebih logis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Kearifan Lokal, Pengetahuan Tradisional, dan Sistem Kognitif Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan manusia bukan tiba-tiba ada, melainkan melalui proses yang panjang sehingga menjadi sebuah peradaban. Leluhur/nenek moyang kita yang mendiami wilayah Nusantara sudah mempedulikan bagaimana mendapatkan sebuah pengetahuan  baik dari pengalaman maupun dari intuisi kehidupan. Tanpa terkecuali bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan cara menyelesaikan masalah sehingga kendala yang merintanginya dapat diatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengetahuan mengenai kearifan lokal, teknologi, pengobatan tradisional dapat dijumpai di pelosok Nusantara. Nenek moyang kita sudah mneggunakannya sejak berabad yang lalu untuk menjalankan kehidupan. Hal tersebut diwujudkan dalam upacara-upacara dalam bentuk mitos, nyanyian, tarian, musik, maupun dalam bentuk makanan yang bisa disajikan secara langsung kepada manusia. Upacara pengobatan melalui musik dan nyanyian memberikan terapi yang cukup bijak, sehingga tidak terjadi ekses bagi yang sakit. Berbagai contoh lain dapat diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengelola konflik, misalnya masing-masing daerah di Nusantara memiliki acuan untuk mengelola konflik sosial, sehingga konflik segera dapat diatasi dengan kearifan lokal setempat. Biasanya melalui pendekatan budaya masyarakat setempat, konflik segera selesai tanpa ada pihak yang merasa dirugikan dan dipermalukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kearifan lokal sesungguhnya dapat dimanfaatkan untuk memberdayakan masyarakat dalam menghadapi persoalan hidup, seperti bagaimana mengatasi ketahanan diri. Pada masa lalu leluhur bangsa Indonesia mampu bertahan dan dapat mengakomodasi unsur budaya dari luar dan mengintegrasikannya ke dalam budaya sendiri. Masyarakat Indonesia memiliki unsur majemuk yang komplek sebagai sistem saling berhubungan dan berpengaruh bagi bagian-bagian lainnya. Setiap bagian dari masyarakat tetap eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu, eksistensi tersebut dapat diwujudkan melalui fungsi keseluruhan dan perlu diidentifikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu diperlukan penelitian-penelitian yang hasilnya dapat dijadikan pedoman untuk melangkah ke depan. Ini berarti tata cara tersebut merupakan pedoman bagi keberlangsungan kehidupan. Misalnya, mitos yang ditransformasikan dalam pagelaran, dapat dijadikan alat pendidikan bagi masyarakat. Mitos juga dapat diaktualisasikan sebagai pranata-pranata sosial dan kebudayaan sehingga dapat menjadi identitas kebudayaan. Cerita-cerita yang diaktualisasikan sebagai pranata kebudayaan juga dapat sebagai alat pencerminan angan-angan atau harapan. Potensi tersebut dalam jangkauan yang lebih luas dapat dijadikan sarana membina kerukunan masyarakat, perekat kebersamaan, memupuk semangat gotong royong, dan toleransi kehidupan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Manusia dan Lingkungan (Maritim/Bahari, Pertanian, Hutan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia akan mengalami krisis, jika tidak dikelola dengan bijak. Pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia perlu seimbang, supaya bangsa indonesia mampu mengendalikan kerusakan baik secara fisik maupun kulturalnya. Kini, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya yang tadinya menjadi sumber kekuatan kebudayaan menjadi berkurang karena sudah mengalami perubahan. Oleh karena itu, bila generasi penerus tidak peduli lagi terhadap pelestarian alam, maka manusia yang menghuni alam tersebut tidak memiliki lagi acuan bagi kehidupan di sekitarnya. Perlu diakui bahwa hingga saat ini pemerintah belum mampu mengendalikan kerusakan lingkungan atau perubahan fungsi sumber daya alam yang menjadi tumpuan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak suku bangsa yang dahulu memelihara hutan, misalnya untuk kepentingan sumber daya kebudayaan dihancurkan melalui perubahan fungsi dari hutan menjadi perkebunan. Saudara kita yang dulu bisa mengambil madu /lebah, sekarang hutannya hilang sehingga lebahnya juga hilang. Ini berarti kebudayaan cara mengambil madu yang berkelanjutan juga akan punah. Memahami contoh tersebut, sudah saatnya mulai dipikirkan penelitian-penelitian yang berhubungan dengan bagaimana manusia masa lalu dapat menjaga pelestarian alam sesuai dengan siklus kehidupan. Di sini kehidupan manusia dari lahir, berkembang, sampai meninggalkan alam dunia dapat dicari potensinya sebagai acuan kembali untuk pemeliharaan alam seisinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian bangsa Indonesia terhadap jati diri sebagai bangsa maritim tampaknya terabaikan. Sesungguhnya banyak pelajaran yang mestinya dapat dipetik dari sini yang menunjukkan bahwa masyarakat maritim dapat menguasai nusantara. Sekarang keadaan ini tidak lagi dikenal generasi baru, bahkan cerita tentang maritim pun sudah jarang dijumpai. Permasalahan ini dikarenakan bangsa Indonesia sudah terlalu lama meninggalkan kebanggaan nenek moyangnya sebagai bangsa pelaut. Oleh karena itu, agar generasi penerus tidak mengulangi kesalahan ini, perlu dilakukan upaya untuk membangkitkan kembali semangat kemaritiman melalui penelitian dan kajian-kajian.  &lt;br /&gt;Kita dapat menyaksikan bersama salah satu contoh kebudayaan yang terabaikan, misal kebudayaan maritim yang pernah dimiliki Indonesia berabad-abad lalu telah lama ditinggalkan. Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan mengapa Indonesia kehilangan budaya maritim, antara lain: &lt;br /&gt;Pertama, budaya maritim mengalami kemunduran pada abad ke-18 ketika kolonialis Belanda mulai membatasi akses masyarakat Indonesia untuk berhubungan dengan laut, seperti larangan berdagang dengan pihak selain Belanda. Padahal suatu peradaban, seperti seni sastra, seni pertunjukan, seni kerajinan, dan lain-lain, muncul dan berkembang pada awalnya dari wilayah pantai atau pesisir.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kebijakan yang dilakukan pemerintah sejak kemerdekaan kurang berpihak pada bidang maritim, misalnya perhitungan Dana Alokasi Umum (DAU) bagi daerah otonom dirumuskan berdasarkan perbandingan luas wilayah darat terhadap penduduk. Layaklah bila beberapa gubernur menuntut keadilan DAU karena wilayah lautnya lebih luas daripada daratan. Ini menunjukkan pula bahwa generasi penerus tidak peka dan tidak peduli terhadap keberadaan laut yang mempersatukan kepulauan Nusantara.&lt;br /&gt;Ketiga, bangsa Indonesia belum memanfaatkan laut dengan sebaik-baiknya. Peluang pemanfaatan potensi laut yang begitu melimpah belum dikelola untuk menghasilkan keuntungan ekonomis bagi negara. Dengan luas wilayah perairan yang mencapai 3,2 juta kilometer persegi, ditambah hak atas sumber daya laut di perairan ZEE seluas 2,7 juta kilometer persegi, yang mampu menghasilkan sekitar 6,7 juta ton ikan setiap tahun, tetapi kenyataannya, ikan hasil tangkapan dari wilayah perairan Indonesia pada umumnya dinikmati oleh pengusaha-pengusaha asing. Juga dunia pariwisata pantai belum dikelola oleh bangsa Indonesia dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggerakkan peradaban maritim ke depan, ada beberapa hal yang seharusnya menjadi perhatian utama: (1) Pembangunan maritim adalah amanat UUD 1945 Pasal 33 Ayat 3 yang menyatakan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Oleh karena itu, sebagai negara kepulauan sudah menjadi kewajiban kita untuk membangun sektor maritim bagi kepentingan bangsa secara keseluruhan. (2)  Budaya maritim sebenarnya telah menjadi budaya bangsa Indonesia, khususnya pada kelompok-kelompok masyarakat pesisir, namun sejauh ini belum ada kebijakan maritim yang terpadu dan bersifat lintas sektoral. Merupakan suatu ironi bahwa sebagai negara kepulauan dan negara maritim terbesar di dunia, Indonesia justru tidak memiliki kebijakan maritim yang seharusnya jadi acuan bagi pembangunan nasional. (3)  Model pembangunan di bidang maritim memang bukan merupakan sesuatu yang mudah, apalagi jika hanya bergantung pada anggaran pemerintah. Oleh karena itu, perlu dicari model pembangunan maritim berbasis kebudayaan. &lt;br /&gt;Pengembangan budaya maritim tersebut tidak berarti mengesampingkan masalah pertanian dan kehutanan di darat. Sesungguhnya ketiga hal tersebut (maritim, pertanian, kehutanan) merupakan satu kesatuan ekosistem yang salah satunya tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Jadi pada akhirnya bangsa Indonesia perlu mengembangkan konsep pembangunan terpadu, agar ketiga hal tersebut saling memiliki fungsi bagi kehidupan. Generasi sekarang belum sadar bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya peradaban pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya momentum lima tahun ke depan (2010-2014) merupakan waktu yang tepat untuk melihat kembali peradaban bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim dan sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, serta merupakan negara agraris yang memiliki pertanian dan kehutanan bagi penduduknya. Sudah tentu akan dilihat dari aspek cerita rakyat yang dimilikinya maupun tradisi lisan pada umumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-4909913552814022290?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/4909913552814022290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=4909913552814022290' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4909913552814022290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4909913552814022290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2010/04/beasiswa-dan-program-kajian-tradisi.html' title='BEASISWA DAN PROGRAM KAJIAN TRADISI LISAN'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-2744946853971659695</id><published>2009-11-13T10:09:00.004+07:00</published><updated>2011-09-18T14:16:40.750+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Cerita Antu Banyu</title><content type='html'>&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CWINXP%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List"&gt;&lt;/link&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:"Arial Black"; 	panose-1:2 11 10 4 2 1 2 2 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} span.fullpost 	{mso-style-name:fullpost;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:42.55pt 3.0cm 42.55pt 99.25pt; 	mso-header-margin:35.45pt; 	mso-footer-margin:35.45pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;    &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SvzOyvecWNI/AAAAAAAAAJM/vjdZmrCw0Oo/s1600-h/IMG_1186.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403421024070686930" src="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SvzOyvecWNI/AAAAAAAAAJM/vjdZmrCw0Oo/s200/IMG_1186.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 150px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;/Linny Oktovianny/&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;ADA&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;suatu mitos yang sangat populer di tengah masyarakat Sumatera Selatan, yaitu cerita mengenai &lt;i&gt;Antu Banyu&lt;/i&gt;. Cerita &lt;i&gt;Antu Banyu &lt;/i&gt;ini begitu terkenal di tengah masyarakat pendukungnya karena cerita ini begitu melekat sejak lama dan diwarisi oleh p&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;ewaris aktifnya secara turun-temurun intergenerasi bahkan antargenerasi. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;          Jika ada seorang anak kecil sering atau suka bermain di sungai dalam jangka waktu yang lama, biasanya akan ditegur oleh orang tua, kerabat, dan sebagainya dengan mengatakan “&lt;i&gt;Jangan galak main di sungi Musi &lt;/i&gt;(nama sungai di Sumatera Selatan), &lt;i&gt;gek ado antu banyu!”&lt;/i&gt;  (bahasa Melayu &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Palembang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; dan Musi), &lt;i&gt;Dang galak mido di way Selabung &lt;/i&gt;(nama sungai di Muara Dua) &lt;i&gt;tulik dikanik hantu lawok!” &lt;/i&gt;(bahasa Daya) atau &lt;i&gt;“Jangan galak mandi di ayik Lintang &lt;/i&gt;(nama sungai di daerah Empat Lawang), &lt;i&gt;kelo dipaju antu ayik!“&lt;/i&gt; (bahasa Lintang)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Nama hantu yang biasa hidup di air ini, di Sumatera Selatan dikenal dengan nama yang bermacam-macam. Masyarakat Komering mengenalnya dengan nama &lt;i&gt;Antu Anyar&lt;/i&gt;, masyarakat Lintang mengenalnya dengan nama &lt;i&gt;Antu Ayek &lt;/i&gt;atau dengan nama lain &lt;i&gt;Selingkup&lt;/i&gt;, dan masyarakat Muara Dua mengenal jenis hantu ini dengan sebutan &lt;i&gt;Hantu Lawok&lt;/i&gt;, dan masyarakat Melayu Palembang atau Musi mengenalnya dengan nama &lt;i&gt;Antu Banyu&lt;/i&gt;. Apa pun namanya, jenis hantu ini habitat hidupnya di air dengan karakter tersendiri di tengah masyarakat pendukungnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa hantu jenis ini memiliki versi dan varian. Masyarakat Sumatera Selatan secara geografis memiliki banyak sungai memungkinkan cerita ini berkembang dengan pesat melampaui batas ruang dan waktu. Wajar saja, seolah-olah di tengah masyarakat Sumatera Selatan kemasyuran hantu yang hidup di air ini begitu melekat dan “membumi”. Kehadiran cerita &lt;i&gt;Antu Banyu &lt;/i&gt;ini menimbulkan nuansa tersendiri bagi masyarakat, terutama masyarakat yang hidupnya di sungai-sungai atau di daerah laut yang ada di Sumatera Selatan. Percaya atau tidak, hampir semua daerah di Sumatera Selatan mengenal mitos mengenai hantu yang hidupnya di air ini. &lt;i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Menurut Bascom dalam Danandjaja (2002:50) mitos atau mite merupakan cerita rakyat dianggap benar-benar terjadi serta dianggap suci oleh empunya cerita. Biasanya mitos ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa. Peristiwa solah-olah terjadi di dunia lain atau di dunia yang bukan seperti yang kita kenal sekarang, dan terjadi pada masa lampau. &lt;i&gt;Folk &lt;/i&gt;atau kolektif masyarakat menentukan bahwa cerita hantu yang hidup di air ini termasuk dalam kategori mitos sebab &lt;i&gt;folk &lt;/i&gt;pemilik atau pendukung cerita ini begitu melekat dan “membumi” di tengah masyarakat yang “hidupnya” dilingkupi sungai atau laut. Selain itu, menurut Bascom bahwa karakteristik mite atau mitos dapat diketahui dari bentuk topografi, bentuk khas, berikut petualangannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Antu Banyu &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;memiliki karakteristik berambut panjang dan keras, rambutnya seperti &lt;i&gt;satang&lt;/i&gt; (buluh yang panjang) karena itu apabila rambut ini sudah berada diatas kapal, perahu, sampan atau &lt;i&gt;ketek &lt;/i&gt;biasanya perahu atau kapal atau &lt;i&gt;ketek tersebut &lt;/i&gt;akan karam. Selain rambut tersebut berat juga tajam karena itu kalau &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;telah meletakkan rambutnya yang panjang tersebut ke atas kapal atau sampan maupun &lt;i&gt;ketek &lt;/i&gt;biasanya penghuninya akan menjadi “santapannya”. Kemudian mangsanya akan ditemukan oleh penduduk setempat dalam keadaan terapung dengan ubun-ubuh atau punggung sum-sum tulang belakang dalam keadaan bolong. Konon, &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;sangat menggemari wilayah ubun-ubun kepala dan bagian  sum-sum tulang belakang manusia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Hantu banyu yang memiliki habitat hidup di air biasanya menghuni gua-gua yang ada di sepanjang sungai dan lorong-lorong atau pusaran yang ada di dalam sungai dan di waktu-waktu tertentu akan memangsa korbannya. Caranya memangsa korban pun dengan cara menaikkan rambutnya ke perahu atau &lt;i&gt;ketek&lt;/i&gt;, saat penghuni &lt;i&gt;ketek &lt;/i&gt;kewalahan perahu atau &lt;i&gt;ketek&lt;/i&gt;nya akan karam, saat itu juga sang &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;akan memangsa korbannya. Karena berambut panjang, disinyalir hantu banyu ini berjenis kelamin laki-laki(?). Biasanya &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;sangat selektif memangsa korbanya, antara lain pendatang baru di daerah tersebut, anak-anak, atau juga remaja berusia akil baliq.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Mitos mengenai &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;ini berdasarkan tempat asalnya (hidup di air atau sungai Sumatera Selatan), sepertinya merupakan mitos asli Sumatera Selatan (&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;) bukan berasal dari luar negeri, terutama dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, Arab, dan sekitar Laut Tengah yang umumnya telah mengalami pengolahan lebih lanjut. Hal ini disebabkan mereka telah mengalami yang oleh Robert Redfí&lt;i&gt; et&lt;/i&gt;.&lt;i&gt; Al&lt;/i&gt;. disebut sebagai proses adaptasi (&lt;i&gt;adaptation&lt;/i&gt;). Walaupun tidak dipungkiri bahwa di negara lain juga punya kepercayaan atau mitos mengenai hantu yang hidup di air ini, seperti Inggris, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jepang&lt;/st1:city&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;, dan Cina. Namun, cerita &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;yang hidup di Sumatera Selatan (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;) punya versi dan karakteristik yang berbeda. Cerita &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;yang terkenal di Sumatera Selatan tidak terlepas dari struktur dan historis Sumatera Selatan yang memiliki banyak wilayah perairan. Tidak berlebihan jika dikenal dengan sebutan “Negeri Batanghari Sembilan” (Negeri sembilan Sungai, yaitu &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Ogan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Untuk mengetahui keterkaitan suatu mitos dari satu negara perlu melakukan studi komparatif dengan cara membandingkan versi atau varian cerita tersebut. Namun, sangatlah sulit karena memakan waktu yang tidak singkat. Menurut Danandjaja, pada dasarnya jika ada kesamaan antara cerita dengan cerita yang lain biasanya ada dua kemungkinan yang melatarbelakanginya, yaitu (1) monogenesis: suatu penemuan yang diikuti proses difusi (&lt;i&gt;diffusion&lt;/i&gt;) atau penyebaran, (2) sebagai akibat poligenesis, yang disebabkan oleh penemuan-penemuan yang sendiri (&lt;i&gt;independent invention&lt;/i&gt;) atau sejajar (&lt;i&gt;parallel invention&lt;/i&gt;) dari motif-motif cerita yang sama, di tempat-tempat yang berlainan serta dalam masa yang berlainan atau bersamaan.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Teori-teori yang tergolong monogenesis, antara lain teori Grimm bersaudara, teori mitologi matahari Max Muller, dan teori Indianist Theodore Benfley. Ahli-ahli dongeng Jerman, seperti Yacob dan Wilhelm Grimm yang hidup dalam abab ke-19 M, walaupun mengakui adanya kemungkinan itu, namun lebih menekankan pada difusi (monogenesis) sebagai penyebab adanya kesejajaran itu. Pendapat kedua bersaudara itu dianut kebanyakan ahli foklor di dunia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma;"&gt;Cerita mengenai &lt;i&gt;antu banyu &lt;/i&gt;ini demikian menarik untuk dibahas maupun diperbincangkan. Cerita mengenai hantu yang hidupnya di air ini bukan hanya dianggap sekedar meneguhkan kebenaran tahayul atau kepercayaan masyarakat kolektifnya. Niscaya, cerita mengenai hantu ini berguna bagi kolektifnya, setidak-tidaknya dapat mengajarkan kepada kita agar disiplin dalam menggunakan waktu dan mengharmoniskan kita dalam mengasihi anak-anak. Bagaimana bisa? Orang yang berlama-lama di air tanpa ada pekerjaan biasanya tidak efisien dalam menggunakan waktu dan orang tua harus memperhatikan anak-anaknya agar tidak lama berada di sungai.  &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Tahoma;"&gt;Jika tidak, hantu yang kerap kali berada di air ini siap memangsa Anda! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="SV" style="font-family: Tahoma;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;; font-size: 10; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-2744946853971659695?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://kampoengilir.blogspot.com' title='Cerita Antu Banyu'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/2744946853971659695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=2744946853971659695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2744946853971659695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2744946853971659695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2009/11/cerita-antu-banyu.html' title='Cerita Antu Banyu'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SvzOyvecWNI/AAAAAAAAAJM/vjdZmrCw0Oo/s72-c/IMG_1186.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-1751634988369295652</id><published>2009-09-18T09:23:00.003+07:00</published><updated>2009-09-18T09:35:23.956+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ucapan/adv'/><title type='text'>Selamat Idul Fitri 1430 H.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SrLxFLUrzKI/AAAAAAAAAJE/IY9mugyHvUk/s1600-h/the-jama-masjid-in-old-delhi-the-largest-mosque-in-india-built-by-shah-jahan-delhi-india-photographic-print-c12893045.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SrLxFLUrzKI/AAAAAAAAAJE/IY9mugyHvUk/s320/the-jama-masjid-in-old-delhi-the-largest-mosque-in-india-built-by-shah-jahan-delhi-india-photographic-print-c12893045.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382629575902350498" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cdjnet%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C02%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:35.4pt; 	mso-footer-margin:35.4pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Keluarga Besar &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic; color: rgb(0, 51, 0); text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Sumatera Selatan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="font-style: italic; color: rgb(0, 51, 0); text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;b style=""&gt;Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(0, 51, 0);"&gt;Mohon maaf lahir batin. Semoga kita saling memaafkan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b style=""&gt;Palembang&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b style=""&gt;, September 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: center;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Anwar Putra Bayu&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-1751634988369295652?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/1751634988369295652/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=1751634988369295652' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1751634988369295652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1751634988369295652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2009/09/selamat-idul-fitri-1430-h.html' title='Selamat Idul Fitri 1430 H.'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SrLxFLUrzKI/AAAAAAAAAJE/IY9mugyHvUk/s72-c/the-jama-masjid-in-old-delhi-the-largest-mosque-in-india-built-by-shah-jahan-delhi-india-photographic-print-c12893045.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5059106870599325045</id><published>2008-12-21T21:15:00.002+07:00</published><updated>2011-09-18T14:17:29.736+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Seni, Budaya, dan Pembangunan</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SU5QOoOdafI/AAAAAAAAAI0/LUpY7jwQn1w/s1600-h/Jhon"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282247625198627314" src="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SU5QOoOdafI/AAAAAAAAAI0/LUpY7jwQn1w/s320/Jhon" style="cursor: pointer; float: left; height: 124px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 93px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;&lt;span style="color: red;"&gt;Jhon Mc Glynn&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Sejak tahun 1998, Indonesia telah mengalami transisi bersejarah. Maka, tidak mengherankan jika di dalam masa transisi tersebut, banyak perubahan besar yang terjadi—termasuk penggantian pemerintahan beberapa kali, krisis ekonomi, munculnya kelompok-kelompok agama yang fundamentalis, peningkatan kesadaran terhadap hak otonomi daerah dlsb.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt; Kejadian-kejadian ini ini dibarengi juga dengan munculnya berbagai komentar dan kritik dari kalangan praktisi seni-budaya yang disalurkan melalui berbagai macam bentuk sastra, seni rupa, dan seni pertunjukan—terutama belakangan ini, sebelum dan sesudah pemerintah mensahkan Rancangan Undang-undang Anti Pornografi tanpa begitu menghiraukan suara protes dari berbagai macam kalangan.&lt;br /&gt;Selama masa transisi ini, sebagai tanggapan atas perubahaan yang terjadi, pelbagai lembaga donor, baik dari luar negeri maupun dari dalam negeri, memelopori sejumlah program atau inisiatif baru dalam bidang senibudaya yang bertujuan mendukung proses reformasi dan transformasi yang sedang terjadi di Indonesia, antara lain dengan menciptakan ruang publik dalam skala lokal bagi masyarakat yang ingin mengekspresikan minat individu dan menegosiasikan solusi bersama. Dapat disebutkan di sini, berbagai macam media alternatif seperti radio rakyat, pertunjukanpertunjukan oleh kelompok-kelompok teater di daerah, pelatihan fotoethnografi dlsb. Walupun kebanyakan usaha yang baru disebutkan dikemas dalam bingkai “seni-fokus” fokus dari usaha tsb. sebetulnya diletakkan pada dimensi “pembangunan.” Biarpun begitu, dapat dikatakan pula bahwa usahausaha ini merupakan sebuah trend baru, yaitu keterlibatan para “penerima” hasil pembangunan di tingkat lokal dalam proses pengambilan keputusan.  Sebagai salah satu contoh dari trend tsb.,dalam pelaksanaan Program Pengembangan Kabupaten (PPK) — yang sekarang bernama Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri (PNPM-Mandiri) — yang menyalurkan dana kepada tingkat kabupaten, kebijakan mengenai penggunaan dana mengharuskan keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan mengenai pemanfaatan sumber daya.&lt;br /&gt;Hal di atas memperkuatkan pandangan bahwa telah terjadi sebuah perubahan mendasar dalam proses pengambilan keputusan, apalagi kalau dibandingkan dengan masa pra-lengser ke prabon dimana hampir seluruh keputusan diambil di tingkat pusat tanpa masukan lokal. Hal ini menunjukkan pula bahwa dalam proses pembangunan negara, tak ada dan tidak boleh ada perbedaan tajam antara “pembangunan,” “pengembangan masyarakat,” dan “perubahan sosial.” Sebagaimana telah disebutkan, sejak tahun 1998 terdapat sejumlah usaha yang ditujukan menghubungkan kegiatan kebudayaan atau usaha kesenian dengan program pembangunan — terutama di daerah-daerah konflik seperti Aceh, Maluku, Papua dlsb. Selain menghibur, kebanyakan usaha itu mempunyai tujuan menyebarluaskan informasi mengenai pelbagai topik guna memacu pembicaraan di dalam masyarakat, terutama antara anggota yang masih menganut kebudayaan lisan daripada kebudayaan tulisan.&lt;br /&gt;Walaupun dapat terlihat tanda-tanda keberhasilan dalam beberapa program tersebut dan walaupun juga dapat dilihat pertumbuhan konsensus yang semakin luas, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat daerah, bahwa “kebudayaan” merupakan salah satu kunci dalam pengembangan masyarakat, sampai sekarang ini belum ada usaha sistematis dalam menggabungkan program pembangunan sarana dan prasarana dengan pembangunan di bidang atau sektor kreatif, termasuk pengembangan, pemeliharaan, dan pelestarian tradisi-tradisi seni budya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Kebudayaan Sebagai Perekat Bangsa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana disiratkan oleh pernyataan Kongres Pemuda pada tahun 1928 bahwa bahasa Indonesia adalah unsur pemersatu negara, demikian juga harus diakui bahwa tradisi-tradisi seni-budaya merupakan perekat suku dan bangsa. Guna menguji teori tersebut, mulai dua tahun lalu saya bersama sebuah tim survei yang dikoordinir oleh Yayasan Kelola dengan bantuan dari Bank Dunia, mengadakan penelitian mengenai tradisi-tradisi kesenian dan kebudayaan mana yang dianggap oleh para pelaku, ativis, dan pemerhati seni-budaya sebagai perwujudan identitas kebudayaan baik pada tingkat daerah maupun pada tingkat nasional.&lt;br /&gt;Pada waktu bersaman kami juga mempelajari tradisi atau kegiatan senibudaya mana yang perlu diberi bantuan dan usaha-usaha apa yang kalau diadakan dalam skala besar dapat membantu menjamin keterlangsungan pengembangan di dalam lingkungan seni budaya Indonesia.  Dalam usaha yang baru digambarkan, tim kami menyelenggarakan dua rapat curah pendapat di Jakarta dan Makasar dan delapan pertemuan kelompok terfokus di Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Kupang, dan Ambon. Para peserta, yang secara keseluruhan berjumlah 200 orang lebih, terdiri dari budayawan semua, termasuk seniman, pengarang, aktivis seni-budaya dlsb. Para peserta mewakili hampir semua bidang di dalam sektor kreatif.&lt;br /&gt;Kedua pertemuan curah pendapat berfokus pada isu konseptual seperti arti dan nilai kehidupan kreatif di dalam kehidupan nasional sedangkan pertemuan kelompok terfokus lebih memperhatikan tantangan kehidupan seni-budaya di tingkat lokal. Pada kedua jenis pertemuan ini, kami berusaha mencari jawaban untuk sederetan pertanyaan mengenai peranan kesenian dan kebudayan dalam kehidupan bangsa.&lt;br /&gt;Salah satu pertanyaan yang dilontarkan kepada peserta adalah “Tradisi atau kesenian apa dapat dilihat sebagai tradisi lintas-budaya, yaitu sebuah tradisi kesenian yang mempunyai cakupan geografis yang luas dan dapat menunjang identitas nasional?”&lt;br /&gt;Jawaban peserta bermacam-macam tapi dari 138 orang yang memberikan jawaban tertulis hampir 100 orang memandang seni pertunjukan dan sastra, termasuk tradisi lisan, sebagai bidang seni yang paling perlu diberikan dukungan.&lt;br /&gt;Kami juga menanyakan “Tradisi atau jenis kesenian daerah mana yang paling menunjang identitas lokal?” Ternyata, jawaban untuk pertanyaan ini hampir sama dengan jawaban tadi. Dari 138 orang yang memberikan jawaban tertulis, hampir 100 menyatakan bahwa seni pertunjukan dan sastra, termasuk tradisi lisan, adalah bentuk ekspresi kebudayaan yang paling memberikan warna khas pada daerahnya dan perlu ditunjang.  Dalam pembicaraan dengan peserta dan responden, kami kemudian menanyakan usaha apa yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah atau dengan bantuan dari pemerintah untuk mendukung perkembangan sektor kreatif baik pada tingkat lokal maupun pada tingkat propinsi dan nasional.  Dalam hal ini mayoritas peserta menyebutkan satu hal sebagai usaha yang paling perlu dikerjakan, yaitu didirikannya lembaga pendidikan dan  diselenggarakannya program pelatihan, baik pada tingkat lokal maupun pada tingkat propinsi dan nasional. Pendidikan dalam bidang pengelolaan seni serta pelatihan dalam bidang pemasaran bagi anggota sektor kreatif juga disebutkan sebagai hal yang mutlak perlu.&lt;br /&gt;Para peserta menghimbau pemerintah dan sektor swasta menyediakan bantuan finansial yang nyata — dalam bentuk hibah, misalnya — baik kepada perorangan maupun kepada komunitas di dalam sektor kreatif, yang bisa dipakai untuk perencanaan, investasi, dan penunjangan sektor kreatif, terutama melalui penyelenggaraan pertunjukan dan kegiatan kreatif lain.  Usulan lain yang sebaiknya dikerjakan termasuk didirikannya jaringan informasi untuk menghubungkan komunitas kreatif yang ada di Indonesia baik dengan komunitas domestik maupun dengan komunitas luar negeri; pemetaan dan dokumentasi sektor kreatif; dan penyediaan bantuan dana untuk festival, pameran, dan expo perdagangan di setiap tingkat.  Dibukanya ruang kreatif yang bebas dari campur tangan oleh berbagai macam kelompok berkepentingan khusus — pemerintah, suku, agama dlsb.&lt;br /&gt;dianggap sangat perlu juga. Memang kenyataan menunjukkan bahwa di dalam negara yang seluas Nusantara ini terdapat relatif sedikit tempat dimana semua warga bisa bebas berkarya atau berekspresi. Sebagai catatan, hampir di setiap tempat yang dikunjungi tim saya, terdapat gedung dan balai kesenian milik pemerintah yang tidak dikelola dengan baik dan segan digunakan oleh seniman di daerahnya gara-gara ketidakbebasan dan intervensi oleh pemerintah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Sebab-Musabab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam pertemuan-pertemuan diatas, salah satu topik pembicaraan lain adalah masalah yang dihadapi sektor kreatif pada umumnya dan seniman pada khususnya di daerah masing-masing. Ratusan jawaban tertulis yang kami peroleh dari kesepuluh tempat digabung kemudian dikelompokkan dan dihitung agar dapat dilihat masalah-masalah mana yang sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu. Dalam hal ini, paling sering disebutkan enam kendala yang menurut para responden paling menghambat pengembangan sektor kreatif, yaitu:&lt;br /&gt;1. Kekurangan visi dan pemikiran kreatif pada pihak pemerintahan, termasuk tidak adanya kebijakan kebudayaan yang komprehensif dan diterapkan secara konsisten;&lt;br /&gt;2. Kekurangan pengetahuan pada pihak pemerintahan mengenai sektor kreatif serta kekurangan apresiasi terhadap nilai kegiatan sektor kreatif, baik nilai spiritual maupun nilai ekonomis;&lt;br /&gt;3. Kekurangan penyaluran dana kepada sektor kreatif yang telah berlangsung puluhan tahun;&lt;br /&gt;4. Represi oleh pihak pemerintah terhadap kegiatan kebudayaan, terutama kegiatan yang tidak mencerminkan pandangan pemerintah pusat yang cenderung bersifat sentris dan atas-ke-bawah;&lt;br /&gt;5. Kekurangan keterlibatan komunitas kreatif dalam sistem tata negara di setiap tingkat pemerintahan;&lt;br /&gt;6. Kekurangan keahlian manajemen dan berorganisasi pihak sektor kreatif.&lt;br /&gt;Dari keenam jawaban di atas dapat dilihat bahwa lima diantaranya berkaitan langsung dengan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan, pemeliharaan, dan pelestarian tradisi-tradisi kesenian dan kebudayaan.  Masalah-masalah yang baru disebutkan itu bukan masalah kecil. Dan apabila jawaban-jawaban itu benar, apa yang bisa dikerjakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Perubahan Kebijakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam survei lanjutan, dimana kami menanyakan apa yang sebaiknya dikerjakan, para responden hampir secara mutlak menyatakan tidak akan ada penyelesaian masalah tanpa perubahan yang mendasar dan menyeluruh di pihak pemerintah — dari tingkat atas sampat tingkat bawah. Pembenahan setengah hati atau perombakan yang bersifat tambal sulam tak akan berhasil mengubah keadaan.&lt;br /&gt;Berdasarkan asumsi yang baru disebutkan, apabila pemerintah hendak dihimbau meninjau kembali pandangannya terhadap sektor kreatif dan mengikutsertakan sektor kreatif di dalam perencanaan, seharusnya disadari bahwa perubahan pandangan ini mesti terjadi di setiap tingkat pemerintahan—bukan di tingkat pusat atau di tingkat lokal saja. Tak akan ada perubahan di tingkat bawah tanpa perubahan di tingkat pusat dan sebaliknya juga.&lt;br /&gt;Sebagaimana dinyatakan hampir semua responden, perkembangan sektor kreatif di negara ini tak akan terjadi tanpa perubahan hakiki baik  dalam cara pemerintah memandang sektor kreatif maupun dalam cara pemerintah membantu sektor ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Pembentukan Program Komunitas Kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan kesimpulan yang disampaikan oleh para responden di atas serta wawancara yang dilakukan di luar rapat dengan lebih dari 70 orang lain, para anggota tim survei kami mengusulkan pembentukan sebuah wadah atau program baru bertajuk “Program Komunitas Kreatif.” Meski perlu didirikan dengan bantuan dari pemerintah, salah satu target jangka menengah adalah penjelmaan program ini menjadi sebuah lembaga otonom yang bertanggungjawab atas pelestarian dan penunjangan kehidupan kreatif serta perlindungan atas warisan kreatif nasional.  Setiap kali ada perubahan dalam pemerintahan, ada perubahan juga dalam kebijakan pemerintah terhadap sektor kreatif dan aset-aset kebudayaan. Pembentukan wadah baru ini dimaksudkan memberikan konsistensi pada pengembangan sektor kreatif secara nasional.  Gagasan kami ini sebagian dilhami oleh program WPA (Works Progress Adminstraion), sebuah program kesenian yang didanai pemerintah Amerkia Serikat selama masa depresi pada tahun 1930an. Melalui program tsb., sejumlah usaha berskala besar diselenggarakan dalam bidang seni-budaya yang manfaatnya dirasakan hingga saat ini. Salah satu contoh adalah perekaman dan transkripsi cerita-cerita rakyat—kebanyakan cerita lisan—dan lagu-lagu daerah, yang masih menjadi inspirasi bagi penulius dan seniman masa kini. Contoh lainnya adalah penerbitan semacam panduan seni budaya untuk seluruh negara bagian yang di kemudian hari sangat mendukung industri wisata dalam negeri.&lt;br /&gt;Sumber lain dari gagasan di atas berasal dari Indonesia, terutama pada tingkatan lokal dimana para wakil seni-budaya lokal — seperti seniman, penulis, penyair, penyanyi, pengukir, penari dan lain sebagainya —dipandang lebih jujur dan lebih prihatin terhadap pembangunan lokal dibandingkan dengan pemimpin pemerintah.&lt;br /&gt;Komunitas seni-budaya ini serta tradisi-tradisi kebudayaan yang mereka lestarikan merupakan wadah ilmu lokal yang sampai sekarang belum cukup dipelajari atau dimanfaatkan oleh para pengambil keputusan di kalangan pemerintahan, padahal justru dengan memberikan dorongan dan semangat  pada para wakil budaya ini akan terbentuk sebuah koalisi yang bersiap ikut membangun negara.&lt;br /&gt;Karena “kebudayaan” ikut memberikan arti kepada sebuah masyarakat, maka kesenian merupakan bagian yang tak boleh terpisahkan dari proses pengembangan daerah hingga nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Misi dan Tujuan Program Komunitas Kreatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan saran dan usulan yang kami peroleh dari responden, kami menyusun misi dan tujuan program Komunitas Kreatif yang dapat diringkas sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Menyusun pedoman, kebijakan, dan peraturan yang akan diperlukan dalam usaha mendirikan jaringan komunitas kreatif secara nasional;&lt;br /&gt;2. Menciptakan mekanisme penunjangan kebudayaan yang otonomom, independen, dan dapat dipercaya pada semua tingkat serta mendirikan kerangka sistem finansial dan prasarana baik bagi sektor pemerintah maupun sektor swasta untuk sektor kreatif;&lt;br /&gt;3. Mendirikan jaringan informasi dan/atau memperbaiki jaringan informasi yang sudah ada;&lt;br /&gt;4. Memfasilitasi akses kepada sektor kreatif dan hasil karya sektor tersebut, baik untuk warga Indonesian maupun untuk luar negeri;&lt;br /&gt;5. Mengadakan atau mensponsori penelitian dan dokumentasi mengenai seni-budaya Indonesia;&lt;br /&gt;6. Mengadakan atau menunjang usaha yang mampu meningkatkan daya kemampuan sektor kreatif;&lt;br /&gt;7. Memfasillitasi kegiatan yang menunjang pendidikan dan/atau penghargaan seni untuk khalayak ramai;&lt;br /&gt;8. Mengadakan atau memfasilitasi penciptaan jaringan antara komunitas-komunitas kreatif;&lt;br /&gt;9. Mengadakan advokasi untuk sistem hak milik dan/atau hak cipta untuk sektor kreatif;&lt;br /&gt;10. Menunjang pendekatan budaya dalam usaha pembangunan nasional serta menciptakan peluang pekerjaan dan akses pasar yang adil untuk sektor kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;G. Khayalan atau Kemungkinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah penciptaan Komunitas Kreatis sebuah khayalan? Sebenarnya, berdasarkan proposal yang kami susun dan dengan bantuan keuangan dari Bank Dunia, sejak tahun lalu sudah mulai diselenggarakan sebuah pilot project untuk Komunitas Kreatif di beberapa kabupaten di NTT, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah. Program ini dilaksanakan melalui program PNPM.  Apakah pilot project itu akan berhasil, masih menjadi pertanyaan besar, apa lagi kalau tidak didukung secara berkesinambungan oleh pemerintah.  Namun saya yakin, dengan keberhasilan program seperti ini akan lebih terwujud pula negara yang lebih demokratis—sebuah hikmah yang tak dapat dihitung nilainya.&lt;br /&gt;Di dalam pasal kesembilan belas Deklarasi Hak Aasasi Manusia tertulis, “Setiap manusia mempunyai hak berekspresi dan berpendapat.” Secara tersirat, pasal ini memberikan pemayongan buat semua bentuk seni dan hampir segala jenis ekspresi seni. Dalam pasal ke-27 dari deklarasi yang sama terbaca, “Setiap manusia mempunyai hak untuk berpartisipasi secara bebas dalam kehidupan kebudayaan komunitas.” Dalam hal ini “partisipasi” tidak saja berarti hak untuk menciptakan tarian, tulisan, lukisan, tenunan, musik dan film tapi berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan kreatif komunitas.&lt;br /&gt;Demokrasi dapat berakar di tempat mana pendapat kelompok minoritas memainkan peranan dalam kehidupan sosial dan budaya. Kekayaan kebudayaan Indonesia justru terletak kepada keanekaragaman bentuk seni dan jenis ekspresi kreatif yang terdapat di kepulauan ini. Maka sudah waktunya ada kebangkitan baru — kebangkitan peranan kebudayaan dan kebijakan pemerintah. Sebagaiamana dulu pada tahun 1928 para budayawan muda mengumumkan harapan untuk berdirinya sebuah negara bernama Indonesia, sudah waktunya, satu abad kemudian, para budayawan Indonesia memainkan peranan lebih aktif dalam perkembangan dan kehidupan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #000099;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Catatan: Tulisan ini pernah disampaikan pada Seminar Internasi/onal&lt;br /&gt;dan Festival Tradisi Lisan, 1-3 Desember 2008 di Wakatobi yang diselenggarakan oleh Asosiasi Tradisi Lisan, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-5059106870599325045?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/5059106870599325045/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=5059106870599325045' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5059106870599325045'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5059106870599325045'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/12/seni-budaya-dan-pembangunan.html' title='Seni, Budaya, dan Pembangunan'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SU5QOoOdafI/AAAAAAAAAI0/LUpY7jwQn1w/s72-c/Jhon' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5825134378023925180</id><published>2008-12-10T10:30:00.003+07:00</published><updated>2011-09-18T14:18:07.676+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Dialog Antar Tradisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;/Mudji Sutrisno/&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;Ada 3 tradisi yang membuat seseorang mengembangkan dirinya dalam&lt;br /&gt;kebudayaan. Pertama, tradisi lisan. Ketika tuturan dan wacana serta yang umumnya&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/ST8443L3zFI/AAAAAAAAAIk/Ie821vV-tVs/s1600-h/Muji+Edit.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277999837839084626" src="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/ST8443L3zFI/AAAAAAAAAIk/Ie821vV-tVs/s200/Muji+Edit.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 115px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 90px;" /&gt;&lt;/a&gt;disebut diskursus menjadi tempat berekspresi, disitulah orang menyusun pengetahuan dan&lt;br /&gt;menghayati norma atau nilai dalam etos ataupun estetika. Tradisi adalah ruang budaya&lt;br /&gt;dimana ia merupakan rahim tempat belajar hidup, bersikap dan memaknai realitas dari&lt;br /&gt;warisan yang diterima dalam pepatah, gurindam, peribahasa dan seni-seni bernafaskan&lt;br /&gt;ajaran hidup baik dan hidup bahagia. Tradisi lisan merupakan ruang ekspresi lisan dan&lt;br /&gt;wacana sebelum ditulis dalam tradisi tulisan. Dengan kata lain, kelisanan merupakan&lt;br /&gt;ruang bertutur dari anggota masyarakat yang merawat hidup bermakna sebelum&lt;br /&gt;keberaksaraan dituliskan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tradisi tulis adalah tradisi mulai diberaksarakannya dalam simbol&lt;br /&gt;alfabetisasi yang dengan abjad menuliskan pengalaman-pengalaman hidup yang ada&lt;br /&gt;dalam tradisi lisan untuk dituliskan. Sejarah bahasa tulis merupakan sintesis antara apa&lt;br /&gt;yang disebut oleh Ferdinand de Saussure dalam bahasa formal tertulis yang mengikuti&lt;br /&gt;persyaratan logika keberaksaraan hingga dimengerti sebagai langue misalnya dalam&lt;br /&gt;kaidah bahasa Indonesia tulis sebuah kalimat menjadi dimengerti kalau mengikuti aturan&lt;br /&gt;logika bahasa tulis S-P-O-K (Subjek – Predikat – Objek – Keterangan). Tradisi tulisan&lt;br /&gt;disebut oleh Wolter J. Ong sebagai keberaksaraan yang disepakati pemakai bahasa untuk&lt;br /&gt;menuliskan pengalaman menghayati hidup bukan dalam kelisanan dan bukan sebagai&lt;br /&gt;diskursus. Apa yang hilang ketika dari tradisi lisan pengalaman hidup ditulis? Roh,&lt;br /&gt;suasana dan konteks tak tertuliskan dan tak terbahasakan secara alfabetikal dalam&lt;br /&gt;kelisanan tereduksi oleh hukum logika tulis yang dalam semiotika (sistem tanda) mau&lt;br /&gt;dikembalikan menjadi terbaca. Apa yang hilang dari kelisanan ketika dituliskan? Adalah&lt;br /&gt;seluruh suasana tuturan dan getar cakapan-cakapan yang tidak terangkum dalam logika&lt;br /&gt;bahasa tulis. Pertanyaan kritis disini adalah pada awalnya lebih dahulu terjadi tradisi lisan&lt;br /&gt;dengan episteme (jejak pengetahuan yang merupakan pengetahuan lapangan hidup&lt;br /&gt;sehari-hari) ataukah tradisi tulisan yang merupakan tempat studi refleksi atas realitas&lt;br /&gt;dalam bahasa tulis?&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;Karena itu, Ferdinand de Saussure melanjutkannya dalam wilayah parole yaitu&lt;br /&gt;wilayah bahasa cakap-cakap dan lisan sehari-hari, namun bila mau meneliti secara ilmiah&lt;br /&gt;refleksi realitas tidak bisa disini, tetapi harus di wilayah langue (bahasa resmi).&lt;br /&gt;Dari dua tradisi lisan dan tulisan, ketika seseorang lahir didalamnya, maka ia tidak&lt;br /&gt;hanya sudah berada dalam rahim salah satu tradisi, misalnya lisan, tetapi sekaligus ia&lt;br /&gt;mengemban tradisi yang taken for granted dalam dirinya itu untuk dikembangkan dan&lt;br /&gt;menjadi tugas kebudayaan dalam membahasakan dan memaknai kenyataan. Disini agar&lt;br /&gt;seseorang melanjutkan tradisinya sebagai tugas kebudayaan ada dua syarat yang harus ia&lt;br /&gt;penuhi. Syarat pertama ia harus memahami dan hidup dari tradisinya serta mampu&lt;br /&gt;menangkap roh-nya. Syarat kedua ia harus mampu mendialogkannya dengan&lt;br /&gt;perkembangan traidisi baru dalam dinamika kebudayaan yang ia jumpai. Dengan kata&lt;br /&gt;lain, roh tradisi lisan, dimana misalnya seni adalah mempermuliakan kehidupan dan&lt;br /&gt;merayakannya dalam upacara, ritus festival lalu bertemu dengan formalisasi keharusan&lt;br /&gt;penulisan secara logis, rasional, sistematis, disana: roh kelisanan yang memuliakan hidup&lt;br /&gt;harus tetap menemukan perayaannya dalam keberaksaraan tradisi tulisan. Sebab,&lt;br /&gt;formalisasi tulisan atau teks tertulis itu berciri membakukan, namun mudah membekukan&lt;br /&gt;apa-apa yang festival dan makna perayaan tak tertulis dari pengalaman menghayati&lt;br /&gt;kehidupan.&lt;br /&gt;Bagaimana ikhtiar mengambil roh tradisi lisan? Dengan hidup didalamnya,&lt;br /&gt;merayakan dan menyerap melalui para local genius: kearifan-kearifan budaya setempat;&lt;br /&gt;dengan mendeskripsi apa yang benar-benar hidup dan sedang dihidupi oleh budaya&lt;br /&gt;tradisi lisan serta dari dalam (intrinsik) berusaha membaca makna di balik tanda; renung&lt;br /&gt;arti di balik penanda dan nyanyi-nyanyi kebijaksanaan hidup di balik dongeng-dongeng&lt;br /&gt;lisan, pantun, hikayat kebijaksanaan serta rupa-rupa ajaran harmoni alam, harmoni langit&lt;br /&gt;dan harmoni antar sesama. Tradisi kelisanan disini amat muncul dalam religi bumi yang&lt;br /&gt;memuliakan kehidupan tanah dan air dimana manusia mendapatkan hidupnya dari bumi,&lt;br /&gt;maka ia tidak akan memperkosanya dan menghancurkannya. Sementara itu religi langit&lt;br /&gt;lebih menggantungkan pujian syukur atas kehidupan pada yang di LANGIT, sehingga&lt;br /&gt;ekspresi hormat pada bumi kadang dikalahkan pada yang vertikal.&lt;br /&gt;Dalam dialog antara tradisi lisan dan tulisan, bila salah satu tradisi belum&lt;br /&gt;dipahami oleh yang bersangkutan sebagai rahim budayanya kemudian ia dihadapkan&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;pada tradisi berikutnya, akankah terjadi hibriditas atau wajah indo dalam pembatinan&lt;br /&gt;rahim tradisi? Lebih tajam lagi, apabila seseorang belum meminum dari sumur-sumur&lt;br /&gt;tradisinya, apakah ia akan meloncat dalam keadaan terpecah ke dalam tradisi mutakhir&lt;br /&gt;yang menerpanya: tradisi kelisanan kedua atau secondary orality dalam budaya media tv&lt;br /&gt;dan talkshow? Jawaban pertama, dari mazhab kehidupan harus berakar menegaskan&lt;br /&gt;pentingnya akar atau oasis tradisi seseorang untuk identitasnya. Jawaban kedua, dari&lt;br /&gt;mazhab bahwa seseorang langsung berziarah sejak ia dilahirkan dalam tradisinya apa pun&lt;br /&gt;isinya, tidak usah mencari-cari akar, namun bertitik tolak dari eksistensinya ia berhak&lt;br /&gt;terus melanjutkan proses budayanya semisal seseorang yang lahir sekaligus dengan&lt;br /&gt;campuran kebatakan, kejawaan dan keindoensiaan di Jakarta, tidak harus ia menyelami&lt;br /&gt;tiga tingkatan tradisi bahasa Jawa halus dan tidak harus tahu bahasa Jawa, namun yang&lt;br /&gt;penting adalah proses ziarah Indonesia dan pasca-Indonesia. Dengan demikian ruang&lt;br /&gt;dialog antar tradisi bisa sekaligus dilakukan bertahap dan serentak antara kelisanan dan&lt;br /&gt;tulisan, antara kejawaan dan keindonesiaan, antara tradisi lisan dengan tulisan dan yang&lt;br /&gt;paling akhir dengan budaya visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: #3366ff; font-size: 78%;"&gt;Catatan: Tulisan ini telah disajikan pada Seminar Internasional dan Festival Tradisi Lisan VI, 1-3 Desember 2008 di Wakatobi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-5825134378023925180?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/5825134378023925180/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=5825134378023925180' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5825134378023925180'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5825134378023925180'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/12/dialog-antar-tradisi.html' title='Dialog Antar Tradisi'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/ST8443L3zFI/AAAAAAAAAIk/Ie821vV-tVs/s72-c/Muji+Edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-2379525266447484517</id><published>2008-12-07T12:10:00.002+07:00</published><updated>2011-09-18T14:19:10.165+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Feature'/><title type='text'>Muda Balia: Still around to tell the tale</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;Hotli Simanjuntak&lt;/b&gt;, &lt;a href="http://www.thejakartapost.com/"&gt;The Jakarta Post&lt;/a&gt;, Banda Aceh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;With his sturdy build and skin darkened by hours toiling under the sun, Muda Balia looks more like a farmer than a storyteller. Muda, 29, who comes from Senebok Alur Buloh village in South Aceh, did work as a farmer for a while after returning to his village to take care of his sick mother. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "My skin beca&lt;/span&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/STtfQzU_MLI/AAAAAAAAAIc/ObhWZ6OX_rc/s1600-h/Muda+Balia.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276916130655449266" src="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/STtfQzU_MLI/AAAAAAAAAIc/ObhWZ6OX_rc/s200/Muda+Balia.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 150px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;me dark because it was too frequently exposed to sunshine when I was farming back home," he said.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   When Muda met with &lt;i&gt;The Jakarta Post&lt;/i&gt;, he had just arrived in Banda Aceh after traveling from his village by van.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "I've been invited to perform my traditional Acehnese storytelling show in Kalimantan," he said.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; With only a few hundred thousand rupiah on him, Muda left his village, his beloved mother and his wife, who was 5 months pregnant, to take his show on the road. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   But despite the invitation to perform in Kalimantan, Muda says there is little demand for his storytelling skills.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; "Today, traditional storytelling is no longer popular, as modern society is filled with technology and entertainment," Muda told the &lt;i&gt;Post&lt;/i&gt;.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; "In the past, communities used the art of storytelling as the most effective medium of communication to convey something, ranging from a religious message to just entertainment." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; Even during colonial times, he added, the Dutch could not quell the rebellion by the Acehnese, who were inspired by the story of &lt;i&gt;Perang Sabi&lt;/i&gt; as told by the Acehnese storytellers.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; During the time of the military operation in Aceh between 1989 and 1998, which was carried out by the Indonesian government to quash the Free Aceh Movement, elders in the region would secretly recount to local youths the story of &lt;i&gt;Perang Sabi&lt;/i&gt; to arouse their courage so that they would be ready to die fighting.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   The art of storytelling is an integral part of everyday life -- religious, social and cultural -- for the Acehnese.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   The Acehnese have their own rich oral tradition, and have several names for the art of storytelling, including &lt;i&gt;peugahaba&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;meuhaba&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;pohaba&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;pakaba&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;poh cakra&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;poh tŠm&lt;/i&gt; and &lt;i&gt;cang panah&lt;/i&gt;.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; The art of storytelling in Aceh has had its ups and downs over the years. Muda said the art lost its popularity in Aceh after the political turbulence of 1965, when members of the Indonesian Communist Party were massacred. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; "At that time, the rulers saw the potential danger brought about by the art of storytelling in Aceh, so the government kidnapped all storytellers and killed them," he said. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; As a result, storytelling, particularly the traditional style, virtually disappeared as few storytellers remained to pass on the skill. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "Now there are perhaps no more than 10 storytellers in Aceh, most of them elderly," Muda said.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; As one of Aceh's few remaining traditional storytellers, Muda is very concerned about the preservation and development of this art. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; "If the government does not immediately take action, the young generation in Aceh will never know that Aceh used to have excellent literary artists," he said. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "If the oral tradition is lost, it is the Aceh people themselves that will miss out."  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; At present, there is not a single written literary work that has recorded the tales that traditional storytellers narrate. Generally, these tales are learned by heart. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "If the storyteller dies, these stories will also die and be buried with them."  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; Muda said his greatest wish was to preserve Acehnese traditional stories by producing a book of all the stories he knows by heart. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   However, he said, financial difficulties meant he had to concentrate on being a farmer first to support his family.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "It will take a lot of time and money to be able to write down all the stories that I know by heart," he said.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; "I have opted to feed my family first. If our economic situation improves, hopefully before I die, I can realize this dream." &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; Muda said he was inspired by the Acehnese traditional storyteller Matlapee, who was thought to have had a mental disorder and was said to be mad. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; Matlapee was rumored to have slept for seven days and nights and upon waking told his mother a spirit had come to him and told him long-forgotten stories. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   Matlapee later passed on these stories to four of his disciples: Zulkifli, Siaron, Dawod Baneng and Tgk Adnan.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; Acehnese traditional storytelling developed rapidly in the western and southern coastal areas. Tgk Adnan spread the art of storytelling along the eastern coastal area on his travels selling medicine. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "Tgk. Adnan used this art of storytelling as a medium of communication with his buyers," Muda said.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   These four disciples of Matlapee have since died -- and many of the stories they told have died with them.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   Muda was one of Zulkifli's students.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   Traditional props, such as a sword, &lt;i&gt;bangsi&lt;/i&gt; (flute), pillow and a mat, are used to tell a story.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt;   "It all depends on the story being told," Muda said.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman,Ms Serif; font-size: 100%;"&gt; "I cling to the principle of the traditional art of story telling, whereas other remaining storytellers have opted for more contemporary and contextual forms of storytelling in keeping with the times."&lt;/span&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-2379525266447484517?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/2379525266447484517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=2379525266447484517' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2379525266447484517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2379525266447484517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/12/muda-balia-still-around-to-tell-tale.html' title='Muda Balia: Still around to tell the tale'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/STtfQzU_MLI/AAAAAAAAAIc/ObhWZ6OX_rc/s72-c/Muda+Balia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-8740520878201530542</id><published>2008-12-06T10:34:00.002+07:00</published><updated>2011-09-18T14:19:29.936+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pengembangan Tradisi Lisan Butuh Kreativitas</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/STnzoi2KgBI/AAAAAAAAAIU/8qXoMDLlayg/s1600-h/Gambar+Tradisi+lisan.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276516316315549714" src="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/STnzoi2KgBI/AAAAAAAAAIU/8qXoMDLlayg/s200/Gambar+Tradisi+lisan.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 151px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 200px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKATOBI, JUMAT--Pengembangan tradisi lisan perlu kreativitas dan imajinasi untuk melahirkan kreasi baru sehingga menarik minat masyarakat. Dengan demikian, tradisi lisan bisa menjadi penopang kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dalam ekonomi kreatif, kebudayaan bisa jadi tambang uang. Tetapi, syaratnya butuh orang yang punya imajinasi dan kreativitas. Tradisi lisan juga bisa dilihat sebagai deposit ekonomi kreatif,” kata Mukhlis PaEni, staf ahli menteri Bidang Pranata Sosial Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dalam Seminar Internasional Tradisi Lisan VI dan Festival Tradisi Lisan Maritim di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Rabu (3/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kata Mukhlis, tradisi lisan juga harus dilihat sebagai potensi pendidikan untuk menjelaskan kepada generasi muda mengenai nilai budaya, persatuan dan kesatuan, serta tradisi yang bisa dijadikan pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murti Bunanta dari Universitas Indonesia mengatakan, tradisi lisan seperti cerita rakyat perlu diperkenalkan kepada anak-anak. Tradisi lisan ini perlu dikemas secara menarik dan dinamis. Misalnya puisi, buku bergambar, pertunjukan tangan dan boneka, teater, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zainal Kling, pengajar dari Malaysia, menjelaskan, harus ada strategi penyampaian tradisi lisan kepada masyarakat supaya tetap eksis. ”Kekayaan budaya ini seharusnya dimanfaatkan untuk membentuk konsep-konsep pengetahuan,” ujarnya. (ELN) &lt;a href="http://www.kompas.com/"&gt;(www.kompas.com)&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-8740520878201530542?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/8740520878201530542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=8740520878201530542' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/8740520878201530542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/8740520878201530542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/12/pengembangan-tradisi-lisan-butuh.html' title='Pengembangan Tradisi Lisan Butuh Kreativitas'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/STnzoi2KgBI/AAAAAAAAAIU/8qXoMDLlayg/s72-c/Gambar+Tradisi+lisan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-6433971669982744987</id><published>2008-11-17T11:06:00.000+07:00</published><updated>2008-11-17T11:08:57.696+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Tradisi Lisan Diabaikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Punya Potensi Besar bagi Industri Kreatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta, &lt;a href="http://cetak.kompas.com"&gt;Kompas&lt;/a&gt; - Tradisi lisan saat ini masih diabaikan, baik dari sisi kajian ilmu pengetahuan maupun aspek ekonominya. Padahal, tradisi lisan warisan budaya bangsa Indonesia yang sangat beragam, mempunyai potensi besar untuk dikembangkan dari sisi budaya maupun ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tradisi lisan juga bernilai ekonomis bagi masyarakat,” kata Ahli Menteri Bidang Pranata Sosial Departemen Kebudayaan dan Pariwisata sekaligus salah seorang Pembina Asosiasi Tradisi Lisan, Mukhlis PaEni, dalam jumpa pers yang diselenggarakan Asosiasi Tradisi Lisan dan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sabtu (8/11) di Jakarta. Kegiatan itu terkait dengan penyelenggaraan Seminar Internasional Tradisi Lisan Nusantara Ke-VI dan Festival Tradisi Lisan Maritim di Wakatobi pada 1-3 Desember 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mukhlis, pewarisan budaya berlaku sebagai proses sosial dan umumnya secara lisan, sebelum orang mengenal budaya tulis. Tradisi lisan antara lain narasi, legenda, anekdot, pantun, atau syair. Dalam cakupan lebih luas, tradisi lisan dapat berupa pembacaan sastra, visualisasi sastra dengan gerakan dan tari, hingga penyajian cerita melalui aktualisasi adegan oleh pemeran. Tradisi lisan juga berkaitan dengan sistem kognitif masyarakat, seperti adat istiadat, sejarah, etika, sistem geneologi, dan sistem pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mukhlis, tradisi lisan merupakan deposit penting dalam khazanah tambang budaya Indonesia. Terdapat ratusan etnik dan budayanya di Tanah Air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Di era ekonomi dan industri kreatif, deposit ini seharusnya dikelola untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber inspirasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mukhlis menambahkan, memasukkan tradisi sebagai bagian dari industri kreatif bukan berarti mentah-mentah mencabut tradisi itu dari akarnya dan ”menjualnya” atau mengomersialisasikannya begitu saja. Namun, tradisi lisan itu menjadi sumber inspirasi untuk penciptaan produk kreatif, misalnya musik, program televisi, film, teater, opera, dan produk lain yang mempunyai nilai ekonomis. Dapat pula dibuat semacam duplikasi yang khusus untuk industri kreatif. Dia mencontohkan naskah I La Galigo dari Makasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Naskah tersebut pernah dijadikan pertunjukan oleh Robert Wilson dan dipentaskan di luar negeri. Untuk menonton I La Galigo, orang Indonesia harus nonton di teater di Amsterdam, Belanda, dan membayar puluhan euro,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki nilai tambah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Asosiasi Tradisi Lisan sekaligus pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Pudentia MPPS, mengatakan, pada intinya bagaimana tradisi lisan yang sangat kaya di Indonesia tersebut agar mempunyai nilai tambah dan kekuatan untuk masuk ke industri kreatif. Asosiasi Tradisi Lisan sendiri, setelah merevitalisasi sejumlah tradisi lisan, kini mulai memikirkan bagaimana agar tradisi lisan tersebut dapat terus teraktulisasi di dalam masyarakat dan memberikan nilai tambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Terkadang setelah revitalisasi, tradisi tersebut tetap sulit untuk mendapatkan tempat di masyarakat dan dilupakan kembali,” ujar Pudentia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Asosiasi Tradisi Lisan mulai membuat sejumlah film, salah satunya tentang Teater Mak Yong, sebuah teater Melayu yang hampir punah. Lembaga nirlaba tersebut juga mengumpulkan ratusan hasil penelitian mengenai mitos, cerita daerah, kesenian tradisional, bahasa, kajian etnografi, dan komunikasi yang didokumentasikan lembaga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Wakatobi Hugua, dalam kesempatan yang sama, berpendapat, tradisi lisan bagian dari eksistensi manusia. Kabupaten Wakatobi yang merupakan daerah kepulauan tidak hanya kaya akan alam bawah lautnya, tetapi juga budaya termasuk tradisi lisannya. (INE)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sumber Kompas&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-6433971669982744987?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/6433971669982744987/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=6433971669982744987' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/6433971669982744987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/6433971669982744987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/11/tradisi-lisan-diabaikan.html' title='Tradisi Lisan Diabaikan'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-4184370498295935101</id><published>2008-10-10T07:59:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:20:22.102+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Informasi'/><title type='text'>SEMINAR INTERNASIONAL DAN FESTIVAL TRADISI LISAN NUSANTARA VI</title><content type='html'>&lt;div style="font-weight: bold; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: 180%;"&gt;LISAN VI&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;link href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CDJNETM%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml" rel="File-List" style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/link&gt;&lt;span style="font-size: 180%; font-weight: bold;"&gt;&lt;o:smarttagtype name="country-region" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="City" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="place" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype name="date" namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;/span&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Wingdings; 	panose-1:5 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:Tahoma; 	panose-1:2 11 6 4 3 5 4 4 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:1627421319 -2147483648 8 0 66047 0;} @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	mso-font-alt:"Century Gothic"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0cm; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:Calibri; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} a:link, span.MsoHyperlink 	{color:blue; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed 	{color:purple; 	text-decoration:underline; 	text-underline:single;} p.ListParagraph, li.ListParagraph, div.ListParagraph 	{mso-style-name:"List Paragraph"; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.ListParagraphCxSpFirst, li.ListParagraphCxSpFirst, div.ListParagraphCxSpFirst 	{mso-style-name:"List ParagraphCxSpFirst"; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.ListParagraphCxSpMiddle, li.ListParagraphCxSpMiddle, div.ListParagraphCxSpMiddle 	{mso-style-name:"List ParagraphCxSpMiddle"; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.ListParagraphCxSpLast, li.ListParagraphCxSpLast, div.ListParagraphCxSpLast 	{mso-style-name:"List ParagraphCxSpLast"; 	mso-style-type:export-only; 	margin-top:0cm; 	margin-right:0cm; 	margin-bottom:0cm; 	margin-left:36.0pt; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-add-space:auto; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:36.0pt 36.0pt 36.0pt 36.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:203637627; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1651791208 67698709 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-upper; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:32.2pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:68.2pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l1 	{mso-list-id:601306730; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1296583902 -977663046 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-start-at:6; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:25.1pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l2 	{mso-list-id:1124539907; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1101623082 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l2:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3 	{mso-list-id:1677074981; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-432646354 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l3:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l3:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} @list l4 	{mso-list-id:1895189968; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1503787388 997864502 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579 69271567 69271577 69271579;} @list l4:level1 	{mso-level-tab-stop:none; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-ascii-font-family:Georgia; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-hansi-font-family:Georgia; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SO6q2U3wygI/AAAAAAAAAGc/rXUS1hQnm10/s1600-h/Lisan+Tiga.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255325665480198658" src="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SO6q2U3wygI/AAAAAAAAAGc/rXUS1hQnm10/s200/Lisan+Tiga.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 213px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 221px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;1.Latar Belakang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Salah satu kekayaan kultural masyarakat &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;In&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;donesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; sebagaimana sering diungkapkan orang, adalah apa yang biasa disebut &lt;i&gt;intangible cultural&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt; heritage (ICH)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;. Salah satu perwujudan ICH yang penting untuk diperhatikan adalah tradisi lisan. Sebagai produk kultural, tradisi lisan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; mengandung berbagai hal yang menyangkut hidup dan kehidupan komunitas pemiliknya, yang &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;disampaikan melalui &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;tuturan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; dan sebagiannya ada yang kemudian diabadikan dalam naskah.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Sebagai produk kultural pula, tradisi bukanlah sesuatu yang statis tanpa perubahan dan perkembangan. Tradisi selalu mengalami transformasi seiring dengan dinamika sosial masyarakat itu sendiri, baik transformasi isi, bentuk, maupun keduanya dan berganti dengan tradisi yang baru yang dirasakan oleh masyarakatnya lebih cocok dengan situasi,  kondisi , dan minat yang berlaku. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Seminar ke VI ini mengetengahkan tema “Tradisi Lisan sebagai Kekuatan Kultural Membangun Perad&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SO6qIREvPfI/AAAAAAAAAGU/yL00sEKDOns/s1600-h/Lisan+Dua.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5255324874186898930" src="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SO6qIREvPfI/AAAAAAAAAGU/yL00sEKDOns/s200/Lisan+Dua.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;aban”. Tema ini merupakan kelanjutan dari tema-tema yang telah diketengahkan dalam seminar-seminar sebelumnya. Seminar I tahun 1993 dengan tema “ Tradisi, Inovasi, dan Tantangan Tradisi Lisan; Seminar ke II tahun 1996 dengan tema “Kajian Tradisi Lisan Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Mendatang” Seminar ke III pada tahun 1999 sebagai bagian dari kegiatan Festival Budaya Nusantara (FBN) dengan tema “Suara-Suara Milenium: Dialog Antarbudaya”; Seminar ke IV dengan tema “Tradisi Lisan dalam Konteks Budaya Masa Kini”; dan Seminar ke V tahun 2006 dengan tema “Dinamika dan Revitalisasi Tradisi Lisan”. Kesemua kegiatan seminar tersebut di atas diadakan bersama dengan kegiatan Festival Tradisi Lisan yang juga relevan dengan tema seminar. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;2.Tujuan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Tujuan kegiatan Seminar dan Festival ini adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Memberi perhatian pada tradisi lisan beserta komunitasnya yang biasanya masuk dalam kelompok minoritas, termarginalkan karena berbagai sebab, baik internal maupun eksternal. Diharapkan kegiatan ATL dapat memberikan sumbangan pemikiran dan temuan kepada pemerintah dalam membuat kebijakan-kebijakan, khususnya kebijakan nasional untuk mengangkat daerah tertinggal, kelompok minoritas, dan pemberdayaan wanita.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Memperkenalkan berbagai kesenian tradisi di luar komunitasnya agar terjalin saling menghargai dan memahami di antara komunitas seni dengan komunitas penontonnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Memperkenalkan kekayaan tradisi maritim Nusantara yang begitu luar biasa yang justru jarang diketengahkan sebagai salah satu kekuatan kultural.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;3.Tema&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt; dan Acara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Tema Seminar Internasional Tradisi Lisan ke VI ini adalah “Tradisi Lisan Sebagai Kekuatan Kultural Membangun Peradaban”.  Topik-topik yang dapat dibahas dari tema tersebut adalah:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 22.5pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Potensi Tradisi Lisan Wakatobi sebagai Kekuatan Kultural;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 22.5pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Tradisi Lisan Maritim sebagai Kekuatan Kultural;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 22.5pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Demokrasi dalam Tradisi Lisan;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 22.5pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Peran Kelompok Minoritas;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 22.5pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Pengelolaan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt; dan Penguatan&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt; Tradisi Lisan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 22.5pt; text-align: justify; text-indent: -9pt;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;Lain-lain sesuai dengan tema utama.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Festival Tradisi Lisan yang akan diadakan bersamaan dengan acara seminar ini akan mengetengahkan berbagai tradisi maritim dari wilayah Indonesia Timur. Pihak Pem&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;kab&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; Wakatobi akan mengundang juga tradisi dari Papua New Guinia, Philipina Selatan, dan Timor Leste. Selain itu, akan diluncurkan 4 buku terbitan terbaru ATL&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; Pameran Foto, Film, dan Buku&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;, Kerajinan Rakyat, Bazar, Wisata Laut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;4.Waktu dan Tempat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Kegiatan Seminar dan Festival akan dilaksanakan pada tanggal &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;1—3 &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Desember 2008 di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;Check in &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;di Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, tanggal &lt;st1:date day="30" month="11" st="on" year="2008"&gt;30  November 2008&lt;/st1:date&gt;, dan &lt;i&gt;check out&lt;/i&gt; tanggal 4 Desember 2008. Seminar akan dilaksanakan p&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;ada pagi hari &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;mulai&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; pukul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;8&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;.00—1&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;6&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;0&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; dan malamnya mulai &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;pukul &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;19&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;.00 akan dilanjutkan dengan Festival&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Tuan rumah kegiatan ini adalah Bupati Wakatobi.  Kegiatan diadakan bersamaan dengan dibukanya Bandara Udara Wakatobi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;5. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;Penyaji Makalah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Pemakalah undangan terdiri dari para pakar berbagai bidang yang berasal dari dalam dan luar negeri. Selain pemakalah undangan, semua peminat tradisi lisan dapat mengajukan makalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Makalah akan diseleksi oleh panitia dan yang akan disajikan dalam sidang sebanyak 18 makalah. Makalah yang tidak disajikan dalam sidang akan dipertimbangkan untuk diterbitkan dalam &lt;i&gt;Warta ATL&lt;/i&gt; atau dibagikan pada acara tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Untuk penyeleksian, abstrak pemakalah diterima panitia paling lambat &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;20 Oktober&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; 2008. Panjang abstrak makalah kurang lebih 400 kata dan dibuat rangkap tiga. Panitia akan memberitahukan jawaban hasil seleksi makalah secara tertulis atau via email pada &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;akhir Oktober&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; 2008.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Pemakalah yang makalahnya terpilih untuk disajikan dalam seminar akan mendapatkan fasilitas akomodasi, konsumsi, penggantian biaya seminar, dan transportasi dalam negeri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 7.1pt; text-align: justify; text-indent: -7.1pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;6.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;Peserta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;eserta &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Lisan VI terdiri dari 36 orang pemakalah, 20 orang peserta undangan, dan sekitar 100 orang peserta biasa. Peserta seminar sekaligus dapat menyaksikan festival tradisi lisan, pameran (buku, foto, dan film), bazar, peluncuran buku, wisata laut, kunjungan ke Pulau Hoga dan Tomia, dan seminar serta pertunjukan di atas kapal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Peserta festival berkisar sekitar 1&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;0&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; kelompok dari Indonesia Timur dan negara tetangga. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Peserta pameran adalah &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;KITLV-Jakarta, Pusat Bahasa, Yayasan Obor Indonesia, dan dari daerah setempat. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;7.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;Biaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Peserta biasa menanggung biaya transportasi untuk mengikuti kegiatan ini. Akomodasi dan konsumsi selama kegiatan berlangsung akan disediakan oleh panitia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 14.2pt; text-align: justify; text-indent: -14.2pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;8.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;Lain-lain&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;A.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Alternatif Transportasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Pesawat Udara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Rute Jakarta—Makassar    : dengan pesawat Garuda, Lion, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Batavia&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Sriwijaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Rute Makassar—Kendari    : dengan pesawat Merpati, Lion, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Batavia&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Sriwijaya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Rute Makassar –Tomia       : dengan pesawat &lt;i&gt;charter &lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Kapal Laut&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Rute Makassar—Bau-bau: dengan kapal PELNI &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;à&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; jadwal: (konfirmasi). Lama perjalanan 32 jam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Rute Bau-bau—Wanci : dengan kapal lokal  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;à&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; jadwal : setiap hari pukul 21.00. Lama perjalanan 8 jam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;c.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Rute Kendari—Wanci : dengan kapal lokal           &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 3cm; text-indent: -13.05pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Wingdings; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;à&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; jadwal : setiap hari Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu pukul 10.00 pagi. Lama perjalanan 9 jam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 32.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;B.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Peminat yang ingin mendaftarkan diri sebagai peserta dan mendapatkan keterangan lebih lanjut dapat menghubungi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 68.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Panitia Pusat di alamat Sekretariat Asosiasi Tradisi Lisan (ATL), &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Jalan Menteng Wadas Timur no.8 Jakarta Selatan 12970, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Telp./faks. (021) 8312603. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;CP. Sutamat Arybowo         : 0812 869 4057&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;       Eka                                   : (021) 921 345 63&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Email : &lt;a href="mailto:atl@uninet.net.id"&gt;atl@uninet.net.id&lt;/a&gt; atau &lt;a href="mailto:atl_lisan@yahoo.com"&gt;atl_lisan@yahoo.com&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 68.2pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Panitia Wakatobi di alamat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wakatobi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Jln. Permandian Kontamale, no.7 Wangi-Wangi, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;            Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;            Telp./Faks. (0404) 21935&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;            CP. Safrin                               : 0856 5654 3446&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;                   Noval Monali                  : 0852 4158 6505&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;                   La Tarima                       : 0856 5656 3131     &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;Email : &lt;a href="mailto:lisan_6@yahoo.co.id"&gt;lisan_6@yahoo.co.id&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI" style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin: 0cm 0cm 0.0001pt 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Georgia; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-4184370498295935101?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/4184370498295935101/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=4184370498295935101' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4184370498295935101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4184370498295935101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/10/seminar-internasional-dan-festival.html' title='SEMINAR INTERNASIONAL DAN FESTIVAL TRADISI LISAN NUSANTARA VI'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SO6q2U3wygI/AAAAAAAAAGc/rXUS1hQnm10/s72-c/Lisan+Tiga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-7595629383238964076</id><published>2008-10-08T14:26:00.001+07:00</published><updated>2011-09-18T14:20:51.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>CERITA  I  DARAMATASIA  SEBAGAI  MEDIA  AJARAN  MORAL  BAGI  MASYARAKAT  BUGIS  DI SULAWESI  SELATAN</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Oleh&lt;br /&gt;DRA. DAFIRAH, M.HUM&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Cerita  I  Daramatasia adalah salah  satu  cerita rakyat lisan  yang ada  di tengah-tengah  masyarakat Sulawesi-Selatan. Cerita  ini  masih hidup  hingga sekarang apalagi   di daerah pelosok.   Karya  ini merupakan tergolong  dalam  cerita  rakyata  yang berbentuk  Legenda  keagamaan  yaitu  legenda mengenai  orang-orang beriman. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Cerita Daramatasia di sosialisasikan ke dalam masyarakat Bugis melalui  tuturan. Penuturan dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan dihadiri atau didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka. Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Di pasar-pasar  tradisiional  rekaman  cerita  ini  masih kadang di  dapatkan dalam bentuk kaset.  Pertanda bahwa  cerita  ini  masih mendapat tempat  di hati masyarakat  Sulawesi  Selatan  bahkan pesan  yang dikandungnya masih dibutuhkan oleh mereka . Meskipun  tentunya  tidak semua  pesan yang ada  dalam cerita  ini  relevan dengan kondisi  dewasa  ini .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Khususnya dalam masyarakat Bugis, cerita ini biasanya diceriterakan oleh seorang penutur  pada waktu-waktu tertentu seperti saat acara pengantinan. Pada malam hari sebelum esoknya acara pernikahan, cerita ini dituturkan menemani para keluarga yang berkumpul untuk mempersiapkan segala sesuatunya yang diperlukan pada esok hari di acara pernikahan. Cerita ini digunakan untuk mengajari sang calon mempelai dan juga kepada segenap hadirin. Penuturan ini biasa berlangsung semalam suntuk .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selain itu  penuturan cerita  ini   biasa juga dilakukan  oleh  orang  tua  kepada  anak-anaknya  menjelang  tidur.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penuturan  cerita  I  Daramatasia  bisa  dilakukan  dengan  iringan  musik ataupun tanpa  iringan.  Musik yang  biasa  menyertai  penuturab  cerita  ini adalah   alat musik  kecapi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;William R. Bascom (dalam James Dananjadja; 1984: 19) mengemukakan 4 (empat) fungsi folklor yakni: (a) sebagai sistem proyeksi (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;projective sistem&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;), yakni sebagai alat pencerminan angan-angan suatu kolektif; (b) sebagai alat pengesahan pranata-pranata dan lembaga-lembaga kebudayaan; (c) sebagai alat pendidikan anak (&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;pedagogical device&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;): dan (d) sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma masyarakat akan selalu dipatuhi anggota kolektifnya.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Naskah Daramatasia di sosialisasikan ke dalam Bugis dengan jalan melisankan naskah tersebut. Penuturan naskah ini dilakukan oleh seorang atau lebih tukang tutur dan dihadiri atau didengar oleh sejumlah orang dari komunitas mereka. Masyarakat yang mendengar pelisanan cerita tersebut merasa terhibur dengan keindahan bahasa dan teknik penuturan yang biasanya dinyanyikan dengan lagu tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;AJARAN   MORAL  DALAM CERITA  I  DARAMATASIA &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Cerita  I  Daramatasia  menceritakan  perjalanan  hidup seorang perempuan  yang bernama  I  Daramatasia .  Cerita  diawali   saat I  Daramatasia  menuntut  ilmu  yang meliputi  ilmu tata  bahasa,  hokum,  fikhi, sampai pada ilmu kebatinan.  Kemudian  menikah atas  pilihan  orang  tua,  pengabadiannya kepada  suaminya ,  saat  diusir oleh suami  dan orang tuanya, saat  suaminya  meninggal  sampai pada  ketika  I  Daramatasia  menikah lagi atas  pilihannya  sendiri .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tokoh  utama  dalam cerita  ini  adalah seorang  perempuan . Sebelum  menikah  beliau  adalah sosok  perempuan  yang cerdas dalam  menuntut ilmu .  Selain  itu, sebagai  anak  tunggal  tidak  pernah  menunjukkan  sifat  kecengengan dan ketergantungan  pada orang-orang yang ada di sekitarnya.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;              Selain sebagai media menghibur, para pendengarnya juga mendapat pengajaran dari isi cerita yang dinyanyikan. Kisah Daramatasia memiliki fungsi mendidik dan mengajarkan kepada pembacanya bagaimana sepatutnya suami istri hidup berumah tangga. Tokoh Daramatasia menunjukkan sikap atau prilaku seorang istri yang mengabdi kepada suaminya sesuai apa yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Kedua fungsi di atas sangat menonjol dalam naskah cerita Daramatasia.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Masyarakat Bugis ataupun mungkin semua suku bangsa di muka bumi ini senantiasa memiliki pengharapan bahwa melalui perkawinan manusia dapat mengciptakan kehidupan yang lebih baik dan merasa bahagia. Karena dengan demikian kebahagiaan dan ketentraman masyarakat luas dapat tercipta. Maka dengan itu kehidupan rumah tangga yang dibangun oleh suami dan istri harus menciptakan kehidupan harmonis. Suami dan istri harus mampu saling menghargai dan menyadari hak dan kewajiban-kewajibannya, suami dan istri mesti pula menyadari posisinya dalam rumah tangga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Sebagai istri I  Daramatasia menyadari posisinya sehingga ia menunjukkan pengabdiannya yang sangat tinggi kepada suaminya. Setiap hari ia menunggu suaminya pulang dan mencuci kakinya, lalu melapnya dengan rambutnya. Setelah itu ia menemani suami makan hingga selesai. Segala perkataan dan perintah suaminya ia patuhi, ia takut melanggar perintah suaminya karena ia tahu membantah perintah suami adalah dosa menurut ajaran agama Islam yang ia pelajari.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Karena takutnya berbuat kesalahan sampai pada suatu saat ia menemani suaminya makan sambil menyusui anaknya yang mulai tertidur, pada waktu itu pelita yang digunakan sebagai penerangan kehabisan sumbu, maka dengan spontan ia memotong rambutnya beberapa helai untuk dijadikan sumbu, karena ia takut kalau suaminya makan dalam kegelapan dan kalau ia berdiri ia khawatir jika anaknya terbangun yang baru saja tertidur. Namun demikian ternyata tindakannya itu dinilai salah oleh suaminya karena memotong rambutnya tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Daramatasia dipukul oleh suaminya yang amat marah lalu mengusirnya pergi dari rumahnya. Daramatasiapun pergi meninggalkan rumah suaminya dan menuju ke rumah orang tuanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Hal tersebut di atas adalah juga  sebuah pelajaran bahwa setiap kelakuan istri harus diketahui dan seizin sang suami. Ajaran serupa sesungguhnya telah pula dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad dalam kehidupan rumah tangganya dan juga dalam rumah tangga anaknya Sitti Fatimah Azzahra, yang juga terdapat pada  cerita Daramatasia.  Anak yang berdosapun akan ditolak oleh orang tuanya sekalipun. Hal tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya ketika melihat Daramatasia diusir dari rumah suaminya. Kedua orang tua Daramatasia beranggapan bahwa orang yang diusir oleh suaminya adalah orang yang melakukan kesalahan dan berbuat dosa maka orang seperti itu tidak sewajarnya di lindungi. Maka Daramatasiapun berjalan tanpa tujuan dan akhirnya tiba pada hutan belantara.  Selain  itu  orang tua  I  Daramatasia  menunjukkan sikap orang  tua yang  memberi  kesempatan  kepada anaknya  untuk  menyelesaikan masalah dalam  keluarganya. Beliau tidak  ingin mencampuri  urusan  rumah  tangga  anak  mereka .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Cerita ini juga mengajarkan bahwa orang yang sabar menjalani penderitaan akan mendapat pertolongan dari Allah. Karena setibanya di tengah hutan Daramatasia ingin shalat akan tetapi ia tidak memiliki pakaian yang layak digunakannya. Sehingga  datanglah malaikat dari langit menemuinya dan memberikan pertolongan. Daramatasia diberikan pakaian yang indah dan mengubah wajah dan tubuhnya menjadi lebih cantik dan muda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ajaran  lain  yang  ditampilkan dalam  cerita  ini  adalah  bahwa  hidup  di dunia  ini  tidak  boleh dihiasi dengan rasa  dendam dan  dengki  terutama  kepada  orang  yang telah menyakiti  dan menganiaya kita . Saat  Daramatasia kembali kerumah orang tua dan ke rumah suaminya atas perintah Malaikat Jibril ia tidak dikenali lagi. Orang tua dan suaminya tidak menyangka kalau wanita yang cantik dan muda yang datang ke rumah mereka adalah Daramatasia yang telah ia usir dan mereka tolak. Namun demikian Daramatasia tidak menunjukkan sikap dendam dan sakit hati. Ia senantiasa menunjukkan sikap sebagai mana layaknya seorang istri dalam melayani suaminya dan mengasuh anaknya, serta tetap bersikap hormat terhadap orang tuanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoBodyTextIndent2" style="margin-left: 0cm; text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Arial&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah diantaranya unsur-unsur pendidikan dan keteladanan yang dapat ditemukan dalah cerita ini. Tentunya dengan pengkajian yang lebih dalam akan ditemukan lebih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 78%; font-weight: bold;"&gt;Penulis adalah Dosen Jurusan Sastra  Daerah,  Fakultas  Sastra  UNHAS &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-7595629383238964076?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/7595629383238964076/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=7595629383238964076' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/7595629383238964076'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/7595629383238964076'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/10/cerita-i-daramatasia-sebagai-media.html' title='CERITA  I  DARAMATASIA  SEBAGAI  MEDIA  AJARAN  MORAL  BAGI  MASYARAKAT  BUGIS  DI SULAWESI  SELATAN'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-6737750736195672442</id><published>2008-08-14T20:50:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:21:28.834+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='News'/><title type='text'>Festival: Nara and Kunama Oral Traditions Hosted for the First Time</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" style="height: 28px; width: 680px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="arttext"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="artdate"&gt;Simon Mesfun , Aug  9, 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;        &lt;td align="right" class="arttext" valign="top"&gt;&lt;a href="mailto:?subject=Festival%3A%20Nara%20and%20Kunama%20Oral%20Traditions%20Hosted%20for%20the%20First%20Time&amp;amp;body=http%3A%2F%2Fwww.shaebia.org%2Fartman%2Fpublish%2Farticle_5576.shtml"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="arttext"&gt;Nara and Kunama ethnic groups’ oral tradition was hosted at Expo Hall at the National Festival 2008 today Saturday 9, 2008. Oral tradition of the two ethnic groups was presented for the first time since the start of the oral traditions presentation in the National Festival in 2004.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; Two senior oral tradition professionals from each ethnic group along with others presented their respective oral traditions to a large number of participants. &lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; In this year’s National Festival, six ethnic groups (Tigre, Saho, Bilen, Tigrigna, Nara and Kunama), out of the nine ethnic groups of Eritrea, presented their oral traditions.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; According to Mr. Mekonen Kidane, Chairman of the Oral Tradition Coordinating Committee, the program was started with only two ethnic groups, Tigre and Tigrinya in 2004. “We made three months’ preparations to include these newly participating ethnic groups. We are working to ensure the participation of all ethnic groups in the coming national festivals,” Mr. Mekonen said.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; In this year’s oral tradition presentation, 17 men and 4 women oral tradition tellers participated. The oral traditions are awlo, weye, proverbs, tales, and oral history and so on.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; Regarding the interest of the people in the program, Mr. Mekonen said that there is a significant progress in the participation of people to the program. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; Speaking on the objective and importance of the oral tradition, Mr. Mekonen said that the aim is to preserve and document oral traditions of the society. “We know oral traditions from old people. But, some who made great contribution in the last festivals have passed away. If one dies, it means we lost one huge book on the specified culture. Therefore, government bodies have to take documentation measures, because oral traditions tell who we really are,” he added.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="arttext"&gt; The oral traditions presentation of the six languages was hosted for four days at the Expo Hall at the Expo grounds.      &lt;/span&gt;                   &lt;/div&gt;&lt;span style="color: #cc0000; font-size: 85%;"&gt;© Copyright 2001-2007 Shaebia.org&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-6737750736195672442?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/6737750736195672442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=6737750736195672442' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/6737750736195672442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/6737750736195672442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/08/festival-nara-and-kunama-oral.html' title='Festival: Nara and Kunama Oral Traditions Hosted for the First Time'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-7165537243323382970</id><published>2008-08-14T19:57:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:21:52.020+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pepaosan</title><content type='html'>&lt;div class="content" style="font-family: georgia;"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;div class="content"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tradisi Lisan Masyarakat Lombok&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Tembang merdu lantunan Purnifah memecah gumpalan kabut dan menghangatkan tubuh dari cengkraman dinginnya malam yang menyelimuti Sembalun Bumbung, desa hijau di kaki Gunung Rinjani, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). Larik demi larik, dadanggula, sinom, dan pangkur terus berlanjut syahdu. Alunannya semakin malam kian memukau penonton; mereka terlena, hanyut dalam cengkukan-cengkukan guru lagu cerita “Jatiswara”.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Tanpa disadari, ajaran dalam tembang menjadi pegangan hidup yang mendarah daging, warisan nenek moyang. Itulah &lt;/span&gt;&lt;i&gt;papaosan&lt;/i&gt;, salah satu seni bersastra yang terus hidup di dalam masyarakat Lombok hingga kini. Tembang seperti itu dalam masyarakat Bali dikenal dengan &lt;i&gt;mababasan&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;macapatan&lt;/i&gt; dalam masyarakat Jawa.&lt;span id="more-82"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Dalam acara &lt;/span&gt;&lt;i&gt;papaosan&lt;/i&gt; biasanya tampil empat orang laki-laki dalam pakaian adat, seorang &lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt; (penembang), seorang pujangga (penerjemah), dan dua orang pendukung. Dalam pertunjukan ini, yang diadakan sekitar pukul 10.00 WITA dan baru berakhir dini hari, &lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt; memegang lontar yang beraksara Sasak dalam bahasa Jawa. Di hadapan mereka tersedia beragam sesajen yang ditempatkan dalam beberapa wadah berbahan kuningan.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Dalam setiap pertunjukan, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt; menembangkan larik-larik lontar dengan patokan-patokan tertentu. Selanjutnya seorang pujangga menerjemahkan larik-larik itu ke dalam bahasa Sasak. Jika pujangga kurang ahli atau salah menerjemahkan, &lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt; akan membetulkan dengan caranya tersendiri, sehingga penonton tidak merasakan pembetulan itu. Mereka menganggapnya sebagai bagian dari pertunjukan. Spontanitas itu dilakukan &lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt; untuk menjaga keutuhan teks.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada waktu tertentu, jika pemaos lelah, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt; lain yang juga ahli siap menggantikannya. Begitu seterusnya sampai pagi tiba dan pertunjukan pun usai. Dalam pementasan, naskah lontar mutlak ada di hadapan &lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt;. Tanpa lontar, mereka merasa tidak &lt;i&gt;afdol&lt;/i&gt;. Itu sebabnya, mereka sering menyalin dalam &lt;i&gt;nedun&lt;/i&gt; (daun lontar yang telah tua).&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Semakin banyak pertunjukan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;papaosan&lt;/i&gt;, makin sering lontar ditembangkan. Jenis sastra yang ditembangkan tergantung pada acara atau undangan yang mereka terima. Ragam sastra yang mereka miliki juga cukup banyak. Misalnya ketika wawancara dengan Rumadi, kakak Purnifah yang juga salah seorang pujangga memaparkan bahwa di Sembalun Bumbung ini tradisi &lt;i&gt;papaosan&lt;/i&gt; masih terus hidup. Mereka sering tampil dalam beragam acara, baik yang berkaitan dengan siklus kehidupan, seperti kelahiran bayi, khitanan, perkawinan, dan kematian, maupun acara-acara yang berkaitan dengan hari besar Islam dan alam.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Sayangnya, menurut Rumadi, generasi muda di situ sudah banyak yang tidak tertarik lagi dengan &lt;/span&gt;&lt;i&gt;papaosan&lt;/i&gt;. Mereka menganggap acara tembang itu sudah kurang relevan lagi dengan zaman sekarang. Ia prihatin melihat hal itu. Oleh karena itu, sebagai tetua adat, Rumadi merasa bertanggung jawab. Lalu didirikanlah sebuah sanggar seni yang bernama Sanggar Rinjani. Muridnya kebanyakan anak SD, SMP dan para pemuda putus sekolah.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Di sanggar itu, para generasi muda dididik seni membaca sastra &lt;/span&gt;&lt;i&gt;(papaosan),&lt;/i&gt; tari, dan teater. Pada saat pementasan teater, naskah diambil dari beragam lontar yang mereka miliki. Misalnya, karya yang paling populer “Cilinaya” dan&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Kilabangkara”. Modifikasi naskah ke dalam bentuk teater itu biasanya tidak seutuhnya lagi dipakai, tetapi beberapa bagian saja.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Lombok&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt; sebagai daerah yang masih aktif dalam pembacaan lontar memiliki banyak naskah lontar, baik yang menjadi koleksi lembaga maupun perorangan (para &lt;/span&gt;&lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt;) dan &lt;i&gt;pedanda&lt;/i&gt;. Di Sembalun saja, menurut Rumadi, banyak pemilik naskah, hanya ia belum sempat mendatanya. Ia berniat suatu saat pada upacara “Ayu-Ayu”, misalnya, akan mendata naskah yang ada di situ. Pada acara itu, biasanya para pemaos berkumpul.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Banyaknya lontar di Sembalun karena daerah tersebutr masih mengenal &lt;/span&gt;&lt;i&gt;papaosan&lt;/i&gt;, seperti halnya daerah Lombok lain, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Di Museum NTB di Jalan Panji Tilar 6, Mataram, tersimpan sekitar 1350-an naskah lontar. Naskah-naskah itu beragam. Yang banyak ditemukan atau populer misalnya lontar dengan judul “Rengganis”, “Jatiswara”, “Monyeh”, “Puspakerma”, dan “Amir Hamzah”.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Naskah-naskah lontar itu akan dikeluarkan saat upacara hari besar Islam, seperti Isra‘ Mi‘raj dan Maulud Nabi Muhammad. Pada saat itu dibacakan naskah-naskah yang berkaitan dengan ajaran Islam, seperti lontar “Jatiswara”.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Perayaan itu dirayakan karena mereka percaya bahwa masyarakat Sembalunlah yang pertama masuk Islam. Pada acara itu terkadang ditembangkan pula “Kertanah”. Kedua lontar itu ditulis dalam aksara Sasak dan dengan bahasa Jawa. Karya yang sama juga ditembangkan pada pesta khitanan anak. Mereka percaya pada saat pembacaan naskah itulah pengislaman anak dimulai.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Selain kedua naskah di atas, pada acara khitanan itu kadang-kadang dilantunkan juga “Kilabangkara”, yang mengajarkan perilaku pemimpin yang baik. Lontar itu kadang dibacakan pula pada acara perkawinan, dengan harapan sang suami dapat menjadi pemimpin yang baik bagi istri dan keluarganya kelak.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Dalam upacara adat, seperti menyongsong kedatangan Tahun Alif, sering dibacakan beberapa naskah, umpamanya “Kawitan” yang berisi tanya jawab Nabi Muhammad dengan malaikat dan “Purwadaksi” yang menceritakan kehidupan alam gaib tentang pencarian jati diri; sang tokoh mencari jati diri ke berbagai tempat, tapi akhirnya yang dicari itu ada dalam diri sendiri.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;“Sangkrudang” ditembangkan pada suatu upacara unik yamg dihadiri para tetua adat, yakni upacara untuk sapi ternak setelah sapi selesai membajak. Naskah itu dibacakan dengan harapan ternak sapi dan tumbuhan yang dimiliki para petani dapat beranak kembar. Dalam naskah itu dikisahkan kehidupan sang raja yang mempunyai istri beranak kembar.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Yang menarik pada pembacaan itu, kalau naskah tidak selesai dibacakan, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;pemaos&lt;/i&gt; harus bisa mengubah cerita menjadi &lt;i&gt;happy ending&lt;/i&gt;. Kalau tidak, mereka takut menemui penderitaan seperti cerita yang dibacakan.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Jika “Sangkrudang” dibacakan pada upacara selesai membajak, “Joarsyah” dibacakan pada upacara Selamatan Padi dengan harapan mereka dapat meneladani sang tokoh yang tidak pernah lelah mengembangkan pertanian dengan alat-alat bajak pemberian Jibril.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Pada upacara kelahiran bayi, masyarakat Lombok mendendangkan “Rengganis”. Kisah ini mengisahkan kehidupan raja yang merawat bayi tanpa istrinya. Raja dengan sabar &lt;/span&gt;&lt;i&gt;memapakkan&lt;/i&gt; (mengunyahkan) nasi untuk sang putri yang tidak mendapatkan air susu ibu.&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin: 6pt 0pt 14pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN" style="font-family: Verdana; font-size: 9pt;"&gt;Beragam upacara yang disebutkan di atas masih dapat disaksikan dalam kehidupan masyarakat Lombok. Tradisi lisan yang berakar pada tradisi tulis masih kuat. Bahkan, segala sisi kehidupan dikaitkan dengan ajaran yang ada dalam lontar. Itu sebabnya, mereka menyimpannya dengan rapi sebagai warisan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.korantempo.com/"&gt;www.korantempo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://fahrurozi.wordpress.com/"&gt;http://fahrurozi.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-7165537243323382970?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/7165537243323382970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=7165537243323382970' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/7165537243323382970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/7165537243323382970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/08/pepaosan.html' title='Pepaosan'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5463738546717179919</id><published>2008-07-05T15:26:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:22:30.126+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>ASOSIASI TRADISI LISAN (ATL) or ORAL TRADITIONS ASSOCIATION</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG826a1DFmI/AAAAAAAAAGM/oLoyyow9hCM/s1600-h/logo+ATL.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219450870407829090" src="http://bp1.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG826a1DFmI/AAAAAAAAAGM/oLoyyow9hCM/s320/logo+ATL.jpg" style="cursor: pointer; display: block; height: 320px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 208px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span style="color: #330033;"&gt;Background&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; actually started from a project named Proyek Tradisi Lisan Nusantara (PLTN) or Indonesian Oral Traditions Project (OTP) in 1992. It was a collaborative work between the Dutch and the Indonesian governments with the support of The Ford Foundation, whose goal was to publicize and publish texts which were the outcome of oral traditions transcription. The project advanced, and three approaches were developed, i.e. science, documentation, and publication or performance. &lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;T&lt;/span&gt;he project continued, and an activity of a larger scope, i.e. “The International &lt;a href="http://bp3.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG82dGz-lEI/AAAAAAAAAGE/IztLgAGBxRI/s1600-h/Pantun+dua.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219450366818423874" src="http://bp3.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG82dGz-lEI/AAAAAAAAAGE/IztLgAGBxRI/s200/Pantun+dua.jpg" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt;Seminar and Festival of Indonesian Oral Traditions,” was held at Taman Ismail Marzuki, Jakarta, on December 9 – 11, 1993. The establishment of a permanent institution as a substitute for PLTN was agreed, which was later named Asosiasi Tradisi Lisan (&lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt;) or Oral Traditions Association.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;After December 11, 1993 was agreed as the date of its establishment, this organization started to organize itself. As a new institution, its committee members worked hard in preparing its apparatuses, by having dialogues with partners, negotiating with donor institutions, and drafting the organization’s programs among others. At this stage, the &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; committee members managed to convince the related parties that regardless of the fact that nowadays writing and technology have become the basis for everything, the role that oral traditions play is still significant. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Vision a&lt;/b&gt;&lt;b&gt;nd Mission&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; is a prominent institution whose work focuses on making oral traditions a source of wisdom and a means to build a culture which is pluralistic in character. Consequently, &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; works as a bridge that links oral traditions with society, both the academic society and the general public.&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;The Establishment of &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;We were then a new generation without a “batch,” trying to exist, as it were, between the devil and the blue sea. On the one hand, we are faculty members and researchers dealing with acade&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG81Xmr91YI/AAAAAAAAAF8/dtB0ypHuu2o/s1600-h/IMG_0058.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219449172783912322" src="http://bp0.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG81Xmr91YI/AAAAAAAAAF8/dtB0ypHuu2o/s200/IMG_0058.JPG" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;mic matters; on the other hand, we deal with the NGO world, giving advocacy for the keepers, supporters, and owners of oral traditions. Our concern is not to cry over oral traditions as a cultural treasure that is dying out. Instead, it is the call of our conscience to study, document, and defend the right to live of their adherents in order to keep on expressing their cultural heritage. From the beginning, our concern is that “oral traditions may have to face extinction, but if death is unavoidable, it has to die naturally, not because of an act of murder.” Thus, this is where we came from, and to this very place we will return. Then we started to work gradually in parallel with the development of research of culture in Indonesia until now. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;We also formulated a concept in order to affirm the vision and mission of our organization. The concept developed along with our&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG80reypaHI/AAAAAAAAAF0/W845MjhMd5U/s1600-h/IMG_0038.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219448414750206066" src="http://bp3.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG80reypaHI/AAAAAAAAAF0/W845MjhMd5U/s200/IMG_0038.JPG" style="cursor: pointer; float: right; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" /&gt;&lt;/a&gt; researchers’ exploration in applying methodologies and approaches. In the beginning of our studies, we wanted to integrate textual with contextual approaches. It turned out that this integration was not an easy academic task. To overcome the problem, we decided to include social and religious content, which means that we have to use other approaches, i.e. sociological and anthropological approaches. With the combination of all these approaches, we consider oral traditions as the expression of their adherent communities. As a social expression, oral traditions contain the social and religious aspects of the community’s life, e.g. ideology, values, philosophy of life, etc. Therefore, as our organization advanced, we maintain that oral traditions should be not only cultural treasure used as a means of recreation but also a “socio-cultural event.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Some of the cultural events that &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; has held are in practice linked to social events. In order to respond to our friends in other regions outside Jakarta, we do not mind doing re-orientation and re-positioning. We do that as &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; continued to handle researches with an &lt;i&gt;action program&lt;/i&gt;. We try to think more realistically, so that in carrying out our action program we act more as a mediator between those who have the power and those in the lower position, i.e. the practitioners of the traditions. Without realizing it, we were inspired by our experiences on the field (probably enhanced by our – so called – “flying hours”) so that we were bold enough to construct a vision that can accommodate our friends’ aspirations, i.e.: “&lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; becomes a prominent institution in making oral traditions a source of wisdoms and a means to build a culture that is pluralistic in character,” according to the social reality in Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;An Unflagging Journey&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;When we had no permanent places and had to move several times, we were not a legal entity; therefore, we could not receive grants from our partners overseas directly. However, with the courtesy of Yayasan Obor Indonesia, we could receive grants through them under their guidance and based on their trust on us. This way, we could “breathe” for a moment and continue our programs. Despite the committee members’ tight schedules, most of whom were studying abroad, &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; was trying to gain a legal entity status as a non-profit foundation.  It is through this foundation that &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; could “spread its wings” and receive grants or independent bequests directly from international organizations.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Considering that &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; programs were expanding and that we needed a permanent secretariat which is quite spacious and accessible from all parts of Jakarta, we decided to use a simple house in the Manggarai area, on Jl. Menteng Wadas Timur No. 8. South Jakarta. This is the place where we started working, and it is here that we started our meaningful work. From this place we built our networks to all parts of Indonesia. It is also from this place that we have gotten partners in twenty capitals of provinces in Indonesia, so that we were able to build cooperation with the resource persons and proponents of oral traditions. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Goals&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol start="1" style="margin-top: 0in;" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;To hold various activities involving researchers,      observers, people interested in oral traditions, and those who support      oral traditions, in order to develop their potentials.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;To appreciate and introduce the diversity of our      cultural heritage, especially oral traditions, using three approaches,      i.e. science / education, documentation, and performance, including its      publications.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;To organize accompanying programs (applied programs)      preceded by research / deep observation in order to develop oral      traditions and their supporting communities by means of conservation      activities, reservation, preservation, and revitalization.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;To work on the re-functioning of certain oral      traditions among communities, both in their original forms and in their      modified or transformed forms. &lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;To assist the government and the general public by      providing services in information, documentation, publication, research,      and the advancement of oral traditions in order to create a network of      information formed among various individuals and institutions. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Training Center&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;In improving the quality of our human resources, we have tried to organize concrete activities in the form of training. In the beginning it was attended by teaching staff from various universities, both private and state ones, which have language, art, and literature departments. The concept and the form of the training used to be conventional, but it underwent quite a lot of changes.  In reality, reaching the target for each of the abovementioned forms is not easy. Therefore, we wanted to combine both forms with a new proportion of 50% - 50% in the training.&lt;span lang="IN"&gt; I&lt;/span&gt;n this last period, we managed to maintain our relationship with the alumni of the previous training by holding a workshop on understanding pluralism through the studies of oral traditions in Bogor in 2001.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;We have the impression that the medium of training is still needed by our friends in order to be more concerned with oral traditions in the regions. Moreover, with the establishment of the Regional Autonomy, this is the right medium considering that the problem that we have been working on is very specific and needs a conceptual management. Until now universities in other provinces have not touched upon this issue, probably because people still doubt whether oral traditions really have academic significance.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Our Supporters&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;When &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; was established, we had the support of those interested in oral traditions, either as individuals or institutions, among others:&lt;/div&gt;&lt;ul style="margin-top: 0in;" type="disc"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Prof. Dr. Achdiati (as dean of &lt;span lang="IN"&gt;T&lt;/span&gt;he Faculty of Letters&lt;span lang="IN"&gt;/Fakultas Sastra UI and&lt;/span&gt; as an      individual)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Prof. Dr. Edi Sedyawati (Directorat General of the      Department of Education and Culture, later substituted by Dr. I G N Anom&lt;span lang="IN"&gt;, Prof.&lt;/span&gt; Dr. Sri Hastanto&lt;span lang="IN"&gt;, and Dr. Mukhlis PaEni&lt;/span&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Prof. Dr. Taufik Abdullah (Senior Researcher at LIPI      or the Indonesian Institute of Science)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dr. Jakob Oetama (Kompas-Gramedia Group)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dr. Hasan Alwi (Head of the Language Center, later      substituted by Dr. Dendy Sugono)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mr. &lt;/span&gt;Alan      Feinstein (Program Officer of The Ford Foundation, later substituted by &lt;span lang="IN"&gt;Dr. &lt;/span&gt;Jennifer Lindsay and &lt;span lang="IN"&gt;Mr. &lt;/span&gt;Phillip Yampolsky)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dr. Roger      Tol (KITLV – Leiden&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; and      Jakarta&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mr. &lt;/span&gt;Mochtar      Lubis (Head of Yayasan Obor Indonesia&lt;span lang="IN"&gt;, later substituted by Mrs. Kartini Nurdin&lt;/span&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mr. &lt;/span&gt;John      McGlynn (Yayasan Lontar), and&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;The Japan Foundation&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Certainly, we cannot mention our contributors one by one although every one is very important. Nonetheless, the researchers and writers of the book “Series on Indonesian Oral Traditions” are the inseparable part of our organization and also the “pioneers” in making oral traditions familiar to our society in their written form. These are actually the very people who introduced oral traditions to the academic world all over Indonesia. They are the ones that conducted the transfer of knowledge from the former to the subsequent generations. We can say this because all of the publications of “Series on Indonesian Oral Traditions,” as the outcome of collaboration between &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; and Yayasan Obor Indonesia, have been sent to all studies centers, whose field of studies is Indonesia, both within and outside the country. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;As matter of fact, the “spearhead” of the &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt;’s success is the speakers or storytellers, the shamans, the &lt;i&gt;syeh&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;the &lt;i&gt;datuk&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;and tribal elders from various regions in Indonesia. Nevertheless, we have to express our gratitude to the researchers and resource persons who helped &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; in designing and carrying out our revitalization and accompanying programs, who have gone before us, i.e. Drs. M. Hamidi, M. Hum (Jakarta), Dr. Tabir Sitepu (Medan), Prof. Dr. Suripan Sadi Hutomo (Surabaya), Dr. Aminuddin (Malang),&lt;span lang="IN"&gt; Dr. Gade Ismail (Nangroe Aceh Darussalam), and&lt;/span&gt; Prof. Dr. Mursal Esten (Padang Panjang). In addition, we would like to express our most sincere gratitude to cultural experts and artists, such as the late B.M. Syamsuddin (Pekanbaru), &lt;span lang="IN"&gt;Raja&lt;/span&gt; Hamzah Yunus (Penyengat Island), and Tengku M. Atan Rahman (a Mak Yong artist from East Bintan).&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Activities&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;1. &lt;/span&gt;Researches&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Training for Young Researchers, in cooperation with the Indonesian Institute of Science (LIPI) and the then Department of Education and Culture (now the Department of Education and the Department of Culture and Tourism), Research based on selection and special invitation for experienced researchers, Research Accompaniment was conducted for special cases of Suku Laut (the Sea Tribe) in Riau, the Dayak Community in West Kalimantan, cultural research in East Timor (Timor Leste), Gayo (Aceh), Melayu (the Riau Archipleago), Betawi (DKI Jakarta), Lombok (NTB), and Banjar (South Kalimantan).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in; text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;2. Semin&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apart from discussions, workshops, and non-routine scientific meetings, &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; also organizes a routine activity once in every three years since 1993, i.e. the International Seminar and Festival of Indonesian Oral Traditions. As a part of the seminar, we launch books published by &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; in the corresponding period and put into performance oral traditions that appear in that publication, along with other oral traditions whose speakers we intentionally invite to support our seminar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;3&lt;/span&gt;. &lt;i&gt;Kurikulum Muatan Lokal (MULOK)&lt;/i&gt; / Local Content Curriculum&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="text-align: justify; text-indent: -0.25in;"&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;; font-size: 7;"&gt;       &lt;/span&gt;In 1995, &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; tried to prepare materials for art teachers and instructors at Junior High School level in Jakarta, in cooperation with the Regional Office of the Department of Education and Culture and the Private University Consultative Board.&lt;/div&gt;&lt;ol start="2" style="margin-top: 0in;" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;In 1997, &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt;      held a Local Content Seminar (&lt;i&gt;Seminar      MULOK&lt;/i&gt;) and prepared local content materials for elementary schools for      the Pontianak region in West Kalimantan, in cooperation with the Institute      of Dayakology and the Regional Office of the Department of Education and      Culture in West Kalimantan.&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Since 1994, &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt;      has collaborated with the &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:placename st="on"&gt;Language&lt;/st1:placename&gt;       &lt;st1:placetype st="on"&gt;Center&lt;/st1:placetype&gt;&lt;/st1:place&gt; in organizing      preparation activities for the writing of local content for students of      elementary schools up to high schools. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;4&lt;/span&gt;. The Mapping of Indonesian Regional Languages in Oral Traditions and Art in 27 Provinces&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;5&lt;/span&gt;. Revitalization &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 0.25in; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;a. &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Lombok&lt;/st1:place&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;b. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Riau Kepulau&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;an&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;c&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;. Sumatera Barat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;d&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;. Nias&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;. Banjar (South Kalimantan)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;     &lt;span lang="IN"&gt;f&lt;/span&gt;. Betawi (DKI &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;)&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;6&lt;/span&gt;. Documentation&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;      &lt;span lang="IN"&gt;a. &lt;/span&gt;Voice Cassettes&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;      &lt;span lang="IN"&gt;b&lt;/span&gt;. CD – &lt;st1:stockticker st="on"&gt;VCD&lt;/st1:stockticker&gt; – &lt;st1:stockticker st="on"&gt;DVD&lt;/st1:stockticker&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;      &lt;span lang="IN"&gt;c&lt;/span&gt;. Photos, Slides&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;7 &lt;/span&gt;.&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tekst &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;8&lt;/span&gt;. Floppy Di&lt;/i&gt;&lt;i&gt;sks&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;9&lt;/span&gt;. Photos&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;10. Publications&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;a.  Books&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;Arief, Abuhuraerah, dan Zainuddin Hakim. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Sinrikna Kappalak Tallumbutua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;:&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Estern, Mursal. 1993. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Struktur Sastra Lisan Kerinci&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Hutomo, Suripan Sadi. 1993. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Pantun Kentrun&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;g&lt;/i&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Suryadi (ed.). 1993. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Rebab Pesisir Selatan: Zamzami dan Marlaini&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Suryadi (ed.). 1993. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Dendang Pauah: Cerita Orang Lubuk Sikaping&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Probonegoro, Ninuk Kleden. 1996. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Teater Lenong Betawi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Rusyana, Yus. 1996. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Tuturan Tentang Pencak Silat dalam Tradisi Lisan Sunda&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;Udin, Syamsuddin. 1996. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Rebab Pesisir Selatan: Malin Kundang&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Taum, Yoseph Yapi. 1997. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Kisah Wato Wele-Lia Nurat: dalam Tradisi Puisi Lisan &lt;st1:place st="on"&gt;Flores&lt;/st1:place&gt; Timur&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;span style="color: black;"&gt; &lt;/span&gt;Tol, Roger: (Penyunting). 1997. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Adat-Istiadat Orang Rembong&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.MPSS, Pudentia. (ed.). 1998. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Metode Kajian Tradisi Lisan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Momersteeg, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Adrian&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, dkk. (ed.). 1999. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Punu Narge: Cerita dari Soa Flores&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;Dharmojo. 2000. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Penuturan Cerita Waropen Irian Jaya&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;Muhadjir. 2000. &lt;i&gt;Bahasa Betawi Sejarah dan Perkembangannya.&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Melalatoa, M. Junus. 2001. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Didong: Pentas Kreatifitas Gayo&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor Indonesia.Helene, Bouvier. 2002. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Lebur ! Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0in; text-align: justify;"&gt;Kemp, H&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG8yak9mMeI/AAAAAAAAAFs/y1q7S1qhmwE/s1600-h/4.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5219445925325713890" src="http://bp1.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG8yak9mMeI/AAAAAAAAAFs/y1q7S1qhmwE/s200/4.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;erman C: (Penyunting). 2004&lt;i&gt;. &lt;b&gt;Oral Traditions of &lt;st1:place st="on"&gt;Southeast  Asia&lt;/st1:place&gt; and &lt;st1:place st="on"&gt;Oceania&lt;/st1:place&gt;: A Bibli&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;og&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;raphy&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Yayasan Obor &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, KITLV &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Asosiasi Tradisi Lisan. PaEni, Mukhlis. 2005. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Nawa-Nawa Patuju (Berpikir Positif) Nilai Budaya dalam Etos Ke&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;rja Bugis&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Asosiasi Tradisi Lisan, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.PaEni, Mukhlis dan Pudentia MPSS (eds.). 2005. &lt;b&gt;&lt;i&gt;B&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;unga Rampai Budaya Berpikir Positif Suku-Suku Bangsa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;. &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Asosiasi Tradisi Lisan. &lt;span lang="EN-GB"&gt;Nurhan, Kenedi (ed.). 2008&lt;b&gt;. &lt;i&gt;Budaya Berpikir Positif Suku-suku Bangsa II&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Dep.Kebudayaan dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Pariwisata&lt;/st1:city&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;, Asosiasi Tradisi Lisan (&lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt;).&lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;PaEni, Mukhlis dan Pudentia MPSS (ed.). 2008. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Maestro Seni Tradisi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Dep.Kebudayaan dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Pariwisata&lt;/st1:city&gt;  &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;, Asosiasi Tradisi Lisan (&lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt;).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;b.  &lt;/span&gt;The &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; Journal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;From March 1995 to 2001, &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; published &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; Newsletter, containing information or news on &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; and scientific articles on oral traditions studies. In this publication, Roger Tol and Herman C. Kemp from the KITLV, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Leiden&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, were especially in charge of the rubric “The Latest Publications of South East Asia and Oceanic Oral Traditions.”  Since December 2002, the &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; Newsletter was changed into the &lt;st1:stockticker st="on"&gt;ATL&lt;/st1:stockticker&gt; Journal in order to improve its quality and to specialize in scientific studies.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="IN"&gt;c.  Films&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraph" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mak Yong, Traditional Performance from Bintan Islands.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: #333399; font-size: 78%; font-weight: bold;"&gt;(Indok ATL)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-5463738546717179919?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/5463738546717179919/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=5463738546717179919' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5463738546717179919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5463738546717179919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/07/asosiasi-tradisi-lisan-atl-or-oral_05.html' title='ASOSIASI TRADISI LISAN (ATL) or ORAL TRADITIONS ASSOCIATION'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SG826a1DFmI/AAAAAAAAAGM/oLoyyow9hCM/s72-c/logo+ATL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-6943134271750847094</id><published>2008-07-01T18:02:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:22:51.294+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Mencermati Tradisi Lisan Dayak</title><content type='html'>Oleh &lt;a href="http://yohanessupriyadi.blogspot.com/"&gt;Yohanes Supriyadi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tradisi lisan adalah cerita dan non cerita yang dituturkan secara langsung oleh nenek moyang suku Dayak secara turun temurun. Tradisi lisan ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat Dayak, sebab dari tradisi lisan inilah dapat diketahui pemikiran, sikap, dan perilaku masyarakat Dayak. Selain itu dalam tradisi lisan ini mengandung filsafat, etika, moral, estetika, sejarah, seperangkat aturan adat, ajaran-ajaran agama asli Dayak, ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, serta hiburan rakyat. Bagi suku Dayak tradisi lisan menghubungkan generasi masa lampau, sekarang, dan masa yang akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kelompok Cerita:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Singara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Singara adalah cerita rakyat biasa yang berhubungan dengan situasi kehidupan di masyarakat. Cerita itu berupa cerita jenaka, cerita pelipulara, cerita binatang, dan cerita kasih sayang. Cerita jenaka misalnya cerita tentang Pak Ali-ali yang sangat kocak membuat tawa bagi yang mendengarkannya.Berikut ini contoh cerita Pa Ali-ali sedang mencari ikan sungai dengan bubu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Dimusim hujan ketika air sedang pasang, Pak ali-ali yang pemalas disuruh istrinya mencari ikan dengan menggunakan bubu. Awalnya Dia merasa enggan, tapi karena istrinya sering merengek-rengek akhirnya pak Ali-ali mengikuti keinginan istrinya. Malam ia mulai memasang bubu. Pagi hariny&lt;/span&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SGoPeEfeYUI/AAAAAAAAAE8/Ka3CyR98Qu4/s1600-h/Untitled-TrueColor-18.JPG"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5218000127538389314" src="http://bp2.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SGoPeEfeYUI/AAAAAAAAAE8/Ka3CyR98Qu4/s200/Untitled-TrueColor-18.JPG" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;a ketika diangkat, tak satupun ikan yang ia peroleh. Ia pun membawa bubunya kerumah dan melaporkannya ke pada istrinya. Istrinya marah-marah dan berkata : “ Dasar bodoooh kao Pak ali-ali, seko’ saluakng buta’ pun kao na’ namu. Dah…..kao gago’ agi ikatn ka’ sunge” Sambil menghukum Pak Ali-ali tidak diberi makan. Terpukul oleh kata-kata istrinya “sekok saluakng buta’ pun na’ namu” akhirnya ia pun pasang bubu lagi. Kali ini ia dapat ikan penuh satu bubu. Tapi begitu dicek satu persatu tidak satu seluangpun yang buta. Akhirnya semua ikan seluang dan ikan yang lain dilepaskannya lagi ke sungai. Iapun pulang dan melaporkan bahwa ikan yang didapatnya sudah dibuang ke’ sungai semua, karena tidak ada yang buta”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Gesah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gesah adalah cerita yang berhubungan dengan kepercayaan atau agama lama suku Dayak, sosok kepahlawanan, asal usul benda/ kehidupan manusia. Contoh gesah misalnya tentang Ne’ Baruakng Kulup dengan asal usul padi turun ke dunia. Gesah Ria Sinir yang terkenal dengan keberanian dan kesaktiannya. Gesah Pak Kasih yang berjuang merebut kemerdekaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Osolatn.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Osolath adalah kisah asal usul keturunan suatu suku, atau keluarga. Contoh Osolatn dapat dilihat pada asal usul kehidupan manusia di bumi menurut kepercayaan Dayak Kanayatn. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;“Pada mulanya, pada perkawinan kosmis di Pusat Ai’ Pauh Janggi kemudian tercipta Kulikng Langit dua Putar Tanah (Kubah langit dan Kubah bumi), yaitu Sino Nyandong dan Sino Nyoba memperanakan Si Nyati Anak Balo Bulatn Tapancar Anak Mataari (Nyati Putri Bulan dan Putra Matahari). Memperanakan Iro-iro man Angin-angin ( Kacau Balau dan Badai), memperanakan Uang-uang man Gantong Tali (udara mengawang dan Embun menggantung), memperanakan Tukang Nange man Malaekat (Pandai Besi dan Bidadari), memperanakan Sumarakng Ai’ man Sumarakng Sunge (segala air dan segala sungai), memperanakan Tunggur Batukng man Mara Puhutn (Bambu dan Pepohonan) memperanakan Antuyut man Marujut (Akar-akaran dan Umbi-umbian) memperanakan Popo’ man Rusuk (Kesejukan Lumpur dan Tulang Iga). Kesejukan Lumpur adalah perempuan dan tulang iga adalah laki-laki. Selanjutnya Popo’ man Rusuk Memperanakan Anteber dan Guleber. Anteber dan Guleber inilah yang dipercaya sebagai nenek moyang Dayak Kanayatn. Setelah menjadi manusia, selanjutnya, Anterber dan Guleber melahirkan anak-anaknya dan kemudian dalam waktu cukup lama melahirkan anak cucu, sehingga dengan demikian, semakin banyaklah anak manusia di bumi”. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Batimang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Batimang adalah kegiatan yang bersifat hiburan atau pelipur hati atau bujukan oleh para orang tua untuk anak-anak. Batimang dilakukan pada saat senggang atau saat mau tidur. Batimang dapat dilakukan pada ungkapan pepatah, pantun atau lagu. Berikut ini contoh pepatah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Abeh gi ka’ bahu, lajak udah bajalatn. Maksudnya Ia masih merencanakan sesuatu tapi rencananya sudah disebarluaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Jantek siku siku tulakng takar. Maksudnya Perbuatan yang serba salah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Batimang dalam bentuk lagu dapat dilihat dari syair batimang padi berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Talinsikng papatn inge, tangilikng ka’ surambi&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Nek Gasikng turutn pene, bakulilikng tangah sami’&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Ansuit dalapm langko, nyingkubakng tongkoktn tanga’&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Ne’ Ulit-ulit nyaru’ leko, Nek Baruakng maba pangka’&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Nyingkubakng tongkotn tanga’, bakoro nangah sare&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Nek Baruakng maba pangka’, baleko tangah pante&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Bakoro nangah sare, tarad pulo bantatn&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Baleko tangah pante, pangka’ tangah laman&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Tarada pulo bantatn, barapi oncok limo&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Pangka’ tangah laman, padi turutn ka talino&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Barapi oncok limo, angkala’ pamumpunan &lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Padi  turutn ka talino, pangka’ bakaturunan&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Angkala’ pamumpunan, bajantok ka’ talidi&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Pangka’ ba katurunan, Nek Tingkakok batimang padi&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Bajantok ka talidi, satangkakng tama bubu&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Nek Tingkakok batimang padi, padi atakng lalu baribu&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Satangkakng tama’ bubu, baui raba pango’&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Padi atakng lalu baribu, ia tama dalapm dango&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Baui raba pongo, satangkakng batakng munukng&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Padi tama’ dalapm dango, lalu atakng da’ Nek Untukng&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Satangkakng batakng munukng, kandis bunga lada&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Atakng da Nek Untukng, minta tulis ka Jubata&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Kandis bunga lada, mampak kayunya raya&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Minta’ tulis ka jubata, ia baranak menjadi raya&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Karake’ ada sakojek, bajuntukng pucuk sangkuakng&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Minta tele’ ka Nek Sijaek, minta unsur ka Nek Baruakng&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5. Pantutn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Pantutn atau pantun merupakan cerita yang berisi nasihat, peringatan, dan kasih sayang. Pantun terdiri dari empat baris bersajak ab-ab, dua baris sampiran dan dua baris isi. Sampirannya menarik karena kata-katanya berasal dari lingkungan kehidupan. Pantun banyak dipraktekkan dalam kesenian jonggan, berkomunikasi di mototn dan menoreh getah. Tokoh pantun yang terkenal media elektronik yang berasal dari Desa Rees adalah Pak Namben dijuluki si raja Pantun. Berikut ini salah satu pantun hasil karyanya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;     Tuhan dan Manusia&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Beli gulamerah susah bawa galah&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Ke sebuah lahan nabur palawija&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Lagi muda gagah, Sudah tua lemah&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Begitulah Tuhan mengatur manusia&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Mahasiswa Tirakatan boleh jajan&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Bahan gula sediakan niranya&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Manusia diciptakan oleh Tuhan&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Jangan lupa muliakan namaNya&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Rupanya teman ngajak bergegas&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Tunduk sembunyi rasa ditekan&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Kuasa Tuhan tidak terbatas&lt;/span&gt; &lt;span class="fullpost" style="font-style: italic;"&gt;Mahluk dan bumi Ia ciptakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Agar menarik dan merdu didengar, pantun juga dapat dinyanyikan saat melakukan pesta adat , atau upacara syukuran lainnya. Biasanya pantun dinyanyikan pada jenis kesenian jonggan yaitu musik tradisional Dayak Kanayatn menggunakan gong, dau, duma, dan suling. Lagu-lagu yang sering dinyanyikan adalah Kayu ara, Kambang bapanggel, dan ma’inang serta banyak lagi lagu yang lain. Lagu-lagu itu merupakan lagu legendaris Dayak Kanayatn yang sangat digemari oleh semua kalangan baik tua maupun muda. Saat ini lagu-lagu itu dimodifikasi kedalam musik moderen. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6. Sungkaatn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Cerita dalam bentuk perumpamaan/pepatah disebut dengan sungkaatn. Perumpamaan atau pepatah yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar tentang peringatan,penjelasan atau nasehat. Biasanya kata - kata yang digunakan adalah bahasa formal adat. Berikut ini adalah contoh sungkaatn.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Saenek-enek udas, paling ina’ tupe jejek ka’ dalapmnya. Maksudnya pada sebuah komunitas paling tidak satu orang menjadi pemimpinnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Suka mani’ ka’ Daya maksudnya sesorang yang selalu mengaku dirinya lebih hebat dari yang lain. Kebalikan dari pepatah ini adalah Suka mani ka’ ilir yang maknanya seseorang selalu merendahkan dirinya meskipun ia sesorang pemimpin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7. Salong&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Salong adalah cerita dalam bentuk sindiran atau ejekan terhadap suatu kebiasaan, atau perilaku yang kurang baik di masyarakat. Salong berusaha memperbaiki Sifat,perilaku, dan perbuatan yang tidak sesuai dengan adat atau kebiasaan yang berlaku umum. Contoh salong adalah sebagai berikut :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1). Sayang istri, dipukul&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;     Sayang ke anak di tinggalkan ; maksudnya bekerja keraslah mencari nafkah untuk anak istri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2). Ujatna’ abut koa ; maksudnya salong  untuk anak yang menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3). Angus padakng dinunu ; maksudnya kebohongan yang disampaikan dipercaya pendengar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4). Katungo ka’ jauh katele’atn, Babotn ka’ samaknya nana’ ia tele’’ : Maksudnya kesalahan orang orang dibesar-besarkan, kesalahan sendiri ditutupi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kelompok Non Cerita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;1. Sampore’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Sampore dilakukan dalam kehidupan sesorang yang berhubungan dengan rehablitasi hubungan yang pernah cacat. Sampore dilakukan dalam acara lenggang, liatn, dendo, bapipis, batampukng tawar, dan babuis (karena badi atau jukat)/ &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;2. Lala’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Lala’ adalah pantangan bagi masyarakat Dayak Kanayatn dalam melakukan sesuatu baik itu pantang makan, melakukan sesuatu, dan mengucapkan kata - kata. Masa pantang bisa tiga hari, tujuh hari, 44 hari, dan seumur hidup diatur dalam tradisi masyarakat setempat. Tujuan lala’ adalah agar setiap anggota masyarakat terhindar dari bahaya, kekuatan meningkat, atau terkabulnya niat dalam pekerjaan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;3. Tanung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tanung merupakan tradisi masyarakat dalam menentukan jenis kegiatan misalnya membangun rumah, menetapkan mototn, mancari jalan terbaik dalam situasi gawat/perang. Upacara batanung akan memberikam suatu keyakinan tentang jenis kegiatan yang dapat dilakukan kemudian. Jenis tanung adalah tang ai’, tanung tali, tanung karake’, tanung sarakng pinang, dan tanung dapa’ layakng. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;4. Baremah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Baremah adalah permohonan penutup atau ucapan syukur atas hasil pekerjaan, seperti pada baroah, babalak, muang rasi, bapipis, basingangi (niat). Kegiatan ini lebih bersifat pribadi atau bagian upacara keluarga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;5. Renyah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Renyah adalah bahasa dayak kanayatn dalam menyebutkan lagu atau nyanyian. Isi nyanyian berupa pantun yang sangat digemari oleh seluruh lapisan masyarakat dalam berkasih sayang, saling sindir, atau oleh orang tua menyampaikan pesan kepada anaknya. Renyah biasanya dilakukan pada saat ke mototn atau ke hutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;6. Bacece’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bacece adalah berunding di antara para tokoh, sanak keluarga, dan kerabat sekampung mengenai budi, hutang, atau hal lainnya dari orang tua/kepala keluarga/tokoh adat/tokoh masyarakat yang sudah meninggal dunia. Perundingan yang dipimpin oleh pemuka adat biasanya menghasilkan kesepakatan mengenai kejelasan dan tindakan yang dapat diambil bilamana perlu. Tujuannya agar arwah orang yang meninggal dapat lebih baik dan aman di surga, dan keluarga yang ditinggalkan dapat lebih tenang dan rukun. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;7. Pangka’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Upacara adat pangka adalah upacara adat untuk memperingati Ne’ Baruakng Kulup merunkan padi ke dunia.Upacara ini biasanya dilakukan sebelum patahunan (masa ba mototn). Sebelum Upacara adat yang dipimpin oleh temenggung ini dilaksanakan , terlebih dahulu melakukan sembahyang bersama di panyugu setelah itu pangka’ gasing dimulai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;8. Mura’atn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Muraa’atn adalah berdoa agar sesorang tidak ditimpa mala petaka. Tradisi ini sifatnya pribadi perorangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;9. Liatn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Liatn adalah upacara adat Dayak Kanayatn dalam bentuk magis dan sakral. Ditampailkan dalam bentuk tarian, doa, dan prosa berirama. Tujuan liatn adalah untuk pengobatan, membayar niat, dan lain-lain. Liatn dipimpin langsung oleh seorang dukun ahli liatn dan dibantu oleh seorang panyampakng serta beberapa panyangahatn. Jenis liatn berdasarkan pemampilannya adalah liatn daniang, liatn nyande, liatn bantal, dan liatn kanayatn. Perbedaan jenis liatn itu didasarkan pada irama serta kata-kata yang digunakan. Tiap jenis mempunyai tokoh tersendiri, misalnya liatan danian adengan tokoh Ne’ Sinede, dan Ne’ Lampede. Sedangkan pembagian jenis lian menurut tujuannya adalah liatn batama bohol, liatn ngaladak buntikng, liatn badingin, dan liatn ngangkat paridup. Misalnya liatn batama bohol bertujuan untuk memberi anak, sedaangkan liatn ngangkat paridup untuk memperbaiki patahunan yang gagal. Kegiatan upacara dalam liatn antara lain adalah nyangahatn dalam rumah, ngantar roba, ka’ ayutn, baramauan ngamok jalu, ka’ bawakng, bajampi, ka’ Jubata masaka, nyangahatn ngago’ sumangat, notor (memberi makan iblis jahat), ka’ dango bonto, ngalainse, ngungke, ka’ paramainan, dan baripakng. Waktu pelaksanaan antara lain sehari semalam, tiga hari tiga malam.Nilai seni tari dan lagu dalam liatn ini sangat menonjol yang diiringi alat-alat musik agukng, dau, dan tuma’ (gendang) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;10. Mulo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Mulo adalah adat mengucilkan seseorang yang melakukan kesalahan berat kepada masyarakat adat Dayak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;11. Gawe  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Gawe adalah upacara ucapan syukur. Gawe juga dilakukan untuk memulai kehidupan baru. Contoh gawe adalah gawe padi, gawe balak, dan gawe panganten.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;12. Totokng&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Upacara adat besar penerimaan kepala manusia hasil bakayo tempo dulu. Karena dalam pelaksanaannya menyangkut kehidupan dan hubungannya dengan lingkungan sehingga upacara nyangahatn dilakukan di setiap tempat kegiatan orang Dayak, misalnya di Panyugu, Panamukng (bukit/hutan rimba), Pasiyangan (tempat keramat asal usul nenek moyang beserta sejarahnya), sunge, tanga’ rumah, di atas pante, dan di dalam rumah. Semua tempat harus didatangi sebab kalau tidak kampung akan terkena bencana atau jukat. Totokng dipimpin oleh imam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Saat ini upacara totokng jarang dilakukan, selain biayanya besar, upacaranya juga harus sesuai dari asal usul keluarga pengayau dan dari keturunan cerdik pandai adat. Selain itu ada kekawatiran terkena jukat.Sesuai denga tujuannya, totokng dibuat untuk penamaan pantak (topeng) guna menemukan asal usul suatu keturunan. Ada tiga tokoh Dayak yang dulu pembawa totokng yaitu: Bunsu, maniamas, dan Ure Nyabukng. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;13. Nyangahatn&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bagian upacara dalam bentuk doa dalam adat dayak adalah nyangahatn. Upacara adat ini banyak digunakan dalam peristiwa adat seperti liatn, lala’remah, gawe, sampore’, dan mato’. Nyangahatn juga dilakukan saat bercerita sejarah kejadian asal usul. Tujuannya mengucap syukur mohon bimbingan dan perlindungan atau pemberitahuan kepada Jubata, Ne’ Panampa, Ne’ Daniang, terhadap kegiatan dalam bekerja. Nyangahatn dilengkapi dengan palantar (persembahan). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;14. Dendo atau Lenggang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bentuk upacara ini bukan berasl dari asli Kanayatn. Upacara ini dilakukan pada saat membayar niat. Kegiatan ini mirip dengan liatn tetapi dengan variasi dari luar yaitu melayu dan cina. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-6943134271750847094?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/6943134271750847094/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=6943134271750847094' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/6943134271750847094'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/6943134271750847094'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/07/mencermati-tradisi-lisan-dayak.html' title='Mencermati Tradisi Lisan Dayak'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_wGUg7DpdoXQ/SGoPeEfeYUI/AAAAAAAAAE8/Ka3CyR98Qu4/s72-c/Untitled-TrueColor-18.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5201693289591216947</id><published>2008-06-29T22:10:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:23:32.334+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Sistem Multimedia dan Keberaksaraan</title><content type='html'>Oleh &lt;a href="http://ririsatria70.wordpress.com/"&gt;Riri Satria&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mana yang lebih disenangi? Membaca berita atau ulasan politik melalui surat kabar atau &lt;img alt="" src="file:///C:/DOCUME%7E1/PC06/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.jpg" /&gt;menonton &lt;i&gt;talk show&lt;/i&gt; politik di televisi? Membaca novel atau menonton film? Jika ingin mengemukaka&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SGend6ApWxI/AAAAAAAAAE0/otgPkvPx5cY/s1600-h/Riri+Satria.jpg"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5217322825562020626" src="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SGend6ApWxI/AAAAAAAAAE0/otgPkvPx5cY/s200/Riri+Satria.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 163px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 178px;" /&gt;&lt;/a&gt;n pendapat atau opini, jalan manakah yang akan pilih, menuliskan opini di media atau berkampanye bicara di sana sini? Jika Anda memilih membaca surat kabar atau novel, serta menulis opini, maka beruntunglah Anda karena sudah termasuk golongan masyarakat yang memiliki tradisi tulis atau beraksara.&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ternyata Anda lebih memilih menonton televisi dan menyampaikan pendapat dengan bicara di berbagai forum, maka Anda tidak usah risau, karena Anda merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang ternyata memiliki tradisi lisan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Tradisi Lisan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Prof. A.Teeuw (1994) dalam bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Indonesia, Antara Kelisanan dan Keberaksaraan&lt;/i&gt; mengungkapkan bahwa secara umum masyarakat Indonesia menganut tradisi lisan. Kalau ada dokumen tertulis, masyarakat Indonesia lebih memilih dokumen tersebut dibacakan daripada membaca dokumen tersebut. Jika kita lihat dari sisi sejarah, maka bukti-bukti yang ada semakin memaksa kita untuk sependapat dengan Prof. Teeuw. Bukti-bukti sejarah dalam bentuk tertulis tidak banyak ditemui di tanah air kita ini. Ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Cina. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span id="more-14"&gt;&lt;/span&gt; Sejarah di negara kita ini banyak dituturkan secara lisan melalui pencerita (story teller) yang semakin lama semakin kabur, apakah itu benar-benar terjadi atau hanya legenda belaka? Bahkan cerita mengenai tokoh-tokoh dalam sejarah pun banyak yang sudah terkontaminasi oleh cerita-cerita legenda yang membuat kita sulit untuk menarik garis pemisah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika Anda pernah jalan-jalan dengan kereta api di Tokyo, maka Anda akan melihat orang yang menghabiskan waktunya dengan membaca, baik di atas kereta, maupun saat menunggu kereta. Mereka memilih untuk membaca ketimbang ngobrol seperti yang kita temui di stasiun kereta api Gambir di Jakarta. Itulah salah satu bentuk perbedaan antara tradiri lisan dengan beraksara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apakah tradisi lisan ini buruk? Sulit untuk menjawabnya, karena saya bukanlah ahli sosiologi atau antropologi, sehingga tidak memiliki kerangka pemikiran yang dapat dipertanggungjawakan untuk menganalisis hal ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi hal ini merupakan faktor penghambat untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada tatanan dunia saat ini. Ilmu pengetahuan dan teknologi disebarkan melalui berbagai jurnal ilmiah, makalah sebagai hasil riset, disertasi dan tesis, dan tentu saja mustahil berbagai rumus dan tabel hasil penelitian ilmiah disampaikan secara lisan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keengganan masyarakat dengan tradisi lisan untuk membaca berbagai jurnal ilmiah, makalah, dan sebagainya berarti kengganan masyarakat tersebut untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, apalagi untuk menjadi pelopor dalam pengembangannya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja hal ini sangat jauh dari harapan. Berdasarkan argumen singkat ini, dapat dtarik kesimpulan bahwa tradisi lisan ini merupakan penghambat kemajuan bangsa untuk menjadi bangsa pembelajar dan unggul. Hal ini disebabkan tradisi lisan mengakibatkan akses masyarakat kepada sumber-sumber ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sangat terbatas, sementara sumber-sumber tersebut sebetulnya terbuka sangat luas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Sistem Multimedia sebagai Katalis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses pembelajaran pada masyarakat kita harus berjalan terus, tidak peduli dengan tradisi lisan ataupun beraksara. Kita bersama-sama berupaya membentuk suatu masyarakat pembelajar (&lt;i&gt;learning society&lt;/i&gt;) supaya bangsa Indonesia ini tidak melulu menjadi bulan-bulanan bangsa lain. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Krisis multidimensi yang sekarang sedang kita alami ini menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak mampu untuk belajar dari keadaan. Kita semua mengetahui bahwa salah satu penyebab krisis ini adalah berbagai kebocoran penggunaan dana pembangunan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi kita tidak belajar dari keadaan. Buktinya angka korupsi di negara ini tetap tinggi. Ini berarti kita memang belum menjadi masyarakat pembelajar. Persoalannya adalah, bagaimana mungkin kita dapat menciptakan masyarakat pembelajar sementara masyarakat memiliki keengganan untuk mengakses berbagai sumber ilmu pengetahuan dan teknologi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali lagi, ini menunjukkan kepada kita bahwa tradisi lisan harus diubah menjadi tradisi tulisan atau keberaksaraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja upaya mengubah tradisi lisan menjadi tulisan ini tidak mudah. Untuk mempercepat proses transformasi dari tradisi lisan menuju tulisan ini, diperlukan suatu katalis atau sesuatu yang dapat mempercepat proses, yaitu sistem multimedia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem multimedia yang merupakan gabungan dari teks, audio, animasi, citra, dan video memiliki kemampuan untuk menjadi katalis dalam proses transformasi tersebut. Pengalaman menunjukkan demikian. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1994, suatu tim pengembangan perangkat lunak pengajaran berbasis multimedia berbentuk permainan pada Pusat Ilmu Komputer Universitas Indonesia bekerja sama dengan UNESCO, mengembangkan suatu bahan pengajaran untuk pelestarian hutan tropis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika disajikan dalam suatu bentuk buku, maka tentu saja yang mengaksesnya adalah para kutu buku. Lalu disepakati bersama bahwa bentuknya adalah permainan komputer berbasis multimedia, tetapi memiliki sasaran pembelajaran (&lt;i&gt;learning objectives&lt;/i&gt;) dengan segala strategi pembelajarannya (&lt;i&gt;learning strategy&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahan pengajaran memang berbentuk permainan, tetapi dalam permainan tersebut ada skenario tertentu yang mengharuskan si pemain untuk membaca dan memahami berbagai topik tentang hutan tropis di Kalimantan. Jika dia tidak dapat memahaminya, maka dapat dipastikan dia tidak akan pernah mampu menyelesaikan permainan tersebut. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan skenario ini, niat awal seseorang untuk mencoba permainan komputer secara perlahan-lahan diarahkan untuk membaca dan belajar mengenai hutan tropis, lengkap dibantu dengan berbagai animasi, video, dan bahkan simulasi. Ini menunjukkan bahwa multimedia dapat berperan sebagai katalis menuju keberaksaraan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal yang sama juga dapat terjadi pada skala makro. Berbagai program televisi, radio, film, dan bahkan situs web yang multimedia juga dapat mengarahkan masyarakat untuk membaca. Acara talk show mengenai politik di televisi dapat diarahkan untuk membangun rasa ingin tahu pemirsa lebih dalam mengenai suatu topik. Pada akhir acara dapat dijelaskan sumber-sumber rujukan yang dapat diakses oleh para pemirsa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ambil misal acara mengenai pola hidup sehat di televisi, yang diasuh oleh Prof. Hembing. Dalam waktu 30 menit, pasti tidak banyak yang dapat beliau sampaikan mengenai makanan dan cara hidup sehat. Tetapi beliau memberikan informasi mengenai buku-buku yang dapat dibaca jika pemirsa ingin mengetahui lebih dalam. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemirsa yang tadinya hanya berniat menonton, lama-lama menjadi penasaran dan tumbuh rasa ingin tahu, dan jika rasa ingin tahu ini tetap berlanjut, maka pemirsa tentu akan membaca buku-buku yang ditulis oleh Prof. Hembing. Tentu saja buku-buku tersebut memuat informasi jauh lebih lengkap. Ini salah satu contoh mengenai peran televisi sebagai salah satu media yang menjadi katalis untuk membawa pemirsa ke tradisi tulisan atau beraksara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kebijakan Multimedia Nasional&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata sistem multimedia memiliki peran yang sangat strategis untuk menciptakan keunggulan kompetitif bangsa melalui pembentukan masyarakat pembelajar. Tentu saja kita membutuhkan suatu kebijakan multimedia nasional yang berada di bawah kendali sebagai Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, Syamsul Mu’arif. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan ini mungkin mirip dengan yang dimiliki Malaysia, yaitu koridor multimedia Malaysia. Barangkali istilah yang lebih populer saat ini di Indonesia adalah kebijakan telematika (telekomunikasi dan informatika) nasional yang sifatnya lebih umum. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan multimedia nasional ini ditopang oleh tiga pilar utama, yaitu (1) kebijakan infrastruktur, (2) kebijakan isi atau konten, serta (3) kebijakan sumber daya manusia. Kebijakan infrastruktur berarti kebijakan yang berkaitan dengan investasi infrastruktur multimedia di Indonesia, menghilangkan monopoli infrastruktur sambil tetap menjaga persaingan yang sehat, serta pemberian insentif kepada pihak-pihak yang menyediakan akses informasi kepada masyarakat grass root seperti warnet atau pusat informasi di daerah rural. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Industri infrastruktur informasi memiliki karakteristik tersendiri, yaitu padat modal (capital intensive), memerlukan skala ekonomis yang besar supaya optimal, perputaran uangnya relatif lambat sehingga relatif lama untuk balik modal, dan jika dibiarkan terjadi free fight competition, maka industri bisa sekarat dan mati perlahan. Pemerintah harus menjadi wasit yang baik tanpa perlu merasa ikut sebagai pemain dalam bisnis ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sementara itu, kebijakan isi atau konten merupakan ujung tombak peran multimedia sebagai katalisator. Pemerintah tidak perlu membuat suatu regulasi apalagi penyensoran terhadap berbagai isi atau konten informasi. Apapun dalihnya, penyensoran ini merupakan langkah mundur. Tetapi pemerintah perlu memberikan insentif kepada konten yang memberikan nilai siginifikan terhadap kemajuan proses pembelajaran bangsa. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah dengan bantuan lembaga pemeringkat independen dapat melakukan pemeringkatan (&lt;i&gt;rating&lt;/i&gt;) dan memberikan berbagai insentif kepada pihak-pihak yang sanggup memberikan konten yang edukatif. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa lebih banyak insentif? Karena ini adalah instrumen yang paling cocok untuk merangsang sesuatu di era reformasi ini. Berbagai bentuk penyensoran, pelarangan, pemaksaan, dan sebagainya, sudah tidak relevan lagi. Berbagai acara talk show dan acara televisi lainnya yang edukatif layak mendapatkan rating bagus dan mendapatkan insentif jika dibandingkan dengan acara musik atau siaran langsung sepakbola. Bentuk insentif tersebut bisa berbentuk pengurangan pajak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang terakhir adalah kebijakan sumber daya manusia. Dua kebijakan sebelumnya tidak akan ada manfaat dan dampaknya jika kebijakan sumber daya manusia ini tidak diperhatikan. Kebijakan ini dapat dilakukan dalam bentuk pemberian insentif kepada pihak-pihak yang sanggup menyelenggarakan program pendidikan telematika atau multimedia yang bermutu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Penutup&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sistem multimedia memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan proses pembelajaran bangsa Indonesia. Sistem multimedia dapat berperan menjadi katalis untuk mempercepat proses transformasi masyarakat dari tradisi lisan menjadi tradisi tulis atau beraksara. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya pada masyarakat dengan tradisi beraksara ilmu pengetahuan dan teknologi dapat berkembang dan memberikan keunggulan kompetitif kepada bangsa tersebut. Hanya saja, kita memerlukan kebijakan nasional yang berkaitan dengan sistem multimedia atau telematika secara umum supaya perannya sebagai katalis dapat terlaksana dengan baik.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-5201693289591216947?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/5201693289591216947/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=5201693289591216947' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5201693289591216947'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5201693289591216947'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/06/sistem-multimedia-dan-keberaksaraan.html' title='Sistem Multimedia dan Keberaksaraan'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SGend6ApWxI/AAAAAAAAAE0/otgPkvPx5cY/s72-c/Riri+Satria.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-3761506505445328194</id><published>2008-06-29T21:30:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:24:06.303+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Membangun Opera Batak Bersama PLOt</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Oleh: Thompson Hs*&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;    Orang Batak di wilayah Sumatera Utara sejak 1920-an sampai akhir 1980-an pasti masih mengenal seni pertunjukan Opera Batak. Gaya seni pertunjukan ini muncul dalam situasi transisi kebudayaan yang ditandai oleh upaya mempertahankan tradisi dan masuknya pengaruh dari luar. Unsur-unsur tradisi dalam Opera Batak dapat dikenal melalui instrumen musikal seperti taganing, ogung, hasapi, sarune, dan hesek. Ensambel musikal ini secara umum dikenal dengan gondang. Namun sebutan gondang itu juga dapat merujuk kepada suasana ritual dan jenis repertoar yang dimainkan. Apabila dikaitkan lagi dengan konteks ritualnya, gondang terbagi menjadi gondang sabangunan dan gondang uning-uningan. Gondang terakhir kelihatannya lebih menonjol penggunaannya dalam pertunjukan Opera Batak ditambah dengan seruling yang bernada diatonis dan tidak bisa dianggap sebagai bagian dari tradisi asli Batak.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;    Selain instrumen musikal, tarian Batak dengan sebutan tortor, juga masih ditemukan dalam Opera Batak. Pola gerak tarian Batak biasanya bersifat minimalis dan perkembangan secara maksimal dikenal melalui tumba. Tortor dan tumba dapat mengawali, mengantarai, dan mengakhiri alur pertunjukan  dengan iringan musikal atau vokal. Khusus mengenai vokal dalam tradisi Batak dapat diketahui jenisnya melalui istilah andung dan ende. Andung biasanya dilakukan tanpa iringan instrumen musikal dan dipahami sebagai bentuk ratapan. Sedangkan ende merupakan lagu atau nyanyian yang bersifat hiburan dan cerminan untuk berbagai suasana tertentu. Di dalam Opera Batak, lirik-lirik ende terkadang masih disertai dengan pantun-pantun Batak dan perumpamaan yang bernama umpasa dan umpama. Satu lagu berjudul Oli-Oli Tumba dapat dikutip salah satu liriknya:&lt;i&gt; lelengma di parlelengan lalapma diparlalapan/ndang sahat tu tujuan sai diporalang-alangan/arian sai marsak borngin i marangan-angan/nang di rondang ni bulan martukkol isang di alaman/ oli-oli tumba, ito…. &lt;/i&gt;(betapa lama di ruang waktu betapa larut di kelarutan/tak sampai-sampai ke tujuan dan selalu berhalangan/siang hari selalu bersedih malam hari berangan-angan/juga waktu purnama bertopang dagu di pekarangan/oli-oli tumba, ito….)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;    Unsur-unsur tradisi tersebut agaknya hanya dapat disalurkan melalui kemunculan Opera Batak. Pertunjukan ritual seperti horja bius dan bentuk-bentuk tradisi lainnya, seperti sigale-gale dan hoda-hoda, yang diiringi gondang bersama tortor sudah mulai surut dengan kedatangan kolonial, ditambah pelarangan-pelarangan kolaboratifnya. Pelaksanaan gondang di luar izin kolonialisme dianggap sebagai semangat untuk melawan atau mempertahankan situasi kekafiran. Orang Batak tidak mungkin lagi secara total dapat mempertahankan semua unsur tradisi karena ruang lama semakin dipersempit. Datangnya pengaruh-pengaruh tambahan akhirnya mendorong migrasi orang Batak ke daerah perkebunan. Dari daerah perkebunan itulah dimungkinkan masuknya pengaruh bentuk seni pertunjukan yang datang dari luar. Totalitas seni pertunjukan Opera Batak kemudian dilengkapi dengan lakon cerita dengan variasi realismenya. Dugaan mengenai aspek lakon yang melengkapi Opera Batak dipengaruhi oleh teater bangsawan di daerah Deli dan semenanjung Malaya. Grup-grup pertunjukan teater bangsawan itu juga diduga mendapat pengaruh dari wayang Parsi. Namun aspek lakon yang diserap itu disesuaikan dengan bahasa dan latar setempat. Demikian halnya dalam cerita-cerita lakon Opera Batak yang dibuat judul-judulnya seperti Siboru Tumbaga, Guru Saman, Sisingamangaraja, dan Raja Lontung untuk menyebut beberapa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;    Pengaruh luar lainnya secara khusus juga sudah mulai ditunjukkan oleh penamaan Opera Batak itu sendiri. Istilah opera dikenal asalnya di daratan Eropa, terutama Italia. Opera diartikan sebagai drama yang dinyanyikan dengan gerak tariannya. Jadi keterkaitan musik/nyanyian, tarian, dan lakon dalam keseluruhan pertunjukan merupakan senyawa dan menyatu. Bukan sebaliknya, seperti yang terjadi dalam Opera Batak. Unsur-unsur yang dimainkan dalam Opera Batak tidak terkait satu sama lain. Masing-masing dapat dianggap berdiri sendiri dari sisi dramaturgi. Terkadang Opera Batak itu terkesan hanya pertunjukan variatif. Sesungguhnya penamaan Opera Batak mengandung maksud yang jelas kalau disebut dengan Opera Gaya Batak. Maksud-maksud serupa kiranya terjadi untuk Opera Peking atau yang lebih terakhir melalui idiom Opera Jawa dan Opera Melayu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;Penggalian Opera Batak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;    Opera Batak sudah dilakukan penggaliannya beberapa kali. Namun penggalian beberapa kali itu cenderung untuk memperkuat kesan musikalnya. Ada anggapan yang terlanjur kalau pemain Opera Batak adalah para pemain musik yang menguasai intrumen musik tradisi. Sehingga para pemain yang berperan melalui aspek lakon dan tarian mendapat catatan minus. Tahun 2002 penggalian ulang dilakukan untuk semua aspek pendukungnya. Awalnya melalui kerjasama dengan pihak Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Jakarta dan Pemkab Tapanuli Utara untuk memberikan pelatihan terhadap 20 orang generasi muda di Tarutung. Dari hasil pelatihan itulah sempat muncul satu grup percontohan yang dikenal dengan nama Grup Opera Silindung (GOS) dan sudah sempat melakukan pementasan Opera Batak di sejumlah tempat seperti Tarutung, Sipoholon, Medan, Jakarta, Laguboti, dan Siantar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;    Tahun 2005 dilakukan pengembangan revitalisasi itu dengan ide membuka Pusat Latihan Opera Batak (PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t) di Pematangsiantar. Ide ini mulai dilaksanakan sejak 12 September 2005 atas dorongan Sitor Situmorang (Apeldoorn, Belanda) dan Lena Simanjuntak (Koeln, Jerman). Awal operasional PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t terutama memberikan fasilitas tempat latihan, manajemen, pelatihan, kerjasama produksi, dan motivasi penggalian budaya. Sampai tulisan ini dibuat kegiatan-kegiatan yang terkait dengan PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t adalah sebagai berikut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;a.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pelatihan Akting bersama Azuzan ZG, November 2005.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;b.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pentas Opera Batak Sipiso Somalim di Balige, 27 Desember 2005 kerjasama dengan Bainfokom Sumatera Utara.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;c.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pentas Opera Batak Sipurba Goring-Goring di Balige, 11 Maret 2006 kerjasama dengan Pemkab Tobasa.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;d.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Memfasilitasi Pentas Keliling “Black Box” Teater Prung Bandung di tiga Tempat (Medan, Siantar, Tuktuk Samosir), 26 Mei – 3 Juni 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;e.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Diskusi dan Pra Pementasan Peringatan 100 Tahun Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII bersama Sitor Situmorang, Barbara Brouwer (Belanda) dan Lena Simanjuntak (Jerman) di Pematangsiantar, 16 – 17 Juli 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;f.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Diskusi dan Pembacaan Koreografi Antologi Puisi “TULIS!” Saut Sitompul (almarhum) di Siantar, 12 September 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;g.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Memfasilitasi Perayaan Anti Korupsi bersama JAK-SS di Pematangsiantar, Sabtu 9 Desember 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;h.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Diskusi Hak dan Kekayaan Intelektual (HaKI) dalam Temu Seni dan Budaya Siantar bersama Prof. Dr. Peter Jaszi (USA), Dr Jane Anderson (Australia), Ignatius Haryanto (LPS – Jakarta), dan Riyaldi Siagian (Jakarta) di Pematangsiantar, 31 Januari 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;i.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pentas Mini Opera Batak “Paima marmutik Kopi” dalam Pembukaan Pameran Karya Togu Sinambela di Galeri Tondi Medan, 7 April 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;j.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pentas “Si Purba Goring-Goring” pada Malam Budaya dalam Perayaan Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan 2 Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;k.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pentas Keliling Opera Batak “Srikandi Boru Lopian” pada Perayaan Peringatan 100 Tahun Gugurnya Raja Sisingamangaraja XII di Pangururan (Samosir), Salak (Pakpak Bharat) dan Balige (Tobasa), 9 – 16 Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;l.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;         &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Refleksi Peringatan 100 Tahun Gugurnya Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII dan Pentas Opera Batak “Sri Kandi Boru Lopian” bersama Sitor Situmorang di Pematangsiantar, 18 Juni 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;m.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pentas Titik Nol bersama W. S. Irawan (Seniman pengayuh Sepeda dari Mataram), kerjasama PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t dengan Suluh dan GSM di Pematangsiantar, 30 Juli 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;n.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Pentas &lt;b&gt;&lt;i&gt;Monolog Reading&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan Ngobrol tentang “Bangsat” di Pematangsiantar, Jumat 12 Oktober 2007.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;o.&lt;span style="font-family: 'Times New Roman'; font-size-adjust: none; font-size: 7pt; font-stretch: normal; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;Memberi &lt;b&gt;&lt;i&gt;database&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; dan sutradara Pentas Opera Batak “Guru Saman”, Pematangsiantar 28 Oktober 2007 dan Medan 25 November 2007.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;    Rencana tiga tahun pertama operasi PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t di Pematangsiantar membuka fasilitasi untuk upaya regenerasi. Tahun-tahun berikutnya dipersiapkan sekaligus untuk penggalian budaya Batak dengan sejumlah program kategorial seperti pelatihan, produksi, pendidikan dan pemberdayaan, media, produksi, dan penghargaan. Untuk mewujudkan rencana ini PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t membuka kerjasama profesional kepada berbagai pihak dan pribadi agar langkah program dapat dioperasikan melalui statusnya terlebih dahulu menjadi sebuah yayasan. Sitor Situmorang, Prof. Dr. Rainer Carle. Karl Mertes, Dr. Pudentia MPSS, Dolorosa Sinaga, Prof. Dr. Riris K. Toha Sarumpaet merupakan beberapa nama yang sudah terencana melengkapi status tersebut. Selain fasilitasi di atas PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t melakukan aktivitas kecil sehari-hari menyangkut administrasi dan pembuatan klipping di ruang sekretariatnya yang berada di Jalan Lingga No. 1 Pematangsiantar (e-mail: plot_indonesia@hotmail.com).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Batang;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;span style="font-family: Batang; font-size: 12pt;"&gt;*&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; font-size: 9pt;"&gt;Penulis adalah Direktur Artistik PL&lt;span style="color: maroon;"&gt;O&lt;/span&gt;t&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Times New Roman;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Batang; font-size: 9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Tulisan ini dapat dilihat di &lt;a href="http://http//thompsonhs.wordpress.com"&gt;http://thompsonhs.wordpress.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-3761506505445328194?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/3761506505445328194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=3761506505445328194' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/3761506505445328194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/3761506505445328194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/06/membangun-opera-batak-bersama-plot.html' title='Membangun Opera Batak Bersama PLOt'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-2923715408548909249</id><published>2008-06-28T14:11:00.000+07:00</published><updated>2008-06-28T14:16:28.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Why the long face?</title><content type='html'>&lt;h1 style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span class="subtitle"&gt;Native art exhibit hosted by Evergreen’s Longhouse Education, Cultural Center&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="color: rgb(102, 0, 204);" class="posted"&gt;by Paul Schrag&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="posted"&gt;Jun 26, 2008&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;The Washington State History Museum and the Longhouse Education and Cultural Center at The Evergreen State College will host the third annual “In the Spirit Northwest Native Arts Market and Festival” June 28 and 29. Hosted at the History Museum, In the Spirit will showcase North American native culture as it moves into the new millennium, says curator Mellissa Parr, who characterizes artistic offerings such as Seneca artist Linley Logan’s Mosquito Mask as gifts rather than commodities. The values of the gifts, she says, are in their power to provoke feeling — awe, revulsion, elation — sometimes all at once. And while many arts festivals promise to move your soul, only to fall embarrassingly short, “In the Spirit” sounds like it just might deliver on its name.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SGXktCb9p0I/AAAAAAAAAEs/K81s09hQGvU/s1600-h/cqioyv276acck.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 462px; height: 229px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SGXktCb9p0I/AAAAAAAAAEs/K81s09hQGvU/s200/cqioyv276acck.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5216827205777991490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Artists are special people because they tell us what they see,” says Parr. “And you can relate to it or you don’t. If you relate, you can hate it or love it, but it makes you feel something. Then, sometimes, you see something that is beyond your conception, but it speaks to our soul.”&lt;br /&gt;A quick description of Linley Logan’s Mosquito Man Feeding From Himself Out of Gluttony Mask will provide a clear picture of what Parr means. The simultaneous complexity, schism, holism and simplicity of the Mosquito Mask represents so many aspects of what “In the Spirit” is about — the gentle complexity of native cosmology, the colonization of native lands, the colonization of native consciousness, the struggle to conserve tradition while emerging with the world — all these themes are nested within the work of Logan and other artists.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Logan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; describes his contribution — a mask of the archetypal Mosquito Man crafted from materials ranging from grass to plastic cowboys and Indians — as a meditation on the duality that emerges as concepts are filtered through native oral traditions. The Mosquito Man emerges in oral traditions on both coasts, despite physical separation by thousands of miles. The archetypal story of the Mosquito Man — its form anyway — emerges in dozens of other traditions as well, beginning with the story of Tiamat, the great dragon of Babylonian mythology, who is slain by the warrior Marduk, her body becoming the universe we live in.&lt;br /&gt;In Haudenosaunee oral traditions, the meta-story emerges as a giant mosquito who feeds on the blood of the bodies of humans, killing entire villages full of people. Warriors set out to destroy the mosquito, hunting it down and hacking the dead monster’s body into tiny pieces. From the blood of the giant mosquito small swarms of insects emerge — mosquitoes, which continue to feed on human blood. &lt;st1:place st="on"&gt;Pacific Northwest&lt;/st1:place&gt; natives tell the story of the Dzoonekgwa, a cannibal man-monster who stole children and ate human flesh. When Dzoonekgwa was finally killed, his body was burned in a bonfire, the sparks of his burning body giving birth to mosquitoes who carry on the cannibal’s work on a smaller scale.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The construction of the Mosquito Mask, and the materials used, reveal further layers upon layers, upon layers …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The red frame of the mast represents the Southeast Alaskan and Northwest coast dance robe border, the red ribbon border incorporated in Haudenosaunee clothing encloses the face and Mosquito figure as if in a coffin. The grass headdress represents the home of the mosquitoes, and red forks represent both the antennae of the mosquito and the pointed, needle-like utensils that many humans use to devour their food. The Mosquito Man’s headdress, made from plastic Indians and cowboys, elucidates the continual battle waged with mosquitoes today, as well as the Mosquito Man’s coupe — bites symbolizing the insect’s success in battle. The plastic men also represent stereotypes that native peoples are challenged to escape and survive.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Like the blood drained by the mosquito, “We seem to be swallowed up by the dominant stereotypes that typecast who we are as a people,” says &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Logan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Red bottle caps signify deer hooves used to make traditional leggings and rattles used during sacred dance. Metal tobacco can lids supplant shells and other natural trinkets used to create bangled, traditional women’s dresses. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Logan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; uses seemingly tawdry materials as substitutes as “an artistic statement of our (native people’s) static culture in a contemporary environment of survival.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Is your soul stirring yet?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The “In the Spirit Arts Market &amp;amp; Festival” will feature works and demonstrations by Northwest carvers, printmakers, weavers and bead artists, to name a few. Native singers, musicians, dance groups will perform throughout the weekend, and specialty food vendors will offer native cuisine. A special collector’s seminar and art appraisal will help patrons select and collect quality native artworks. All outdoors festival activities are free.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[&lt;st1:placename st="on"&gt;&lt;strong&gt;Washington&lt;/strong&gt;&lt;/st1:placename&gt;&lt;strong&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;State&lt;/st1:placetype&gt; &lt;st1:placename st="on"&gt;History&lt;/st1:placename&gt; &lt;st1:placetype st="on"&gt;Museum&lt;/st1:placetype&gt;,&lt;/strong&gt; In the Spirit: Contemporary Northwest Native Arts Market &amp;amp; Festival, 10 a.m.-5 p.m., June 28, noon to 5 p.m., June 29, 1911 Pacific Ave., &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Tacoma&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, 253.272.3500, outdoor events free]&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-2923715408548909249?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/2923715408548909249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=2923715408548909249' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2923715408548909249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2923715408548909249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/06/why-long-face.html' title='Why the long face?'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/SGXktCb9p0I/AAAAAAAAAEs/K81s09hQGvU/s72-c/cqioyv276acck.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5819471724127602583</id><published>2008-06-08T16:59:00.000+07:00</published><updated>2011-09-18T14:24:38.971+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Wayang Citra</title><content type='html'>&lt;span class="post-author vcard"&gt;&lt;span class="fn"&gt;&lt;span style="font-size: 85%; font-weight: bold;"&gt;Ki Harsono Siswocarito&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="color: #333333; font-style: italic; font-weight: bold; line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="font-size: 130%;"&gt;Ingsung miwiti andhalang&lt;br /&gt;Wayang ingsun minangka citra&lt;br /&gt;Layarmaya jagat pramudhita&lt;br /&gt;Ingsun ki dhalangmaya&lt;br /&gt;Pirantiningsun multimedia&lt;/span&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-style: italic; text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; memiliki anekaragam wayang. Keanekaragaman tersebut terbentang sepanjang sejarah pewayangan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;. Wayang batu terpampang di candi-candi. Wayang beber terlukis dalam gulungan-gulungan kain dan kertas. Wayang suket mainan para gembala. Wayang kulit mainan para dalang Jawa. Wayang golek mainan para dalang Sunda. Wayang wong atau wayang orang yang menjadi mainan para anak wayang. Dan ada pula wayang citra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Media wayang&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang memiliki hubungan yang erat dengan medianya. Media wayang mengalami transformasi paradigmatik dalam tradisi lisan, tulis, dan elektronik. Perubahan paradigma media tersebut berpengaruh terhadap pembentukan genre wayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Dalam hubungannya dengan media yang digunakan, wayang dapat diklasifikasikan ke dalam wayang lisan, wayang tulis, dan wayang elektronik. Wayang lisan adalah wayang yang menggunakan media lisan. Wayang tulis adalah wayang yang menggunakan media tulisan . Wayang elektronik adalah wayang yang meggunakan media elektronik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang lisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Tradisi lisan dengan menggunakan medium bahasa lisan membentuk genre wayang lisan. Genre wayang lisan terdapat dalam pertunjukan-pertunjukan. Ki dalang membabar lakon-lakonnya secara lisan. Pertunjukan wayang dongeng, wayang jemblung, wayang kulit, wayang golek, dan yang sejenisnya adalah bentuk-bentuk wayang dalam tradisi lisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang tulis&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Tradisi tulis yang menggunakan medium bahasa tulisan membentuk genre wayang tulis. Genre wayang tulis terdapat dalam lontar, kitab, buku, majalah, koran. Ki dalang membabar lakon-lakonnya secara tertulis. Sastra pewayangan adalah bentuk-bentuk wayang dalam tradisi tulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang elektronik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Media bahasa elektronik merupakan media bahasa sekunder. Tradisi elektronik yang menggunakan paradigma media bahasa baik lisan maupun tulisan secara elektronik membentuk genre wayang elektronik &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang elektronik terdapat dalam kaset, CD, CD-ROM, VCD, DVD, FD. Ki dalang membabar lakon-lakonnya secara elektronik. Wayang audio, wayang video, wayang multimedia, wayang digital dan wayang citra adalah bentuk-bentuk wayang dalam tradisi elektronik.    &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang citra&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang citra adalah istilah yang dibuat oleh Ki Harsono Siswocarito untuk menamai wayang genre baru yang terdapat dalam mediamaya internet. Istilah tersebut digunakan untuk sebuah situs wayang di mediamaya yang dikelolanya, yaitu &lt;a href="http://wayangcitra.blogspot.com/"&gt;http://wayangcitra.blogspot.com&lt;/a&gt;. Kata "citra" dalam Bahasa Indonesia merupakan padanan yang tepat dari kata "image" dalam Bahasa Inggris. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang citra dapat juga dinamakan wayangmaya, yaitu wayang yang menggunakan mediamaya internet. Namun wayangcitra mengacu pada genre wayang, sedangkan wayangmaya mengacu pada media yang digunakannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Genre wayang citra dapat diklasifikasikan kedalam lakonet, wayang digital, wayang visual, wayang audio, wayang video, wayang animasi, dan wayang interaktif.&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Lakonet&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Lakonet adalah gabungan dari kata "lakon" (cerita wayang) dan "net" (Internet). Istilah ini dibuat oleh Ki Harsono Siswocarito untuk menami lahirnya sebuah genre baru wayang yang dipublikasikan di Internet dalam situs &lt;a href="http://lakonet.com./"&gt;http://lakonet.com&lt;/a&gt;&lt;a href="http://lakonet.com./"&gt;.&lt;/a&gt; Lakon adalah genre sastra wayang lampahan untuk pertunjukan, sedangkan internet adalah mediamaya online yang terhubung secara global. Dengan demikian, lakonet adalah lakon yang dipertunjukkan dalam mediamaya internet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang visual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;&lt;a href="http://wayanggenre.blogspot.com/"&gt;Wayang visual&lt;/a&gt; adalah wayang gambar. Gambar wayang tersebut dapat dibuat secara manual maupun digital yang kemudian dipublkasikan dalam mediamaya internet. Wayang citra visual ini hanya dapat dilihat namun tidak dapat didengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang audio&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang audio adalah wayang yang menggunakan media audio seperti kaset, CD, MP3 yang kemudian dipublikasikan dalam mediamaya internet. Wayang citra aural ini hanya dapat didengar namun tidak dapat dilihat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang video&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang video adalah wayang yang menggunakan media audio-visual seperti VCD, DVD, FD yang kemudian dipublikasikan dalam mediamaya internet. Wayang audio-visual dapat didengar dan dilihat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang audio-visual dalam mediamaya internet antara lain terdapat dalam situs &lt;a href="http://youtube.com/"&gt;http://youtube.com&lt;/a&gt;. Situs tersebut mempublikasikan wayang video baik dari pertunjukan &lt;a href="http://youtube.com/watch?v=QAqWnt2U5-Y&amp;amp;feature=related"&gt;wayang kulit&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://youtube.com/watch?v=7IWrSfJ4_a4&amp;amp;feature=related"&gt;wayang golek&lt;/a&gt;, maupun &lt;a href="http://youtube.com/watch?v=FmBxz6dGYMI" style="color: black;"&gt;wayang orang&lt;/a&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang digital&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang digital adalah wayang yang dibuat secara digital dengan piranti komputer multimedia. Wayang digital visual dibuat dengan menggunakan teknik seni lukis digital yang kemudian dipublikasikan dalam mediamaya internet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang grafik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang grafik lebih dikenal deng komik atau cerita wayang bergambar. Wayang grafik dapat dibuat baik secara manual maupun digital. Komik wayang tradisional dibuat secara manual; sedangkan wayang grafik modern dibuat secara digital. &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=KQUBUBU6czc"&gt;Wayang grafik&lt;/a&gt; kemudian dipublikasikan dalam mediamaya internet.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang animasi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang animasi adalah wayang yang dibuat secara digital dengan menggunakan piranti komputer multimedia yang membentuk citra visual yang hidup. Berbeda dengan wayang digital visual yang statis, wayang animasi bersifat dinamis. Wayang animasi tersebut kemudian dipublikasikan dalam mediamaya internet. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang animasi dalam mediamaya internet antara lain terdapat dalam situs &lt;a href="http://youtube.com/"&gt;http://youtube.com&lt;/a&gt;. Situs tersebut banyak mempublikasikan &lt;a href="http://youtube.com/watch?v=gY2dC9fi02s"&gt;wayang animasi&lt;/a&gt; yang besumber pada wayang grafik dinamik, dalam bentuk animasi dua dimensi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Wayang interaktif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang interaktif adalah wayang yang dibuat secara interaktif antara ki dalangmaya dengan komunitasmaya dalam mediamaya internet. Wayang interaktif ini dibuat dengan menggunakan cyberteks yang memberikan fasilitas interaktif dalam mediamaya internet.  Wayang interaktif ini masih merupakan genre rintisan dalam situs &lt;a href="http://wayanggenre.blogspot.com/"&gt;http://wayanggenre.blogspot.com&lt;/a&gt; yang merupakan link lanjutan situs&lt;a href="http://wayangcitra.blogspot.com/"&gt; &lt;/a&gt;&lt;a href="http://wayangcitra.blogspot.com/"&gt;http://wayangcitra.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt; yang dikelola oleh Ki Harsono Siswocarito.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; line-height: 150%;"&gt;Simpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Terdapat transformasi paradigmatik dalam sejarah pewayangan. Transformasi tersebut berhubungan dengan media yang digunakan dalam tradisi pewayangan yang mencakup tradisi lisan, tradisi tulis, dan tradisi elektronik. Tradisi-tradisi tersebut membentuk genre wayang lisan, wayang tulis, dan wayang elektronik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 100%;"&gt;&lt;span style="font-family: Tahoma; font-size: 100%; line-height: 150%;"&gt;Wayang citra adalah genre baru wayang postmodern yang menggunakan paradigma media elektronik. Wayang citra juga dapat dinamai wayangmaya karena menggunakan mediamaya internet. Wayang citra memiliki genre-genre yang berupa lakonet, wayang visual, wayang audio, wayang video, wayang digital, wayang grafik, wayang animasi, dan wayang interaktif.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 78%;"&gt;Sumber: &lt;a href="http://wayangcitra.blogspot.com/"&gt;&lt;span style="color: #cc0000;"&gt;http://wayangcitra.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-5819471724127602583?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/5819471724127602583/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=5819471724127602583' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5819471724127602583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5819471724127602583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/06/wayang-citra.html' title='Wayang Citra'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-2133641222649848953</id><published>2008-04-27T19:35:00.000+07:00</published><updated>2008-04-27T19:42:08.165+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Kesenimanan dalam revitalisasi kesenian</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Oleh Rahayu Supanggah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;    Keprihatinan terhadap kehidupan seni (tradisional) oral yang semkin hari semakin meredup telah menggugah hasrat dari berbagai fihak untuk melakukan kegiatan revitalisasi kesenian. Kegiatan tersebut telah menghabiskan tenaga, waktu, pemikiran dan dana yang luar biasa. Berbagai jenis kegiatan revitalisasi telah dilakukan oleh berbagai fihak, dengan hasil yang bervariasi. Beberapa diantaranya berhasil, namun sebagian besar kegiatan revitalisasi belum menujukkan hasil yang memuaskan. Masalah revitalisasi kesenian memang bukan maslah yang sederhana. Ketersediaan fasilitas dan dana yang melimpah belum menjamin keberhasilan dari usaha revitalisasi. Masalah kehidupan kesenian, termasuk kesenian tradisi memang kompleks. Seperti kita ketahui bersama bahwa masalah kesenian bukan semata mata masalah estetik belaka, tetapi juga masalah yang lebih luas, social, budaya dan yang lainnya. Kehidupan kesenian sangat tergantung pada masyarakat dan lingkungannya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Ketika situasi dan kondisi masyarakat dan lingkungannya berubah dari waktu ke waktu, kehidupan kesenian kemungkinan besar juga mengalami perubahan seiring dengan perubahan masyarakat dan lingkungannya. Berikut ini adalah hanya salah satu contoh kasus perubahan social tersebut, yang dampaknya cukup besar terhadap perkembangan kehidupan kesenian tradisional.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Mulai beberapa decade belakangan ini, pola hidup masyarakat kampung mengalami perubahan yang signifikan sehubungan dengan adanya perubahan disain hunian dan lingkungan mereka. Perubahan pola hidup tersebut antara lain dapat dilihat pada perubahan pola kehidupan kampung yang bergeser ke pola kehidupan perumnas, real estate, apartemen dan atau kondominium. Selain konsep ruang yang berubah, - relatif menjadi lebih sempit dan tertutup-, juga penduduknya menjadi semakin heterogen, baik dilihat dari asal etnik, daerah, pendidikan, pekerjaan dan tingkat kemampuan ekonomi mereka. Kebutuhan, kepentingan dan selera mereka juga sangat bervariasi. Sungguh suatu kondisi yang kurang menguntungkan bagi kehidupan kesenian tradisional yang biasanya didukung oleh masyarakat yang relatif homogen, masyarakat yang memiliki kepentingan dan kebutuhan yang sama. Pencukupan kebutuhan dan kepentingan tersebut dilakoni bersama dengan cara bekerja sama. Kesenian tradisional hadir dan diperlukan dalam hampir setiap kegiatan, pekerjaan dan untuk kepentingan mereka : bekerja, bersyukur, beragama, bersenang senang maupun dalam duka (sakit atau bahkan mati). Bukan satu hal yang baru bahwa masyarakat menjadi lebih individual, dalam bermain, bekerja maupun dalam memilih hiburan dan atau kesenian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Dalam persaingan global seperti sekarang ini, kesenian yang memiliki akses yang lebih baik pada masyarakat, cenderung untuk mendapat kesempatan lebih baik untuk dikenal, dikonsumsi dan pada gilirannya bahkan mendominasi kesenian yang lain. Kesenian yang memiliki akses yang baik adalah kesenian yang mengusai (atau yang dikuasai) media dan atau industri. Kesenian jenis ini aktif mendatangi rumah rumah (kita) bahkan kamar kamar kita lewat radio, televisi maupun produk (industri) rekaman. Selera masyarakat dibentuk oleh industri dengan berbagai cara: system bintang, &lt;i style=""&gt;top twenty&lt;/i&gt;, gossip seniman, sms, kuis berhadiah, dan sebagainya. Tidak penting apakah kesenian tersebut “bermutu” berguna bagi masyarakat tertentu atau tidak. Apa yang bisa laku dijual, dijuallah mereka:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pornografi, kekerasan, hura hura, aneh aneh, bukan masalah. Kesenian yang tidak masuk dalam selera produser industri sulit mendapat tempat di pasar, - masyarakat baru yang dibentuk oleh industri. Terjadilah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jarak antara kesenian tradisi dengan masyaratnya yang baru. Kesenian tradisi dalam bentuknya yang “asli” semakin kehilangan masyarakat yang mendukungnya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Melihat kesenjangan masyarakat terhadap kesenian tradisional seperti itu, berbagai pihak sekarang ini semakin tergerak hatinya untuk melakukan revitalisasi terhadap kehidupan kesenian kesenian yang dianggap kehidupannya dalam keadaan bahaya. Kesenian yang mulai “kehilangan” masyarakatnya karena kesenian tersebut telah kehilangan fungsinya di masyarakat. Berbagai kegiatan revitalisasi kesenian yang telah dilakukan antara lain dalam bentuk :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Rekonstruksi. Kegiatan ini      biasanya dilakukan terutama untuk kesenian kesenian yang sudah hilang dari      peredaran, namun oleh (beberapa) pihak tertentu dianggap masih punya      peluang bahkan potensial untuk dihidupkan dan digiatkan kembali.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Selain kesenian ini dianggap penting      karena memiliki nilai yang berguna bagi masyarakat, revitalisasi juga masih      mungkin dilakukan karena ditunjang oleh masih tersedianya informasi yang      mendukung untuk dilakukan revitalisasi. Informasi tersebut baik dalam      bentuk tertulis seperti naskah, lontar, manuskrip atau karya (karya)      sastra lainnya ataupun&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;informasi      oral dalam berbagai bentuk, berkat masih adanya &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;nara&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; sumber atau pelaku seni yang masih      hidup masih bisa didapati.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Beberapa jenis tari bedhaya dan Srimpi misalnya, sampai tahun 1970-an sudah banyak yang tinggal namanya saja, namun ujud tari dan musiknya sudah tidak dapat dilihat atau didengar lagi. Beberapa teks cakepan atau syair bedhaya srimpi kebetulan masih dapat didapati pada beberapa naskah, seperti serat Sindhen Bedhaya atau catatan/manuskrip koleksi pribadi. Ditunjang oleh beberapa informasi dari seniman/anggota masyarakat berusia lanjut atau nara nara sumber lain yang ada hubungannya dengan tari bedhaya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;srimpi, maka dicobalah untuk disusun kembali tarian yang hilang tersebut menurut tafsir sang koreografer dan atau komposer, menjadi Bedhaya “baru” (dengan ujud yang dianggap sama dengan bedhaya srimpi yang telah hilang), disertai dengan pertanggungan jawab “akademis” atau alasan yang mapan yang didasari oleh studi atau penelitian yang mendalam. Bedhaya La-la adalah salah satu contoh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bentuk revitalisasi yang dilakukan oleh Akademi Seni Karawitan Indonesia dan Pusat Kesenian Jawa Tengah di Surakarta pada tahun 70-an yang cukup berhasil sehingga sampai saat ini bedhaya La-la telah menjadi bagian dari repertoar bedhaya-srimpi pada umumnya dan sampai sekarang cukup sering dipentaskan. Akhir akhir ini ISI Yogyakarta juga melakukan rekonstruksi bedhaya Semang, salah satu bedhaya yang paling tinggi kelasnya dalam repertoar bedhaya srimpi di lingkungan Kasultanan Jogyakarta (sejajar dengan bedhaya Ketawang di kraton Kasunanan Surakarta), bedhaya yang dianggap paling sakral, digunakan pada upacara jumenengan, ulang tahun naik tahta Sultan Hamengku Buwana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Re-fungsionalisasi, yaitu      menambah, mengembangkan, mengganti atau memberi fungsi yang baru terhadap      kesenian yang direvitalisi, sehubungan dengan aktivitas lama yang biasanya      menggunakan jasa kesenian yang dimaksud, sudah tidak eksis atau tidak      berlangsung lagi. Refungsionalisai yang sering dilakukan adalah      mengembangkan, menambah atau mengubah fungsinya yang lama dengan fungsinya      yang baru. Contoh seperti kesenian yang dulunya digunakan sebagai bagian      dari kegiatan upacara, nyanyian untuk kerja, kemudian ditambah atau      berubah menjadi seni pertunjukan, komoditas ekonomi atau pariwisata,      sarana hiburan dan atau memenuhi fungsi terapan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;lainnya seperti sebagai alat promosi      suatu produk dan atau kampanye suatu program atau tujuan lain dari suatu      lembaga tertentu. Ketika terjadi refungsionalisasi kesenian, biasanya      terjadi :&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Re-presentasi, artinya menyajikan      kembali, baik dalam frekwensi maupun dalam ujud, forum atau konteks yang      bervariasi. Sebagai contoh adalah peristiwa festival kesenian yang sampai      saat ini diselenggarakan dimana mana dengan mementaskan beberapa jenis      seni rakyat maupun tradisional. Maksud baik untuk mengenalkan atau      “mengangkat” kesenian ini kemasyarakat yang lebih luas justru sering      kontraproduktif karena “salah” letak. Banyak seniman kesenian rakyat dan      atau tradisional yang kemudian justru menjadi disoriented, asing terhadap      tempatnya yang baru. Sebagai contoh adalah seni tayub yang dipentaskan di      atas panggung prosenium atau sintren dipentaskan di istana Negara.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Re-formasi, yaitu perubahan format      atau bentuk penyajian kesenian dari yang lama ke bentuknya yang baru, yang      dianggap sesuai dengan kebutuhan, selera, waktu dan tempatnya yang baru.      Isi, makna dan massage/pesan yang ingin disampaikan oleh kesenian yang      di-reformasi kemungkinan bisa juga berubah. Pemahaman tentang esensi dari      suatu kesenian tetap menjadi hal yang sangat penting sehingga dalam      melakukan re-formasi tidak menjadikan sebuah kesenian kehilangan maknanya.      Retno Maruti adalah salah satu contoh seniman yang konsisten membuat karya      yang sifatnya re-formasi dengan genre bedhaya yang digunakan sebagai titik      tolak koreografinya. Selain tetap menggunakan vokabuler dan kekayaan lama,      koreografer juga memperluas, memperkaya karyanya dengan menggunakan unsure      unsure budhaya baru, ciptaan baru maupun yang “dipinjam” dari budaya luar,      sehingga tercipta bentuknya yang baru. Dalam kasus bedhaya misalnya, tari      ini merupakan bentuk drama tari yang sangat abstract, oleh Retno Maruti      diubah formatnya, selain menjadi lebih besar dengan jumlah penari yang      lebih banyak, juga disertai dengan dialog dialog tembang.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="5" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Re-interpretasi, yaitu memberi      tafsir atau memberi makna baru terhadap suatu fenomena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penyajian kesenian atau terhadap unsur      ekspresi yang digunakan dalam kesenian tersebut. Seperti kita ketahui      bahwa karya kesenian bersifat multi tafsir. Penonton/pendengar boleh dan      syah dalam menafsirkan ekspresi seni dari suatu karya seni. Demikian juga,      pada pihak seniman juga tersedia kebebasan (secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanggung jawab) dalam menggunakan unsur      unsur kesenian sebagai lambang atau simbol pemaknaan tertentu dalam rangka      menyampaikan pesan terhadap penonton/pendengar.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="6" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Re-orientasi. Kesenian tradisional      kehadirannya hampir selalu tidak mandiri, namun hampir selalu terkait      dengan kegiatan keseharian masyarakat, keagamaan atau kerajaan. Pemerintah      adalah patron utama. Ketika pemerintahan bergeser dari monarki ke republik,      orientasi kesenianpun bergeser mengarah patronnya yang baru. ketika      ekonomi dan industri menjadi patron baru dari kesenian, tak pelak kesenian      juga akan berorientasi kesana. Orientasi kesenian tersebut tersirat dalam      pesan pesan yang disampaikan oleh seniman seniman melalui kekaryaanya.      Dalam kasus karawitan Jawa misalnya, karya karya gendhing pada pasca      kemerdekan lebih banyak berubah orientasi dari ke raja bergeser ke      republik. Gening gendhing karya Ki Tjakrawasita, Ki Nartasabda memberi      contoh contoh perubahan orientasi tersebut.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="7" type="1"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Re-kreasi, yaitu membuat atau      meng-&lt;i style=""&gt;create&lt;/i&gt; lagi sesuatu yang      (sama sekali) baru. Kesenian atau informasi lama digunakan sebagai sumber,      pijakan atau titik tolak untuk penciptaan kesenian yang baru, baik dalam      format maupun dalam genre. Idiom ungkap kesenian baru juga sangat      dipertimbangkan kalau bukannya penting untuk diciptakan. Dalam produksi      kekaryaan seni, pekerjaan ini sering disebut sebagai karya yang dibuat      base on atau inspired by sesuatu yang dirujuk sebagai pijakan pembuatan      karya seni yang baru. Versi baru (&lt;i style=""&gt;new      version&lt;/i&gt;) juga sering digunakan dalam kegiatan re – kreasi kesenian      ini. beberapa contoh karya re-kreasi dapat disebut disini adalah wayang      ceng blong &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt;. Karya seperti I La      Galigo bisa disebut juga sebagai karya re-kreasi. Demikian pula karya      karya kolaborasi kesenian antar bangsa tidak sedikit yang bersifat sebagai      karya re – kreasi. LEAR, oleh Ong Keng Sen dan the Japan Foundation, RUN      karya Akira Kurusawa, dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;    Langkah langkah yang disebut diatas merupakan sesuatu yang dapat dan biasa dilakukan oleh berbagai pihak yang melakukan revitalisasi: lembaga pemerintah, swasta, juga seniman baik praktisi maupun pencipta. Bagaimana tentang hasil yang diperoleh ? Sangat bervariasi, dari yang berhasil sampai yang gagal. Kekurang berhasilan revitalisasi kesenian, - ibarat menyembuhkan penyakit -, selain belum menemukan cara remedi revaitalisasi yang cocok-, adalah satu hal yang lebih penting, yaitu belum banyak pihak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang melakukan diagnosa penyebab kesenian tertentu menjadi sakit.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;    &lt;/o:p&gt;Seperti pada awal tulisan ini kami sebut sebelumnya bahwa masalah utama mengapa suatu jenis kesenian ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya adalah karena lebarnya jarak (kesenjangan) antara kesenian dengan masyarakatnya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jarak tersebut meliputi :&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Jarak fisik. Sepertitelah disebut      sebelumnya bahwa sekarang ini terdapat perubahan paradigma dalam cara      menikmati, menonton atau mendengarkan kesenian. Sekarang ini kesenian      cenderung mendatangai konsumennya, penonton atau pendengar (sampai masuk      ke dalam kamar, kekantor kantor atau di mana saja konsumen berada, lewat      mesin berjalan dalam bentuk cd/dvd/audio walkman, maupun lewat media cetak      dan atau elektronik. Hal yang berbeda dengan cara menikmati kesenian pada      masa sebelumnya yang penonton/pendengar mesti datang ke tempat      diselenggarakannya pertunjukan atau pameran kesenian dengan atau tanpa      membayar tiket. Harus diakui bahwa sampai saat ini masih susah didapati      rekaman audio visual tentang kesenian tradisi yang tersedia di pasar      maupun yang ada di perpustakaan dan dokumentasi audio visual.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Jarak intelektual. Walaupun      kesenian pada dasarnya multi interpretasi, artinya, orang boleh memberi      tafsir yang berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Atau dalam      pengertian yang lebih ekstrem orang tidak perlu mengerti atau memahami      dalam menonton/ mendengarkan karya seni, tetapi lebih pada merasakan,      menikmati atau menghayati suatu karya seni. Namun perlu dicatat juga bahwa      semakin baik pemahaman seseorang terhadap suatu ekspresi seni,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ia akan dapat menghayati suatu kesenian      dengan lebih baik pula. Kesenian pada dasarnya merupakan sarana komunikasi      antara seniman dan penghayatnya. Terdapat beberapa bahasa atau idiom      tertentu yang digunakan oleh seniman untuk menyampaikan pesan kepada      khalayaknya. Kemampuan intelektual dalam kadar dan bentuk tertentu dari      kedua belah pihak, terutama pada pihak seniman sangat penting dalam      menciptakan dan atau menjembatani komunikasi antara kedua belah pihak.      Untuk seniman, terutama pencipta, kemampuan intelektual sangat menunjang      dalam kreativitas kekaryaannya. Perkembangan jaman yang cepat seperti yang      terjadi sekarang ini, dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar      peran dan pengaruhnya terhadap dunia kesenian, baik untuk menunjang bentuk      dan kwalitas kekaryaan, juga dalam rangka pengambangan kesenian. Teknologi      pencahayaan, set maupun tata suara merupakan salah satu contoh kebutuhan      yang hampir tidak dapat dipisahkan dalam penyajian penyajian kesenian.      Sedangkan diseminasi, alih kemampuan dan ketrampilan, sosialisasi,      publikasi, dokumentasi, pemasaran kesenian dan sebagainya, bantuan produk      teknologi jelas sangat dibutuhkan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Sayangnya, kenyataan menunjukkan bahwa sebagian terbesar dari pendukung kesenian tradisional di Indonesia pada umumnya memiliki latar belakang pendidikan yang tidak terlalu tinggi. Meskipun belum ada hasil penelitian yang menyebut adanya korelasi sejajar atau seiring, bahwa tingkat pendidikan seseorang selalu mencerminkan tingkat intelektualitas seseorang. Namun tidak dipungkiri bahwa pendidikan sangat besar perannya dalam mengasah kemampuan intelektual dari seseorang. Dengan bekal pengetahuan yang lebih tinggi dan atau luas, seseorang juga berepotensi untuk lebih cerdas dalam menggunakan berbagai cara dalam memberi, menerima dan mengelola (me-&lt;i style=""&gt;manage&lt;/i&gt;) informasi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="3" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Jarak informasi. Ketika kita      berada dalam abad informasi, siapa yang paling menguasai informasi, mereka      pulalah yang paling potensial untuk menguasai dunia. Sayangnya lagi,      masyarakat kesenian tradisional masih jauh dari menguasai teknologi      informasi dan komunikasi disebabkan oleh tingkat pendidikannya. Sebagian      besar dari mereka masih gagap teknologi komunikasi dan informasi. Sebagian      besar dari mereka menggunakan komunikasi lesan dalam memberikan atau menerima      informasi. Sedangkan ajang pertukaran informasi, termasuk mengenai      informasi tentang eveny dan terutama informasi tentang kesenian itu      sendiri, seperti pasar tradisional, upacara, hajadan dan berbagai      pertemuan keluarga atau masyarakat, saat ini juga semakin surut.      Supermarket, EO (event organiser) telah mengambil alih kerepotan hajatan      atau kerja kebersamaan antar anggota masyarakat dalam menyiapkan dan      menyelenggarakan hajadan. Demikian pula acara kumpul kumpul bareng.      Hajadan keluarga saat ini juga cenderung makin ringkas, praktis dan      pendek. kesempatan tukar informasi antar anggota masyarakat dengan demikin      menjadi semakin menyempit. Media masa, tulis maupun elektronis, juga tidak      berpihak kepada kesenian tradisonal karena dianggap tidak memiliki nilai      jual, sehingga masyarakat pada umumnya kurang mendapat informasi yang baik      dan benar tentang kesenian tradisi. Sebaliknya informasi tentang dunia      seni pop atau hiburan justru sangat meruah kalau bukannya berlebihan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Jarak emosional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tak kenal maka tak sayang. Ungkapan itu      berlaku juga dalam kaitannya dengan kehidupan seni tradional. Kesenjangan      informasi tentang dunia kesenian tradisi, menjadikan masyarakat semakin      tidak tahu tentang kesenian tradisional. Apalagi secara natural, kekuatan      kesenian ini bukan semata mata pada ujud fisiknya saja yang menarik atau      indah, namun lebih pada makna yang terkandung pada kesenian yang      bersangkutan serta guna dan manfaatnya bagi masyarakat. Beberapa makna dan      guna kesenian itu antara lain dapat disebuit bahwa kesenian bermanfaat      sebagai perekat kehidupan masyarakat, sarana edukasi moral, mendekatkan      manusia dengan lingkungan serta penciptanya dan sebagainya. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Komunikasi dalam kesenian, - sekali lagi-,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sangat penting untuk mendekatkan anggota masyarakat dengan sesama, dengan lingkungan maupun kepada Sang Pencipta. Komunikasi kesenian menggunakan bahasa lambang yang kadang “hanya” berlaku dan dimengerti oleh lingkungan (kelompok) masyarakat pendukung kesenian ini. Pengertian terhadap pemaknaan lambang pada kesenian tradisi ini semakin menipis karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pertemuan dan komunikasi antar anggota keluarga dan masyarakat juga semakin berkurang karena perubahan pola hidup. Diantara anggota keluarga sudah semakin jarang ketemu karena kesibukan masingh masing disamping tidak tersedianya space dan forum. Dongeng oleh orang tua untuk menidurkan anak sudah semakin langka. Kesenjangan pengertian ini sekali lagi menjadikan orang menjadi kurang sayang, kurang mencintai, kurang memiliki rasa memiliki (sense of belonging) dan dengan demikian menjadi kurang peduli dan tanggung jawab untuk memelihara atau mengembangkan kehidupan kesenian tradisional. Pada masa sebalumnya, masyarakat adalah pencipta, pelaku, pengguna sekaligus pemilik dari kesenian tradisi. Masyarakat dengan tulus dan ikhlas, berkenan menyediakan waktu, tenaga, pikiran dan beaya demi mendukung keberadaan serta pengembangan kesenian mereka. Kebutuhan sekaligus dukungan masyarakat terhadap keseniannya dengan demikian dilandasi oleh rasa cinta, tanggung jawab, rasa memiliki, dedikasi dan komitmen yang tinggi, termasuk berbagai pengorbanan dalam berbagai hal, waktu, tenaga, pikiran dan dana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;    Kesenjangan jarak jarak antara masyarakat dengan beberapa jenis kesenian yang semakin hari semakin lebar tersebut, sebenarnyalah merupakan salah satu penyebab pokok mengapa beberapa jenis kesenian menjadi surut bahkan mati. Dengan demikian, menurut hemat kami, revitalisasi kesenian diharapkan akan berhasil jika kita, pemerintah, masyarakat, seniman, sponsor, media dan berbagai pihak lainnya bekerja sama untuk mempersemit atau mengilimasi jarak jarak tersebut. Masing masing pihak bisa mengambil bagian sesuai dengan kapasitas dan kemampuannya. Banyak uang dan fasilitas belum cukup untuk keberhasilan hajadan revitalisasi kesenian.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;    Seniman sebagai pelaku dan pencipta seni dapat mengambil peran yang cukup besar dalam hajadan revitalisasi, terutama melalui kegiatan kreatifnya dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melakukan kegiatan kegiatan re-formasi, - memberi format baru -, re-interpretasi, - memberi makna baru terhadap kesenian yang sama -,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta re-kreatifnya, yaitu menciptakan bentuk kesenian baru berbasis dan atau dengan menggunakan materi lama dalam genre kesenian yang baru. Bersama dengan pihak lain yang merupakan partner kerja dalam hajadan ini, saling bekerja sama dengan mengilimasi kesenjangan jarak tersebut. Dengan membuat kesenian lebih indah dan bermakna, mudah mudahan kesenian makin memiliki fungsi yang makin luas sehingga lebih berguna bagi kemaslahatan manusia. Kesenian selain memberi hiburan lahiriah dan batiniah, ia juga mmampu memberi kebanggaan terhadap masyarakat atau bangsa yang menghidupinya, karena ia memang mampu merefleksikan sifat masyarakat tertentu dalam bentuk sebuah kemasan seni yang artistic dan bermutu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-2133641222649848953?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/2133641222649848953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=2133641222649848953' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2133641222649848953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/2133641222649848953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/04/kesenimanan-dalam-revitalisasi-kesenian.html' title='Kesenimanan dalam revitalisasi kesenian'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-3326360808886098601</id><published>2008-04-03T17:53:00.000+07:00</published><updated>2008-04-03T18:00:07.895+07:00</updated><title type='text'>Akhirnya Penghargaan itu diserahkan di Palembang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;b&gt;    Palembang&lt;/b&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;b&gt;, tradisi lisan.&lt;/b&gt; Dua seniman senior Sumatera Selatan, Saidi Kamaluddin dan Sahilin, Rabu, 2 Maret 2008 bertempat di ruang rapat Kadin Budpar Sumatera Selatan  akhirnya menerima penghargaan Maestro Tradisi dari Menbudpar  RI, Jaro Wacik yang diserahkan oleh Kepala Dinas Budpar Sumatera Selatan, Ir. Rachman Zeth, MSi dan Budi Priadi, Direktur Pembangunan Bangsa Depbudpar RI.&lt;br /&gt;    Penghargaan berupa piagam, plakat, dan uang sebesar Rp. 7.500.000.- masing-masing diterima langsung oleh kedua seniman senior itu. Penyerahan penghargaan tersebut memang terkesan sederhana tanpa dihadiri undangan khusus.&lt;br /&gt;    Seyogianya penyerahan penghargaan maestro itu direncanakan di Istana &lt;st1:city st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:city&gt; bulan lalu oleh &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Presiden&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;. Namun sayangnya acara itu ditunda sampai pada akhirnya &lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt; hari lalu kedua seniman menerima &lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt; pemberitahuan dan Surat Keputusan dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Depbudpar&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;br /&gt;    Saidi Kamaluudin menilai sayang sekali penyerahan penghargaan itu tidak mengambil waktu yang khusus dan mengundang para seniman, budayawan dan wartawan. Di sisi lain, Rahman Zeth akan mengusahakan untuk mengulang acara penyerahan penghargaan yang langsung diserahkan oleh Gubernur Sumatera Selatan. "Saya belum bisa janjikan waktunya, karena kita harus lihat dulu jadwal gubernur, " kata Rachman Zeth. /A1/&lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-3326360808886098601?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/3326360808886098601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=3326360808886098601' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/3326360808886098601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/3326360808886098601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/04/akhirnya-penghargaan-itu-diserahkan-di.html' title='Akhirnya Penghargaan itu diserahkan di Palembang'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5193685763327618072</id><published>2008-03-24T15:21:00.000+07:00</published><updated>2008-03-24T15:44:16.958+07:00</updated><title type='text'>Berita Gambar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R-dpBFVxWAI/AAAAAAAAACw/F_3YJMyqJhQ/s1600-h/IMG_0056.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 412px; height: 259px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R-dpBFVxWAI/AAAAAAAAACw/F_3YJMyqJhQ/s320/IMG_0056.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181225363647322114" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tumpengan: DR. Pudentia bersama seorang tokoh tradisi lisan memotong tumpeng ulang tahun ke 10 ATL (Asosiasi Tradisi Lisan)  di  apartemen  Aston, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurut Al-Azhar dari Riau, sedikit sekali LSM yang bergerak di bidang tradisi (budaya) yang memiliki nafas panjang. "Kita bersyukur bahwa ATL sampai hari ini (10 Desember 2007) masih eksis di tengah krisis ekonomi dan budaya," kata pria brewok itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-5193685763327618072?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/5193685763327618072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=5193685763327618072' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5193685763327618072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/5193685763327618072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/03/berita-gambar.html' title='Berita Gambar'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R-dpBFVxWAI/AAAAAAAAACw/F_3YJMyqJhQ/s72-c/IMG_0056.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-235207996190346135</id><published>2008-03-22T17:54:00.000+07:00</published><updated>2008-03-22T17:59:11.016+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Artikel (2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Menghidupi Tradisi Literasi:&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Problematika bagi Siswa, Guru, Sekolah, dan Negara&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh Wachid Eko Purwanto*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Leo Fay (1980), mantan presiden International Reading Asociation (IRA) pernah meyakinkan para koleganya dengan sebuah kalimat ringkas, to read is to prossess a power for transcending whatever physical human can muster.&lt;br /&gt;Di Indonesia, faktor yang menjadi penyebab rendahnya kemampuan membaca adalah, pertama, tradisi kelisanan (orality) yang secara historis-kultural masyarakat kita menyimpan warisan budaya lisan atau budaya tutur yang hampir-hampir telah memfosil. Berapa abad saja kita pernah kehilangan momentum literasi disebabkan masyarakat tempo dulu lebih memanjakan tradisi lisan (omong-dengar) dari pada tradisi literasi (baca tulis). Baru sekitar paruh abad VIII tradisi kita mengenal budaya literasi sebagai persinggungan dengan budaya Hindu, Budha, dan Islam. Itu pun baru menyentuh segelintir golongan, seperti elit kerajaan dan agamawan. Pada paruh abad XIX tradisi literasi berkembang; bersinggungan dengan para priyayi.&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu, lembaga pendidikan kolonial Belanda menyebarluaskan lebih merata, hingga akhirnya setelah kemerdekaan, sekolah-sekolah bangsa kita meneruskan tradisi baca-tulis tersebut kepada masyarakat umum. Dapat diperhitungkan, persinggungan budaya literasi masyarakat kita bisa diibaratkan sebagaimana bocah yang sedang belajar berjalan. Bandingkan dengan catatan sejarah bangsa lain, Jepang misalnya, memerlukan satu abad untuk membentuk tradisi literasi, yakni saat dimulainya Restorasi Meiji. Pada zaman tersebut Jepang melakukan kegiatan penerjemahan buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi secara besar-besaran. Negara itu juga mengupayakan budaya literasi kepada masyarakatnya. Pada saat itu Jepang bukanlah negara yang ‘diperhitungkan’ bangsa-bangsa lain, namun sekarang telah terbukti negara Matahari Terbit itu menjelma raksasa ilmu pengetahuan dan teknologi.&lt;br /&gt;Kedua, akibat sistem persekolahan kita yang kurang memberi peluang bagi tradisi literasi kepada peserta didik. Sampai saat ini model pengajaran di kelas pada umumnya masih bersandar pada tataran lisan sang guru. Guru menjadi terlalu banyak bicara, sedangkan siswa terlalu sukar menjadi pendengar. Berbagai pendekatan pendidikan yang selayaknya mensyaratkan hadirnya tradisi literasi lebih banyak dilakukan dalam perspektif kelisanan. Para guru, maaf, pada umumnya jarang menjadikan kegiatan membaca sebagai frame of reference (kerangka berpijak) pembelajaran yang ia lakukan kepada para siswa. Sebagaimana dikemukakan oleh Prof Ahmad Slamet Harjasujana; manusia-manusia yang dihasilkan oleh persekolahan kita masih merupakan masyarakat aliterat, yakni manusia-manusia yang bisa membaca namun lebih memilih untuk tidak membaca. Dikarenakan kegiatan membaca hanya sekedar kegiatan yang tidak mendapat penekanan utama dalam dunia pendidikan kita.&lt;br /&gt;International Achievment Education Asociation (IAEA) sebagai salah satu badan UNESCO pernah membuat laporan penelitian di negara-negara yang anak-anaknya memiliki minat dan keterampilan baca yang baik, misal Amerika, Finlandia, dan negara-negara Eropa, pada umumnya anak-anak tersebut mempunyai akses mudah dalam mendapatkan bermacam bacaan berkualitas, baik di perpustakaan sekolah maupun di rumah. Penelitian yang pernah dipublikaskan sekitar tahun 1988 tersebut betapa membikin sedih, bahwa pada penelitian ini, anak-anak Indonesia menduduki peringkat ke 29 dari 30 negara yang menjadi sampel. Tampaknya, sesudah hampir duapuluh tahun negara kita tercinta masih belum beranjak dari kedudukan miris ini, sebagaimana yang disitir Taufik Ismail, kualitas pendidikan Indonesia berada pada urutan memalukan, ke seratus sekian dari negara-negara lain.&lt;br /&gt;Lantas, apakah kita harus terus menyalahkan ‘dosa asal’ yang dilakukan oleh nenek moyang kita dalam memanjakan tradisi lisan? Tentu sudah tidak pada tempatnya, sebab sekaranglah waktunya berbenah jika tidak mau merasakan ketertinggalan yang lebih parah. Kita bisa mulai dari langkah sederhana dengan memahami bahwa kemahiran membaca adalah conditio sine quanon, prasyarat mutlak bagi setiap manusia yang ingin memperoleh kemajuan. Sebuah contoh peristiwa mungkin akan lebih menguatkan, sebutlah misalnya seorang Hartoonian, salah satu politikus AS yang pernah diwawancarai oleh seorang wartawan perihal apa yang harus dilakukan oleh bangsa Amerika untuk mempertahankan supremasinya. Jawaban yang tidak disangka dari Hoortanian, if we want to be a super power we must have individuals with much higher levels of literacy. Wow, bukankah tradisi literasi adalah sesuatu yang sangat luar biasa, bisa mengantarkan masyarakatnya memegang kekuasaan adidaya?&lt;br /&gt;Saat ini, hal perlu menjadi fokus perhatian adalah masihkah bangsa kita belum juga sadar pentingnya budaya literasi? Sebagian orang di belahan negara lain sudah bisa berangkat wisata ke bulan, sebagian masyarakat kita masih terheran-heran dengan perangkat komputer. Sebagian yang lain berangan-angan, bagaimana caranya bisa membeli ponsel bekas. Akan tetapi, jarang yang mempunyai pikiran, bagaimana negara kita bisa menciptakan pesawat terbang yang lebih nyaman atau minimal membuat kendaraan sendiri tanpa mengimpor suku cadang. Bukankah suatu negara yang menguasai teknologi tertentu, apalagi dengan menjadikannya hak paten bisa membuat tambang yang tidak habis-habis menghasilkan keuntungan?&lt;br /&gt;Boleh saja, saat ini kita berkata beruntung; kekayaan alam masih melimpah, tapi entah dua-tiga-empat generasi mendatang. Saat ini, bahkan di semua wilayah tambang bumi, masyarakatnya hanya menjadi buruh kasar. Anehnya, mereka merasa bangga memakai seragam perusahaan asing, juga upah yang tidak seberapa dibanding penghasilan investornya. Lebih parah lagi, buruh kerja tambang ini sebagian besar usia sekolah. Mereka tidak ingin sekolah dikarenakan sebagian teman sebaya dan tetangga yang pernah mencicipi sekolah lebih tinggi tidak bekerja ketika pulang kampung selain menjadi buruh kasar tambang. “Lalu, apa bedanya sekolah dengan tidak sekolah?” Itulah pendapat kasar yang sebagian besar dibenarkan oleh keadaan.&lt;br /&gt;Di sinilah sesungguhnya sekolah dituntut peran strategisnya. Sekolah merupakan lembaga legal-formal yang sengaja diadakan pemerintah untuk mencapai target-target pendidikan tertentu. Akan tetapi, sampai detik ini jikalau mau jujur, kurikulum pendidikan di negara kita, saya percaya, masih belum sepenuhnya dapat dipercaya. Kurikulum kita memang berupaya mati-matian mengangkat anak-anak didiknya dari kebodohan, minimal bebas buta aksara, namun di sisi lain tidak juga mengupayakan kecerdasan. Hasilnya, sekolah-sekolah kita magel, dalam istilah Jawa tidak mentah tetapi tidak juga bisa matang. Apabila magel terjadi pada buah-buahan, maka pantasnya cuma dibuang!&lt;br /&gt;Perhatikan kurikulum kita, bukankah tampaknya kurikulum ini lebih senang membebani para pekerja pendidikan dan peserta didiknya dengan tugas-tugas untuk sekedar meraih target nilai yang ditetapkan dari atas sana daripada membuat mereka merasa senang, nyaman, dan selalu kehausan berbagi dan menuntut ilmu? Memang benar, target nilai akan selalu dibutuhkan, namun perlu juga diingat bahwa pemenuhan target nilai bukan satu-satunya kewajiban pertama dan utama sekolah. Saat ini di beberapa wilayah target nilai malah menjadi masalah baru, lebih lagi apabila seorang gubernur atau bupati sudah menargetkan wilayahnya lulus 100%. Bisa dipastikan yang akan tertimpa abu panas adalah para kepala sekolah dan guru. Pekerja pendidikan bakal pontang-panting menyulap nilai peserta didiknya.&lt;br /&gt;Dilihat dari sudut pandang lain, selama ini target nilai telah menjelma menjadi hantu menakutkan bagi siswa, bukannya pendorong semangat belajar. Lantas, apa yang salah? Hal yang perlu dibenahi adalah tradisi literasi bagi para siswa. Tidak bisa dipungkiri, hanya sekolah sebagai lembaga pendidikan legal-formal yang dapat ‘memaksa’ para siswa untuk menjadikan tradisi literasi sebagai gaya hidup. Apabila tradisi literasi ini sudah mengakar kuat dalam diri siswa, seberapa pun tingginya target nilai yang diinginkan pemerintah akan dengan mudah tercapai. Sebagai bukti, bukankah siswa-siswa yang berprestasi selalu mempunyai latar belakang tradisi literasi yang mengakar?&lt;br /&gt;Ebel (1972: 35) pernah mengingatkan bahwa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kemampuan pemahaman bacaan yang dapat dicapai oleh peserta didik dan perkembangan minat bacanya bergantung pada faktor berikut, pertama, peserta didik yang bersangkutan. Kedua, keluarga. Ketiga, kebudayaannya. Keempat, situasi sekolah. Sedangkan Pearson memilahnya menjadi dua faktor utama, yakni faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik berupa kepemilikan kompetensi bahasa si pembaca, minat, motivasi, dan kemampuan membaca. Faktor ekstrinsik terbagi dalam dua kategori, pertama, unsur yang berasal dari dalam teks bacaan berkait dengan keterbacaan (readibility) dan organisasi teks atau wacana. Kedua, unsur yang berasal dari lingkungan baca; berkait dengan fasilitas, guru, model pengajaran, dll.&lt;br /&gt;Di sinilah peranan pemerintah dalam dunia pendidikan dituntut untuk menghidupi budaya literasi para siswa. Caranya dengan menyediakan bahan bacaan yang berkualitas dengan kuantitas memadai, membuat opini publik lewat iklan layanan masyarakat bahwa tradisi literasi merupakan landasan penting bagi kemajuan individu dan negara, menyediakan media yang dapat menampung aspirasi dari hasil-hasil tradisi literasi, dan yang lebih penting adalah tidak memanfaatkan tradisi literasi sebagai proyek, sebab hanya akan menjadi bumerang bagi pemerintah nantinya.&lt;br /&gt;Pertanyaannya, beranikah kita mengubah kegiatan membaca sebagai frame of reference, dengan ‘memaksa’ para peserta didik mengunyah tradisi literasi? Ingat, apabila kita tidak memaksakan pil pahit ini, entah sampai generasi ke berapa ratus anak didik kita mampu menjadi manusia-manusia unggul. Bukankah kita sepakat bahwa semua jenis peradaban selalu berpangkal tolak dari satu hal sederhana saja, yaitu menghidupkan dan menghidupi tradisi literasi?&lt;br /&gt;Oleh karena itu, agar penyakit yang diderita bangsa ini tidak semakin kronis, ada baiknya kita cerna pernyataan Andre Morois, sastrawan Perancis, pada hakekatnya salah satu misi terpenting kehadiran dunia persekolahan mulai SD hingga perguruan tinggi adalah untuk mengantarkan para peserta didik agar mampu “membuka gerbang perpustakaan” sendiri, atau dengan kata lain, manusia yang mencetak manusia-manusia berbudaya literasi. Morois, lebih lanjut secara tajam mengatakan: apabila dunia persekolahan tidak mampu merealisasikan misi tersebut, proses bersekolah boleh dianggap sebagai suatu kegiatan yang sia-sia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#6633ff;"&gt;&lt;em&gt;* Wachid Eko Purwanto, S.Pd. Alumnus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta. Beberapa tulisannya pernah dimuat di Kompas, Koran Sindo, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Jurnal Perempuan, Jurnal Kreativa, Koran Merapi, dan beberapa media lainnya. Bergiat di MISHBAH Cultural Studies Center. (sumber:www.tandabaca.com)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-235207996190346135?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/235207996190346135/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=235207996190346135' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/235207996190346135'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/235207996190346135'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/03/artikel-2.html' title='Artikel (2)'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-1638400554718367324</id><published>2008-03-08T20:13:00.000+07:00</published><updated>2008-03-08T20:22:46.455+07:00</updated><title type='text'>Arsip Berita (2)</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R9KSThaVqjI/AAAAAAAAACQ/GGh8ucZ4hAw/s1600-h/IMG_0058.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5175359785886132786" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 141px; CURSOR: hand; HEIGHT: 203px" height="265" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R9KSThaVqjI/AAAAAAAAACQ/GGh8ucZ4hAw/s320/IMG_0058.JPG" width="202" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#000066;"&gt;27 Maestro Seni Tradisi &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:180%;color:#000066;"&gt;Dapat Honor &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;ebanyak 27 maestro seni tradisi yang tersebar dari Sabang sampai Merauke menerima penghargaan dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar). Para seniman berusia lanjut itu setiap bulannya diberikan honorarium sebesar Rp 1 juta untuk mendukung para seniman melakukan transfer pengetahuan kepada para generasi pelanjutnya.&lt;br /&gt;''Pemberian penghargaan ini berangkat dari keprihatinan pemerintah atas    kebudayaan kita yang semakin banyak diambil oleh negara lain. Kami berharap dengan penghargaan ini akan mampu mendukung aktivitas para maestro seni tradisi untuk mewariskan keahlian mereka kepada generasi selanjutnya,'' kata Dirjen Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF), Mukhlis Paeni di Jakarta, akhir pekan lalu.&lt;br /&gt;Kriteria pemberian kepada para seniman tradisi ini, lanjut Mukhlis, tidak mudah. Di antaranya keahlian yang dimiliki merupakan tradisi yang sudah langka. Selanjutnya keahlian tersebut telah dilakoninya minimal selama 20 tahun. ''Dan, yang lebih penting lagi adalah para seniman yang diibaratkan mati segan hidup tak mau,'' kata Mukhlis memberi perumpamaan terhadap kondisi keseharian para seniman terpilih.&lt;br /&gt;Dengan diberikannya penghargaan berupa honorarium transfer pengetahuan tiap bulan sebesar Rp 1 juta, Muhklis berharap para maestro seni dapat lebih berkonsentrasi menularkan keilmuan mereka atas penguasaan seni tradisi. ''Honorariun transfer pengetahuan akan dihentikan jika para maestro itu dianggap tidak mampu lagi mewariskan keilmuannya,'' katanya. Honor tersebut mulai diberikan pada Januari 2008 ini.&lt;br /&gt;Pemilihan 27 nama itu melibatkan sejumlah pakar dalam bidangnya masing-masing, seperti Dr Mukhlis Paeni, Romo Mudji Sutrisno, Nano Riantiarno, Prof Dr Achadiati, Prof Sardono W Kusumo, Prof Dr Sapardi Sjoko Damono, Prof Dr Ida Sundari Husen, Titi Said, dan Dr Pudentia MPSS MA.&lt;br /&gt;Menurut Ketua Asosiasi Tradisi Lisan, Dr Pudentia, MPSS, MA, timnya telah bekerja sejak Januari tahun lalu. Dari hasil verifikasi itu terjaring 50 nama seniman tradisi. Namun, setelah melalui proses seleksi yang sangat ketat, akhirnya ditetapkan 27 nama sebagai maestro seni tradisi. ''Ada pun dalam bank data kami di Indonesia kira-kira masih terdapat 300 sampai 400-an seniman tradisi yang tersisa di seluruh Indonesia,'' katanya.&lt;br /&gt;Encim Masnah, 75 tahun, penyanyi klasik gambang kromong dari Tangerang, Banten, mewakili ke-27 maestro penerima penghargaan, menyatakan kegembiraannya. ''Selama ini kami berjuang sendiri untuk meneruskan warisan turun temurun orang tua kami. Penghargaan ini memberikan dorongan kami untuk makin giat mewariskan seni tradisi kepada generasi selanjutnya,'' kata dia. (akb)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;sumber:www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=318740&amp;amp;kat_id=383 - 31k &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-1638400554718367324?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/1638400554718367324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=1638400554718367324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1638400554718367324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1638400554718367324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/03/arsip-berita-2.html' title='Arsip Berita (2)'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R9KSThaVqjI/AAAAAAAAACQ/GGh8ucZ4hAw/s72-c/IMG_0058.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-4068029194238316263</id><published>2008-03-06T11:52:00.000+07:00</published><updated>2008-03-06T11:57:37.748+07:00</updated><title type='text'>Arsip Berita (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R895heUbV_I/AAAAAAAAACI/Kv_rcwMf_6s/s1600-h/Saidi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5174488112853374962" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R895heUbV_I/AAAAAAAAACI/Kv_rcwMf_6s/s320/Saidi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#3333ff;"&gt;Bermula dari Syair Raja Ali Haji &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dari manakah dulmuluk berasal? Ada beberapa versi tentang sejarah teater tradisional yang berkembang di Sumatera Selatan itu. Satu versi yang sering disebut- sebut, teater ini bermula dari syair Raja Ali Haji, sastrawan yang pernah bermukim di Riau.&lt;br /&gt;Penyair dan anggota Asosiasi Tradisi Lisan Sumatera Selatan, Anwar Putra Bayu, di Palembang, Selasa (28/2), mengungkapkan, salah satu syair Raja Ali Haji diterbitkan dalam buku Kejayaan Kerajaan Melayu. Karya yang mengisahkan Raja Abdul Muluk itu terkenal dan menyebar di berbagai daerah Melayu, termasuk Palembang.&lt;br /&gt;Seorang pedagang keturunan Arab, Wan Bakar, membacakan syair tentang Abdul Muluk di sekitar rumahnya di Tangga Takat, 16 Ulu. Acara itu menarik minat masyarakat sehingga datang berkerumun. Agar lebih menarik, pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang, ditambah iringan musik.&lt;br /&gt;Pertunjukan itu mulai dikenal sebagai dulmuluk pada awal abad ke-20. Pada masa penjajahan Jepang sejak tahun 1942, seni rakyat itu berkembang menjadi teater tradisi yang dipentaskan dengan panggung. Saat itu dulmuluk sempat menjadi alat propaganda Jepang.&lt;br /&gt;Grup teater kemudian bermunculan dan dulmuluk tumbuh dan digemari masyarakat. ”Dulmuluk menarik karena menampilkan teater yang lengkap. Ada lakon, syair, lagu-lagu Melayu, dan lawakan. Lawakan, yang biasa disebut khadam, sering mengangkat dan menertawakan ironi kehidupan sehari- hari masyarakat saat itu,” kata Anwar Putra Bayu.&lt;br /&gt;Ketua Umum Himpunan Teater Tradisional Sumsel Muhsin Fajri menilai, pementasan dulmuluk selalu ditunggu masyarakat karena akting di panggung dibawakan secara spontan dan menghibur, bahkan penonton juga bisa merespons percakapan di atas panggung. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu dan bahasa Palembang.&lt;br /&gt;Perjalanan dulmuluk mulai surut sejak tahun 1990-an, ketika alternatif hiburan semakin banyak, terutama melalui televisi dan film layar lebar. Teater tradisi itu semakin merosot setelah orang yang menggelar hajatan lebih memilih pertunjukan organ tunggal. Akhirnya, dulmuluk seperti kehabisan energi, kehilangan pamor, dan tidak mampu bangkit lagi.&lt;br /&gt;”Dulmuluk terlambat beradaptasi dengan zaman yang berubah begitu cepat. Hanya bermodalkan cerita yang monoton dan manajemen ala kadarnya, dulmuluk sulit bersaing dengan hiburan modern,” katanya.&lt;br /&gt;Sebenarnya, beberapa kelompok seniman berusaha melestarikan dan membina generasi muda menekuninya. Beberapa acara digelar: festival, pelatihan, siaran di televisi, dan pementasan dulmuluk secara terbuka. Namun, sedikit generasi muda yang tertarik, sedangkan generasi tua terus berkurang.&lt;br /&gt;”Kalau mau bertahan, dulmuluk hendaknya memperbarui diri dengan menciptakan kreasi cerita, pendekatan, dan tema yang lebih sesuai dengan kehidupan sekarang. Pakem lama tidak sakral sehingga bisa diadaptasikan dengan perubahan zaman,” kata Zulkhair Ali, dokter spesialis penyakit dalam di RS Muhammad Hoesin, Palembang. Dokter yang dikenal sebagai ZA Nara Singa ini aktif menghidupkan spirit dulmuluk dalam teater modern pada berbagai pementasan. (ilham khoiri)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Sumber:www2.kompas.com/kompas-cetak/0603/03/sumbagsel/2480852.htm - 39k -&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-4068029194238316263?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/4068029194238316263/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=4068029194238316263' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4068029194238316263'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4068029194238316263'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/03/arsip-berita-1.html' title='Arsip Berita (1)'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R895heUbV_I/AAAAAAAAACI/Kv_rcwMf_6s/s72-c/Saidi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-4258775875439552749</id><published>2008-03-02T19:00:00.000+07:00</published><updated>2008-03-02T19:19:31.461+07:00</updated><title type='text'>Artikel I Made Suastika</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R8qa3BDMvKI/AAAAAAAAABs/QbzcVZ9R69E/s1600-h/Ornamentik.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173117391953771682" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R8qa3BDMvKI/AAAAAAAAABs/QbzcVZ9R69E/s200/Ornamentik.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#663300;"&gt;CALON ARANG DALAM TRADISI BALI KINI&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;I Made Suastika&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Calon Arang dalam Berbagai Bidang &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Pada bagian ini dibahas keunikan Pulau Bali, yaitu memiliki tradisi yang dapat ditunjukkan dalam bidang kebudayaan, terutama kentalnya pengaruh Jawa Kuna (di Jawa sudah tidak dikenal lagi) yang dipelihara oleh masyarakat Bali sebagai warisannya. Dalam hal ini dapat disebutkan bahwa pengaruh unsur Jawa telah melahirkan tradisi baru berupa tradisi sastra tulis Calon Arang, yakni awalnya di Jawa berupa legenda (bernilai kesejarahan) yang berasal dari tradisi lisan, kemudian diubah dalam tradisi tulis (keberaksaraan) yang ditemukan dalam genere prosa, puisi (kidung), dan geguritan. Namun, pada periode terakhir, yakni pada abad ke-20 telah lahir genre kakawin (kakawin Calon Arang) yang muncul dari kreativitas pengarang Bali lewat ciptaan baru. Dalam hubungan ini dapat dijelaskan bahwa teks-teks tersebut memiliki jalinan yang erat, terutama dalam alur cerita dan isi teks (tema) dalam tradisi Bali itu.&lt;br /&gt;Secara ringkas, tema cerita Calon Arang bersifat magis pada semua teks tulis, meskipun ada perbedaan alur cerita, tokoh tambahan, dan panjang pendeknya alur cerita. Tokoh utama Calon Arang memiliki tema sentral dalam alur cerita dengan murid-muridnya yang beragam jumlahnya. Kematian, sebagai akhir cerita Calon Arang, yaitu lewat peperangan rahasia (ilmu sihir).&lt;br /&gt;Pada teks belakangan (geguritan) kental dengan istilah berbahasa Bali kini (kapara). Lebih lanjut Calon Arang dengan berbagai versinya dalam tradisi tulis dapat dibaca dalam Pigeaud (1967-1981) dan kajian Suastika (1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Calon Arang dalam Tradisi Lisan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam tradisi lisan, perkembangan Calon Arang tidak dapat dipisahkan dengan tradisi tulis. Tradisi lisan berkembang bersamaan dengan tradisi tulis dalam kebudayaan Bali, yakni sejalan dengan dinamika masyarakatnya, bahkan dilihat dari segi isi dan media yang dipakainya bertumpang tindih. Dalam tradisi lisan, Calon Arang ditemukan pada teks-teks satua yang bersifat magis. Misalnya, satua barong, rangda, leak, rarung dan satua magis lainnya (dong geleh, durga, tonya, memedi). Disamping itu, Calon Arang digunakan secara lisan sebagai lakon pertunjukan pewayangan dan drama tari. Selain itu, kebanyakan tradisi lisan Calon Arang erat kaitannya dengan seni pertunjukan di Bali, seperti lakon arja (drama tari) Calon Arang, Katundung Ratna Manggali, Kautus Baradah, Siat Bradah-Calon Arang ring Setra, dan Kautus Rarung. Tokoh utama Rangda di Bali diperankan oleh Matah Gede yang pada bagian akhir cerita berubah menjadi rangda.&lt;br /&gt;Pertunjukan lakon Calon Arang banyak berkembang di Bali, terutama di desa-desa yang memiliki barong dan rangda yang disebut due pura. Misalnya, dramatari Calon Arang di Pentih Sukawati, Batuan, Bangli, Tampak Gangsul, pura di Jalan Diponegoro, Denpasar (8 November 2006), dan lain-lain.&lt;br /&gt;Di samping itu, pada tahun 1997 pernah dilakukan festival wayang Calon Arang se-Bali. Ketika itu tampil (yang diawali dengan diskusi) dalang senior sebagai model, yaitu dalang Ida Bagus Baskara dari Buduk, yakni sekitar tahun 1960-an telah mementaskan lakon Calon Arang dengan tema rwa bineda (dua aspek negatif/buruk-positif/baik) dan proses pencarian darma oleh Calon Arang. Selain itu, pelepasan (pencarian bobot keimanan tertinggi) menjadi tema pertunjukan waktu itu.&lt;br /&gt;Dalam pementasan yang lebih luas dan mendasar Calon Arang digunakan dalam tema PKB (Pesta Kesenian Bali Tahun 1998 dengan segala aktivitasnya yang bersumber dari teks Calon Arang). Kegiatan yang bersumber dari cerita Calon Arang) tersebut, yakni meliputi : serasehan (seminar), pertunjukan tari (dramatari), sastra daerah, lukis, pawai, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Wayang kulit Calon Arang adalah salah satu jenis pertunjukan wayang yang dikenal di Bali dengan tokoh Walu Nateng Girah (Rangdeng Dirah). Dalam hal ini disebut pertunjukan wayang Calon Arang karena mengambil tema Calon Arang yang sangat terkenal di Bali. Salah satu penyebab mengapa pementasan wayang Calon Arang pernah mengalami penurunan frekuensi pementasannya, yakni diakibatkan oleh adanya pemahaman yang berbeda terhadap esensi teks, yang sesungguhnya bertemakan rwa-bineda dan pendakian darma (kelepasan). Namun, disimpangkan ke arah yang lebih menonjolkan aspek magis dan dalam pementasannya disebut ngundang-undang (memanggil-manggil) seseorang, yakni dengan mengatakan bahwa orang itu pandai ngeleak dan kalau berani datang kemari dekat dengan dalang untuk berperang. Siapakah sesungguhnya yang lebih sakti, yang menang memakan yang kalah. Jangan hanya berani dari jauh, tidak menampakkan diri, dan tiba-tiba lenyap dari tempatnya.&lt;br /&gt;Dalam salah satu adegan, yakni ketika Calon Arang menyebutkan kekuatan ilmunya (niscaya lingga). Hal ini membuat penonton ”agak ketakutan” karena munculnya adegan magis, yakni berupa pemotongan babi guling yang belum dikebiri (celeng butuhan). Ini merupakan salah satu adegan magis, karena Calon Arang yang diasosiasikan dengan rangda, leak dalam adegan memakan makanan kesukaannya sehingga jelas menunjukkan adegan yang membuat penonton agak berdebar-debar. Adegan-adegan di atas sering memunculkan sikap yang bersifat arogan sang dalang tidak jarang sikap ini ditanggapi negatif oleh masyarakatnya hingga sering menimbulkan konflik (kesenjangan) di dalam masyarakat.&lt;br /&gt;Alur cerita biasanya dimulai dengan adegan pengertian rahasia yang dilakukan oleh Calon Arang (Randeng Girah) yang membuat banyak rakyat, terutama di daerah pinggiran, sekarang ia menolong menguburkan mayat, besoknya ia sendiri mati. Akibatnya para mentri, patih meminta pertolongan caturbuja, yaitu sebuah upacara untuk menanggulangi bencana, yakni dengan menjalankan praktik-praktik darma.&lt;br /&gt;Akhirnya diketahui penyebab penyakit, yakni Rangdeng Dirah dan murid-muridnya menari di kuburan. Akibatnya, negeri menjadi panas, sakit, dan gering. Setelah jelas diketahui penyebab penyakit, maka Mpu Bahula melamar Ratna Mangali putri Calon Arang. Permintaan itu dipenuhi, sehingga usaha Mpu Bahula berhasil mendapatkan lepiakara (ilmu utama) yang dimiliki Calon Arang kemudian menyerahkan kepada Mpu Baradah.&lt;br /&gt;Calon Arang meminta supaya diruwat, tetapi Mpu Baradah menolaknya. Selanjutnya terjadilah perang rahasia dengan ucapan-ucapan suci (mantra) Om dasaksara, bayu, sabda, idep. Calon Arang mati, tetapi dihidupkan kembali (pengurip-urip, sang Hyang Kaja Premana ring sariranta). Calon Arang diruwat dan akhirnya mencapai moksah. Hal ini yang menyebabkan wayang Calon Arang digunakan untuk ruwatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Calon Arang dalam Seni Lukis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam hal ini ada sejumlah lukisan yang mengambil tema dari teks Calon Arang. Hal itu dapat diketahui dari koleksi lukisan Museum Klasik I Nyoman Gunarsa di Klungkung, Bali. Museum ini yang mengoleksi beberapa lukisan klasik Bali mulai dari zaman Klungkung/Gelgel sampai masa kini.&lt;br /&gt;Lukisan lain berjudul Calon Arang dan Sisyanya sedang menari di kuburan. Beberapa lukisan klasik yang bertemakan Calon Arang (termasuk episode Calon Arang) dikoleksi Museum Klasik I Nyoman Gunarsa.&lt;br /&gt;Lukisan berjudul Calon Arang karya Walter Spies (1932) merupakan koleksi yang sampai saat ini disimpan di Museum Asma, Ubud. Beberapa lukisan lain yang dibuat pelukis Bali Modern seperti lukisan berjudul rangda, dan sejumlah karya magis yang dibuat oleh pelukis Bali di antaranya Ngurah T.Y.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Calon Arang dalam Pementasan Barong-Rangda&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pementasan/pertunjukan barong-rangda ada yang asli seperti pementasan due pura yang dilakukan pada setiap hari odalan (hari suci) di pura tersebut. Dalam hal ini ada sejumlah pertunjukan barong-rangda sebagai simbol kebaikan dan keburukan yang mengambil inti sari lakon Calon Arang. Pertunjukan barong-rangda dipentaskan di Batubulan, Puri Ubud, beberapa tempat lain seperti berjudul Barong Dance sebagai pertunjukan wisata (balih-balihan). Dalam kairan ini adalah Barong simbol Mpu Baradah (simbol kebenaran/kebaikan/dharma) dan rangda simbol Calon Arang (keburukan/angkara murka/adharma).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Calon Arang dalam Drama Modern&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Pertunjukan Calon Arang dalam drama modern pernah dipentaskan oleh kelompok seni (sanggar) yang dimainkan oleh Cok Sawitri dkk. ketika dilakukan Festival Seni Pertunjukkan Nasional di Taman Tirta Gangga Karangasem sekitar tahun 2002 yang lalu. Lakon yang mengambil tema betapa kuatnya laki-laki menghegemoni kaum perempuan, sampai-sampai tidak ada pembelaan terhadap dirinya. Dalam hal ini wanita terpinggirkan citranya akibat kekuatan patriarkhi. Wanita yang ditokohkan oleh Calon Arang dari Girah hampir tidak dapat membela diri, baik secara budaya dan hukum, apalagi di bawah bayangan kekuasan Raja Erlangga yang tersohor itu. Sehubungan dengan hal ini sebutan Calon Arang adalah Rangdeng Dirah dan Walu Nateng Dirah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Simpulan&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;1) Tradisi Calon Arang di Bali berkembang dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat Bali, terutama lewat teks tulis, tradisi lisan, lakon seni pewayangan (wayang kulit Calon Arang), lewat seni lukis klasik dan modern, dramatari Calon Arang (pertunjukkan sakral dan pertunjukan wisata barong-rangda), dan satua-satua yang magis (tenget).&lt;br /&gt;2) Hubungan antara tradisi itu bertumpang tindih, saling melengkapi, serta menyatu dalam payung budaya dan tradisi masyarakat Bali yang religius, terutama karena adanya pemahaman terhadap nilai hakiki Calon Arang. Nilai itu, seperti : kalepasan, rwa-bineda, ruwat, darma, dan jalan menuju kematian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-4258775875439552749?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/4258775875439552749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=4258775875439552749' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4258775875439552749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/4258775875439552749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/03/artikel-i-made-suastika.html' title='Artikel I Made Suastika'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R8qa3BDMvKI/AAAAAAAAABs/QbzcVZ9R69E/s72-c/Ornamentik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-3028886752520613310</id><published>2008-03-02T18:46:00.000+07:00</published><updated>2008-03-02T18:57:28.152+07:00</updated><title type='text'>Dokumen Foto (1)</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R8qVUBDMvII/AAAAAAAAABU/QWRmamKKJBo/s1600-h/Nenggung.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173111293100211330" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R8qVUBDMvII/AAAAAAAAABU/QWRmamKKJBo/s400/Nenggung.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Yudhi Kamaluddin saat menenggung &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff0000;"&gt;dalam acara Festival Pantun Nusantara&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;span style="font-size:78%;color:#ff0000;"&gt;di Gedung Kesenian Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-3028886752520613310?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/3028886752520613310/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=3028886752520613310' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/3028886752520613310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/3028886752520613310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/03/dokumen-foto-1.html' title='Dokumen Foto (1)'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_wGUg7DpdoXQ/R8qVUBDMvII/AAAAAAAAABU/QWRmamKKJBo/s72-c/Nenggung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-1706473557139902886</id><published>2008-02-23T14:25:00.000+07:00</published><updated>2008-02-23T14:27:06.052+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='/Esai/'/><title type='text'>NENGGUNG</title><content type='html'>:Tradisi Meninabobokkan Anak&lt;br /&gt;Oleh Linny Oktovianny&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA bayi atau anak kecil sulit tidur atau terbangun terus ketika sedang tidur,  maka dengan bergegas Sang Ibu akan meninabobokkannya dengan berbagai lagu yang diiramakan yang disebut nenggung. Namun, sangat disayangkan tradisi nenggung di kalangan masyarakat Palembang dan sekitarnya hanyalah tinggal kenangan. Tradisi nenggung sekarang tinggal cerita. Orang tua masa kini sudah tidak dapat lagi meninabobokkan anaknya dengan nenggung karena sudah ada penggantinya. Nenggung sudah dapat digantikan dengan berbagai lagu anak atau lagu-lagu masa kini yang tentu saja yang dapat dihapal oleh Ibu si anak. Saat ini, banyak alternatif lagu atau musik yang lebih menjanjikan, antara lain radio, kaset, CD, bahkan DVD. Wajarlah, para ibu masa kini sudah tak dapat meninabobokkan anaknya dalam belaian atau buaian ibunya. &lt;br /&gt;Nenggung adalah nyanyian berupa pantun untuk menidurkan anak yang berisi ajaran agama, moral, dan nasihat yang berguna sehingga anak merasa nyaman tidur. Biasanya nenggung dituturkan ketika anak akan tidur atau susah tidur karena suatu hal, antara lain karena sakit atau perasaan tidak nyaman. Nenggung dapat dituturkan oleh Ibu, ayah, nenek, kakek, atau sanak keluarga lainnya yang dekat dengan si anak. Setakat ini, nenggung pada etnis Palembang jarang digunakan lagi bahkan nyaris punah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah cuplikan Nenggung:&lt;br /&gt;Lailahaillahlah Muhamaddarasullulah&lt;br /&gt;Hul malikul haqqul Mubin&lt;br /&gt;Muhammadurrosullulah&lt;br /&gt;Shadiqul wa’dul Aamiin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapo banyak barang di peti&lt;br /&gt;Cuma sikok tekepel beringin&lt;br /&gt;Berapo banyak wong di sini&lt;br /&gt;Cuma sikok yang aku ingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan cuci kayunyo jati&lt;br /&gt;Buahnyo si hitam putih&lt;br /&gt;Sudah lama kami nuruti&lt;br /&gt;Rambutku hitam jadi putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan kampong ujung&lt;br /&gt;Hari panas terbuka payung&lt;br /&gt;Mato lenting, hidung mancung&lt;br /&gt;Seperti bulan awan mengandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah delimo di dalam peti&lt;br /&gt;Campak di tanah betangkai empat&lt;br /&gt;Sudah lamo kami menanti&lt;br /&gt;Baru sekarang kamek mendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing ini penjaga ruma&lt;br /&gt;Ristan makanan ia terima&lt;br /&gt;Kalu pintar kito ternama&lt;br /&gt;Kalu buyan idup merana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak minjem jarum sulaman&lt;br /&gt;Jangan sampe hilang ukurnyo&lt;br /&gt;Dicium pelan-pelan&lt;br /&gt;Jangan sampe ilang pupurnyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah mangga di bungkus rapat&lt;br /&gt;Padi di ladang di makan kuda&lt;br /&gt;Dua tiga boleh kudapat&lt;br /&gt;Tidak sama dengen ananda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngesek biola di bawa tanggo&lt;br /&gt;Kaco ruma remuk jualan cino&lt;br /&gt;Makmano hati dak gilo&lt;br /&gt;Nyelek cucung dak becelano&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian campak dengen durinyo &lt;br /&gt;Campak ke sekel dak kan luko&lt;br /&gt;Awak baik dengen budinyo&lt;br /&gt;Sampe mati dak kan kulupo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nak gugur-gugurlah nangko  &lt;br /&gt;Jangan nimpo si batang padi  &lt;br /&gt;Nak tiduk, tiduklah mato  &lt;br /&gt;Jangan nyinto si main lagi  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berapa banyak barang di peti&lt;br /&gt;Hanya satu terkepal beringin&lt;br /&gt;Berapo banyak orang di sini&lt;br /&gt;Hanya satu yang aku ingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papan cuci kayunya jati&lt;br /&gt;Buahnyasi hitam putih&lt;br /&gt;Sudah lama kami turuti&lt;br /&gt;Rambutku hitam jadi putih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan-jalan kampung ujung&lt;br /&gt;Hari panas terbuka payung&lt;br /&gt;Mata lenting, hidung mancung&lt;br /&gt;Seperti bulan awan mengandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah delimadi dalam peti&lt;br /&gt;Jatuh  di tanah bertangkai empat&lt;br /&gt;Sudah lamakami menanti&lt;br /&gt;Baru sekarang kami mendapat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing ini penjaga rumah&lt;br /&gt;Sisa makanan ia terima&lt;br /&gt;Kalau pintar kita ternama&lt;br /&gt;Kalau bodoh hidup merana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin meminjam jarum sulaman&lt;br /&gt;Jangan sampai hilang ukurnya&lt;br /&gt;Dicium pelan-pelan&lt;br /&gt;Jangan sampai hilang bedaknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah mangga di bungkus rapat&lt;br /&gt;Padi di ladang di makan kuda&lt;br /&gt;Dua tiga boleh kudapat&lt;br /&gt;Tidak sama dengan ananda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggesek  biola di bawah tangga&lt;br /&gt;Kaca rumah remuk jualan Cina&lt;br /&gt;Bagaimana hati tak gila&lt;br /&gt;Melihat cucu tidak bercelana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian jatuh dengan durinya&lt;br /&gt;Jatuh ke kaki tidakkan luka&lt;br /&gt;Kamu baik dengan budinya&lt;br /&gt;Sampai mati tidakkan kulupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau gugur-gugurlah nangka  &lt;br /&gt;Jangan menimpa si batang padi  &lt;br /&gt;Mau tidur, tiduklah mata  &lt;br /&gt;Jangan menyinta si main lagi   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nenggung di atas dituturkan sambil si anak ditimang-timang atau diayun agar si anak segera tidur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-1706473557139902886?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/1706473557139902886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=1706473557139902886' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1706473557139902886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/1706473557139902886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/02/nenggung.html' title='NENGGUNG'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-8856619661352415661</id><published>2008-02-22T20:33:00.000+07:00</published><updated>2008-02-22T20:41:36.996+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Profil'/><title type='text'>Sahilin, Ikon Seni Batanghari Sembilan</title><content type='html'>/Ilham Khoiri /&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Umak-umak belikan sagu/ Aku kepingin makan pempek/ Umak-umak carikan aku/ Aku ni lah malas tiduk dewek.&lt;br /&gt;Lemak pule makan pempek/ Ambek sagu buat tekwan/ Daripade tiduk dewek/ Lemak sekali lah meluk bantal. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Pantun bersahut itu dilantunkan Sahilin dan Siti Rahmah secara bergantian di pentas hajatan perkawinan di Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Sumatera Selatan.&lt;br /&gt;Lelaki tunanetra itu memetik gitar tunggal sambil melontarkan pantun, sedangkan Siti menyahutinya dengan pantun lain. Puluhan penonton menyimak sambil tergelak-gelak, Sabtu (11/3) malam itu.&lt;br /&gt;Maklum, kedua pantun itu memang penuh kelakar. Diceritakan, ada seorang pemuda yang sudah malas tidur sendirian sehingga minta tolong ibunya untuk mencarikan istri. Pemuda itu disindir, lebih baik memeluk bantal daripada tidur sendirian. Cerita itu disampaikan dengan menggunakan sampiran pempek, makanan khas Palembang.&lt;br /&gt;Pertunjukan musik tersebut dikenal sebagai batanghari sembilan. Seni ini menampilkan satu-dua penyanyi yang melantunkan pantun bersahut, dengan iringan petikan gitar tunggal.&lt;br /&gt;Batanghari sembilan sendiri berarti sembilan sungai besar. Disebut demikian karena musik itu memiliki irama yang meliuk-liuk dan lirik berupa pantun bersahut yang panjang dan bersambungan, mirip aliran sungai.&lt;br /&gt;Batanghari sembilan merupakan seni tradisional yang tumbuh di Sumatera Selatan (Sumsel) sejak ratusan tahun lalu. Masyarakat biasa menikmati seni ini pada malam hari setelah lelah kerja seharian. Seniman yang menekuni seni ini tinggal sedikit, salah satunya Sahilin.&lt;br /&gt;Sahilin selalu tampil dengan mengenakan kacamata hitam lebar dan rambut tersisir rapi. Pertunjukannya selalu ditunggu masyarakat karena permainan gitarnya yang unik.&lt;br /&gt;Setiap ganti lagu dia menyetel gitarnya sehingga menghasilkan irama yang berbeda. Dari delapan nada dasar pada gitar, dia kerap hanya mengandalkan lima nada. Nada-nada itu dipadukan secara pentatonis, mirip gamelan atau ketukan perkusi yang ritmis dan agak monoton.&lt;br /&gt;Lelaki itu juga mahir menciptakan pantun dengan berbagai tema. Satu pantun berisi 30 bait hingga 50 bait. Ada yang menceritakan kisah sedih, pesan moral, atau kelakar yang lucu. Beberapa pantunnya menjadi lirik batanghari sembilan yang terkenal, antara lain Ratapan Mati Gadis, Kaos Lampu, Tiga Serangkai, Kisah Pengantin Baru, dan Bujang Buntu.&lt;br /&gt;"Ada puluhan pantun yang saya buat. Banyak juga yang muncul spontan saat merasakan suasana di panggung, tetapi banyak yang tidak direkam sehingga sering terlupa," katanya.&lt;br /&gt;Saat bernyanyi, dia melantunkan pantun-pantun itu dengan penuh penghayatan. Kadang suaranya melengking, kadang melemah seperti bergumam. Dengan kemampuan yang lengkap dan ketekunan selama 34 tahun lebih, Sahilin akhirnya menjadi ikon seni batanghari sembilan di Sumsel. Citra itu demikian lekat sehingga banyak orang menyangka, Sahilin adalah nama aliran musik itu sendiri.&lt;br /&gt;Konsistensi lelaki ini dalam mengembangkan batanghari sembilan telah turut melestarikan seni pantun bersahut dengan bahasa lokal Benawe, Kecamatan Tanjung Lubuk, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel.&lt;br /&gt;Pantun termasuk salah satu sastra tutur yang banyak memuat kearifan lokal, dari budaya masyarakat di pedalaman sungai yang kini semakin ditinggalkan. Atas pengabdiannya di bidang seni, Sahilin memperoleh penghargaan budaya dari Pemerintah Provinsi Sumsel tahun 2000.&lt;br /&gt;Sahilin lahir di Kampung Benawe, yang terletak 45 kilometer selatan Palembang, sekitar 50 tahun lalu. Dia tidak pernah sekolah. Saat berusia lima tahun, kedua matanya terserang penyakit keras sehingga buta. Dalam kesendirian yang gelap, dia menemukan gitar sebagai instrumen untuk menghibur diri.&lt;br /&gt;Sahilin lalu serius belajar bermain gitar untuk memainkan lagu-lagu batanghari sembilan dari ayahnya, Mat Sholeh. Dia juga tekun menyimak variasi batanghari sembilan yang kerap diputar di radio. Pantun dipelajari secara otodidak dengan mendengar dari sana-sini.&lt;br /&gt;Ketika berumur belasan tahun, Sahilin telah muncul sebagai seniman batanghari sembilan yang mumpuni di kampungnya. Tahun 1972, ia mengadu nasib ke Palembang. Setelah manggung dari hajatan ke hajatan selama tiga tahun, dia menjadi seniman yang tenar.&lt;br /&gt;Sahilin mulai masuk dapur rekaman Palapa Studio di Palembang tahun 1975. Kaset album pertama, yang berjudul Ratapan Mati Gadis, laku keras. Album kedua, Tiga Serangkai, juga meledak di pasaran. Demikian juga album ketiga, Serai Serumpun. Kaset-kaset itu memberikan penghasilan lumayan besar bagi dirinya.&lt;br /&gt;"Uang dari rekaman kaset pertama saya gunakan untuk beli tanah. Kaset kedua untuk membuat rumah panggung kayu. Penghasilan dari kaset ketiga untuk menikah dengan Asma tahun 1977. Penghasilan selanjutnya untuk menghidupi keluarga," katanya sambil tersenyum mengenang.&lt;br /&gt;Kreativitas seniman itu telah direkam dalam 10 album lebih, masing-masing berisi dua hingga empat lagu. Sebagian besar rekaman berduet dengan Siti Rahmah, yang mahir membawakan pantun-pantun bersahut berbahasa Benawe. Sebelumnya, Sahilin sempat berduet dengan Cek Misah, penyanyi batanghari sembilan yang telah meninggal.&lt;br /&gt;Kaset-kaset Sahilin terus digemari hingga kini. Dia pun tetap manggung di berbagai hajatan meski tak sesering dahulu. Tahun 1970-an sampai 1980-an, dia rata-rata tampil lima kali seminggu. Sejak pertengahan tahun 1990-an, penampilannya menyurut, seiring maraknya hiburan televisi.&lt;br /&gt;Saat ini, dia hanya tampil empat-lima kali sebulan. Apa mau dikata, warga yang punya hajatan lebih suka mengundang hiburan organ tunggal yang dinilai lebih atraktif ketimbang seni tradisional batanghari sembilan.&lt;br /&gt;Sahilin tinggal di Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Gandus, Palembang. Ketiga anak lelakinya juga mahir memetik gitar, tetapi tak bisa membawakan pantun-pantun batanghari sembilan. Oleh karena itu, seni tradisional yang diwarisi dari nenek moyang tersebut terancam bakal berhenti hingga pada Sahilin saja.&lt;br /&gt;"Anak-anak malas menghafal pantun-pantun lama yang dianggap rumit dan panjang. Kalau memikirkan siapa nanti yang mau meneruskan seni batanghari sembilan, saya sering sedih," kata Sahilin. Di luar rumah Sahilin, gerimis telah berubah menjadi hujan yang deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:64.203.71.11/kompas-cetak/0603/27/Sosok/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7706174696366218958-8856619661352415661?l=tradisilisan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tradisilisan.blogspot.com/feeds/8856619661352415661/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7706174696366218958&amp;postID=8856619661352415661' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/8856619661352415661'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7706174696366218958/posts/default/8856619661352415661'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tradisilisan.blogspot.com/2008/02/sahilin-ikon-seni-batanghari-sembilan.html' title='Sahilin, Ikon Seni Batanghari Sembilan'/><author><name>TRADISI LISAN</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04703503508962603835</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7706174696366218958.post-5198462477445415529</id><published>2008-02-20T13:41:00.000+07:00</published><updated>2008-02-20T13:44:14.702+07:00</updated><title type='text'>Saidi Kamaluddin, Aktor Dulmuluk</title><content type='html'>Pria bertubuh tegap ini dilahirkan di Kampung Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan, 68 tahun lalu. Dia merupakan adik kandung seorang aktor Dulmuluk yang sekaligus penggubah cerita Zubaidah Siti, yakni Arjo Kamaluddin. Ujuk Saidi, panggilan akrab Saidi ini, pernah mengecap sekolah rakyat namun tak selesa
